Selasa, 19 Mei 2026

Wajah Baru Indonesia


Memabaca buku Wajah Baru Indonesia di Tanah Arab terasa seperti mendengarkan perjalanan panjang menyusuri jejak orang-orang Indonesia yang diam-diam sukses di Arab Saudi. Selama ini, banyak orang mengenal diaspora Indonesia di Timur Tengah hanya lewat cerita pekerja migran atau ibadah haji dan umrah. Tapi buku ini membuka sudut pandang baru: ternyata banyak anak bangsa yang berkiprah sebagai “pesohor profesional”  insinyur, bankir, pilot, ahli teknologi, kurator seni, hingga atlet di Saudi.

Menarik, buku ini ditulis tidak dengan gaya akademik yang berat dan biasanya sulit dipahami. Wajah Baru Indonesia di Tanah Arab bahasanya ringan, mengalir seperti reportase perjalanan dan obrolan santai. Barangkali karena tulisan ini bersumber pada acara podcast. Sehingga pembaca seolah diajak masuk ke kehidupan para diaspora Indonesia lewat kisah-kisah personal yang hangat dan inspiratif mereka. Kita bukan hanya membaca data atau prestasi, tetapi juga perjuangan, kerinduan pada tanah air, kerja keras, dan mimpi besar mereka di Arab Saudi.

Salah satu kekuatan buku ini adalah cara A.M. Sidqi sebagai penulis memotret Arab Saudi yang modern dan berubah cepat. Selama ini banyak orang membayangkan Saudi hanya identik dengan gurun, minyak, atau kota suci. Tapi melalui buku ini, kita melihat Saudi sebagai negara yang sedang bergerak menuju masa depan digital dengan proyek-proyek raksasa dan peluang besar bagi profesional dunia, termasuk Indonesia.

Kisah-kisah tokohnya juga terasa dekat. Misalnya cerita Aditya Luhut Sibarani, konsultan transportasi yang bermimpi menjadi Menteri Perhubungan RI suatu hari nanti. Atau Andri Hartanto, ahli telekomunikasi yang akhirnya mendapatkan status Premium Residency di Saudi setelah perjalanan panjang karier internasionalnya. Cerita mereka bukan sekadar soal sukses, tetapi tentang keberanian merantau, belajar, dan tetap membawa identitas Indonesia ke mana pun mereka pergi.

Buku ini juga penting karena mencoba mengubah narasi tentang diaspora Indonesia. Jika selama ini berita tentang WNI di luar negeri sering diwarnai kisah pilu, maka buku ini menghadirkan sisi yang membanggakan: diaspora sebagai wajah baru Indonesia yang profesional, kompeten, dan dihormati dunia internasional.

Selain inspiratif, buku ini memberi harapan bagi generasi muda Indonesia. Bahwa anak kampung dari mana pun kita, bisa berkiprah di panggung global. Dunia ternyata lebih luas daripada yang sering kita bayangkan.

Secara keseluruhan, Wajah Baru Indonesia di Tanah Arab adalah buku yang hangat, optimistis, dan penuh energi positif. Cocok dibaca oleh anak muda, mahasiswa, pekerja migran, pencinta dunia internasional, hingga siapa saja yang ingin melihat Indonesia dari sudut yang berbeda. Buku ini membuat kita sadar bahwa di berbagai penjuru dunia, ada banyak orang Indonesia yang sedang bekerja diam-diam menjaga nama baik bangsa.


Dan setelah membaca buku ini, kita mungkin akan berkata:
ternyata wajah Indonesia di luar negeri jauh lebih keren daripada yang selama ini kita lihat di berita.




Rabu, 13 Mei 2026

Maim ke Toko Buku

Selasa 12 Mei 2026 kita semua pergi ke toko Gramedia Serang ayah mencari buku wajah baru Indonesia di tanah Arab karya h.m Sidqi diplomat Indonesia untuk Arab Saudi pada minggu 17 Mei 2026 akan ada bedah buku ayah mencarinya untuk dibaca oleh sayangnya setelah di sana Buku tersebut belum ada 


Kami bertiga kemudian melihat-lihat buku-buku yang ada di Gramedia Serang membaca dan sesekali membaca buku-buku yang sudah lepas segelnya Dita sangat senang dengan buku pop art di rumah tidak ada 









Selasa, 12 Mei 2026

Kelas Menulis Rumah Dunia

Pertemuan Kedua

Minggu 10 Mei 2026. Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 43 menginjak pertemuan yang kedua. Materi yang disampaikan adalah features. Narasumbernya kali ini adalah Hilal Ahmad.

Saya dan Dipta berangkat dari rumah ke Rumah Dunia tepat setelah azan Zuhur. Belum makan, belum salat. Dipta siang itu rewel. Di rumah menangis terus. Salah satu hal yang bisa membuatnya berhenti menangis adalah naik motor. Maka saya langsung mengajaknya ke Rumah Dunia.

Kami mampir dulu di Indomaret untuk membeli onigiri, lalu ke masjid di Kampung Ciloang. Saya salat. Dipta lari-lari di karpet yang luas. Setelah itu, sambil menunggu pukul 14.00 aku menyuapi Dipta hingga kenyang.   

Saat kelas dimulai Dipta tertidur pulas.











Sabtu, 09 Mei 2026

Ngopi Senja #2 Orang Gila Sebelum Menulis Esai

Sabtu, 19 Mei 2026 saya menghadiri acara Kopi Senja #2 di Kedai Searah, Rumah Dunia. Kali ini membahas tentang buku terbaru Encep Abdullah, Orang Gila Sebelum Menulis Esai (Komentar: 2026). 

Pemantik diskusi sore ini adalah Daru Pamungkas, dosen Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten. 
Acaranya sangat meriah peserta merupakan mahasiswa jurusan Komunikasi Penyiaran Islam.










Jumat, 08 Mei 2026

Berkunjung ke Perpustakaan

Ada tempat yang mewah dan mahal yang menawarkan kebahagiaan saat ada di dalamnya, ada tempat sederhana dan sunyi yang menawarkan caranya bahagia saat berada di luarnya. 

Assalamualaikum. 

Anakku, Naradipta Nuansa Bumi 


Nak, tempat kedua yang ayah tulis di atas adalah salah satu tempat favorit ayah dan ibu. Jika kamu sudah tumbuh remaja ayah ingin waktu luangmu digunakan bepergian  ke sana, walau hanya mebacai blurb-blurb saja. 


Seperti hari ini, Sabtu 4 April 2026. Ayah dan ibu mengajakmu ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten. Ayah tidak menuntaskan 1 buku pun. Begitu juga ibu. Kami hanya menarik beberapa buku dari barisannya, membacai judul dan blurbnya, lalu mengajakmu ke ruang anak untuk melihat-lihat gambar di buku.


Mungkin saat ini kamu belum mengerti kenapa tempat seperti ini begitu kami sukai. Tapi semoga suatu hari nanti kamu paham, bahwa membaca bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang. Membaca adalah cara manusia menyalakan cahaya di dalam kepala dan hatinya.


Nak.


Rak-rak buku di beberapa perpustakaan mungkin terlihat biasa saja. Hanya kayu, kertas, dan debu tipis yang sesekali menempel di sampul buku. Tapi sebenarnya, di sana ada ribuan cerita kehidupan yang sedang menunggu kamu selami. Ada orang-orang yang menitipkan pikirannya agar bisa ditemukan oleh orangmu, bahkan puluhan tahun setelah penulisnya tiada.


Saat menyelami cerita atau menjumpai pemikiran para penulis, maka kamu sedang diajak untuk berjalan pada dimensi yang lain. Kamu bisa berjalan ke tempat-tempat yang belum pernah kamu datangi, mengenal orang-orang yang tidak pernah kamu temui, bahkan memahami perasaan yang belum pernah kamu rasakan sendiri.


Dan ingat, Nak!


"Jangan pernah membaca karena karna ingin dianggap pintar, bacalah karena kamu mau membaca, dan dengan sendirinya kamu akan jadi pintar," Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie


Ayah setuju dengan penulis Ziggy. Dia salah satu penulis yang nanti karya-karyanya harus kamu baca. Buku-bukunya menjadi koleksi perpustakaan ayah dan ibu di rumah.


Nak.


Orang yang membaca demi dipuji biasanya hanya sibuk menghafal kata-kata. Tapi orang yang membaca karena ingin, perlahan akan tumbuh seperti akar pohon: diam, tidak banyak terlihat, tapi kuat menopang dirinya sendiri.


Membaca itu proses, ia tidak seperti hujan deras yang langsung membuat tanah basah. Kadang ia datang seperti embun; pelan, sedikit demi sedikit, tapi membuat sesuatu di dalam dirimu tetap hidup.


Mungkin nanti kamu akan menemukan buku yang membuatmu tertawa. Ada juga buku yang membuatmu marah, bingung, atau diam lama setelah halaman terakhir selesai. Simpan semua perasaan itu baik-baik, karena itulah tanda bahwa sebuah bacaan sedang bekerja di dalam kepalamu.


Kelak, ketika hidup terasa ramai dan melelahkan, semoga kamu selalu punya kebiasaan sesederhana membaca buku. Sebab buku sering kali menjadi tempat manusia pulang tanpa harus pergi ke mana-mana.


















 

Ngopi Senja #1 Timur dari Masa Lalu

Hari ini Sabtu, 2 Mei 2026 saya bersama Naradipta Nuansa Bumi (Dipta ) menghadiri bedah buku Toto ST Radik dalam acara Ngopi Senja #1 di Kedai Searah, Rumah Dunia.

Meski acara dimulai pukul 16.00 sore menjelang senja, tapi pembahasan tentang puisi Timur dari Masa Lalu (Langgam Pustaka:2026) begitu hangat disampaikan oleh pemantik diskusi Wahyu Arya, penyair yang juga jurnalis bantennews.co.id

Alhamdulillah dalam waktu 30 menit Dipta tenang tidak rewel. Dia duduk santai di pangkuan sesekali juga tidur-tiduran. Berbekal buku bacaan bermutu bantuan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. 

Timur dari Masa Lalu diinterpretasikan oleh Wahyu Arya sebagai bentuk keresahan seseorang (dalam hal ini aku liris dalam puisi) yang mencari atau mempertanyakan tentang eksistensial dirinya. Si Aku sangat gelisah tentang siapa dirinya, dari mana dia berasal, di mana dia tinggal dan akan ke mana tujuannya?

"Pertanyaan-pertanyaan itulah yang ingin dicari Si Aku dalam buku puisi Timur dari Masa Lalu. Kenapa semua itu ingin dicari? Karena Si Aku gelisah tentang kesejatian eksistensinya. Keresahan dan kegelisahan eksistensial Si Aku disampaikan melalui bahasa puisi," jelas Wahyu.

Namun pada akhirnya. Hingga kita sudah habis melahap 40 (untuk jumlah puisi penulis fleksibel bole dikatakan 40 atau 1, sebab sejatinya itu 1 kesatuan utuh) puisi yang ada dalam buku ini, kita tidak pernah menemukannya. Bahkan Si Aku juga tidak pernah final menjawab siapa dari mana dan ke mana tujuan Si Aku ini. Kita tidak bisa menemukan dengan pasti jawabannya.

Wahyu juga menjelaskan bahwa “timur” dalam puisi-puisi Toto ST Radik bukanlah timur geografis, tapi filosofis. Itulah salah satu yang membuat buku puisi Timur dari Masa Lalu itu menarik. Banyak hal yang harus digali satu demi satu untuk mengungkap makna puisinya.

Menurut Wahyu, Timur dari Masa Lalu merupakan puisi yang sangat reaktif terhadap isu-isu sosial yang terjadi. Penulis berusaha merespons peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan lirik-lirik melankolis, jauh dari optimisme, tapi tetap reflektif.  Wahyu mengatakan bisa jadi Si Aku dalam puisi itu adalah kita.    

Acara selesai menjelang azan Magrib berkumandang. Para peserta diskusi saya yakin mendapatkan wawasan yang banyak dari diskusi sore ini. Saya bersama Dipta kemudian pulang menuju utara Kota Serang. 








 

Ledakkan Idemu Sebelum Kepalamu Meledak

Ledakkan Idemu Sebelum Kepalamu Meledak, saya lupa bagaimana tepatnya mendapatkan buku ini, yang jelas tahun 2014. Entah itu sebagai buku pegangan Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 23 atau dapat dari "sembako buku" yang dibagi-bagikan kepada para peserta Jambore TBM di Rumah Dunia di tahun yang sama.

Sebagai peserta pelatihan menulis yang ingin bisa menulis, saya membacanya pelan-pelan. Buku bertebal 93 halaman ini saya habiskan dalam dua hari. Saya membaca versi cetakan keduanya yang terbit Februari 2014. Sampulnya didominasi warna hijau yang memuat wajah Gol A Gong dikelilingi buku-buku. Cetakan pertama buku ini Mei 2010.  

Kabarnya Mei 2026 buku ini akan naik cetak untuk kali ketiga. Selamat Mas Gol A Gong. Saya ikut senang karena buku ini menjadi koleksi perpustakaan di rumah saya, juga tentunya pernah mengisi pikiran, hari dan hati saya.

Buat kalian yang ini membaca buku ini, saya sarankan membaca buku ini dalam keadaan tenang dan santai. Sore menuju magrib sambil ditemni secangkir teh misalnya. Sebab dulu saat saya membaca buku ini terasa seperti berada di teras rumah sambil mendengarkan seorang penulis senior bercerita tentang hidupnya—jujur, hangat, kadang lucu, kadang juga bikin dada sesak. Buku ini tidak berisi teori menulis yang penuh istilah rumit. Justru sebaliknya, buku ini mengajak pembaca masuk ke dapur kreatif seorang penulis lewat pengalaman empirik penulis yang riil apa adanya. Tidak dibuat-buat apalgi lebay.

Hal yang paling saya suka dari buku ini adalah cara Gol A Gong bercerita. Gaya bahasanya ringan, mengalir, dan terasa akrab. Seolah-olah sedang ngobrol langsung dengan pembaca. Kita diajak melihat bagaimana perjalanan seorang anak kampung dari Serang yang penuh keterbatasan, kehilangan tangan kirinya, tapi tidak kehilangan mimpi. Dari situlah buku ini punya tenaga emosional yang kuat.

Bagian tentang masa kecil, perjalanan ke Palmerah, perjuangan membawa naskah Balada Si Roy ke majalah HAI, sampai cerita membeli tangan palsu demi menjaga rasa percaya diri—semuanya terasa sangat manusiawi. Tidak dibuat-buat. Ada semangat “kalau orang lain bisa, saya juga harus bisa” yang terus menyala di setiap halamannya.

Saya juga menikmati bagaimana buku ini tidak hanya bicara soal menulis, tetapi soal cara memandang hidup. Ide, menurut Gol A Gong, bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Ide ada di jalanan, di perjalanan, di obrolan dengan ibu, di terminal, di pasar, bahkan di luka hidup kita sendiri. Itu yang membuat buku ini terasa dekat dengan siapa saja—bukan hanya calon penulis.

Ada satu kesan yang cukup membekas: buku ini seperti sedang berkata bahwa menulis bukan soal bakat semata, melainkan soal keberanian untuk memulai dan ketekunan untuk terus berjalan.

Hal lain yang menjadi kekuatan buku ini adalah catatan memoar panjang dibanding buku panduan praktis menulis. Jadi, pembaca tidak merasa sedang digurui saat membacanya, melainkan diajak memahami proses kreatif secara alami. Kita belajar menulis sambil ikut berjalan bersama pengalaman hidup penulisnya.

Bagi saya buku ini cocok dibaca oleh pelajar yang ingin mulai menulis,penulis pemula yang sering minder, bahkan orang yang sedang kehilangan semangat hidup yang tidak punya niatan menulis. Buku ini bukan sekadar buku motivasi menulis. Ini buku tentang bertahan hidup melalui kata-kata.

Setelah membaca buku ini, saya merasa satu hal: kadang kepala kita memang penuh ide, penuh keresahan, penuh mimpi. Dan memang benar kata Gol A Gong: cara terbaik agar kepala tidak meledak adalah menuliskannya.

Kalau kalian ingin punya juga, silakan pesan. Sekarang sedang masa pra pesan. Ayo jangan sampai ketinggalan. Hubungi nomor yang ada di poster!















ini penampakan cover buku cetakan ketiganya.

(ini penampakan cover buku cetakan ketiganya). 



 

 












Sabtu, 02 Mei 2026

Rekomendasi Buku Untuk Bupati Lebak

Oleh Rudi Rustiadi

Presiden komunitas Rumah Dunia 2025-2030.

Selasa (31/3) lalu saya berkunjung ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten. Kunjungan ini tidak saya rencanakan sebelumnya, hanya iseng untuk mencari hiburan di ruang yang sejuk. Sambil berharap menemukan buku penghilang penat setelah bermacet-macetan saat pulang mudik lebaran dari Kabupaten Kuningan. Awalnya saya mencari buku yang ringan seperti novel atau kumpulan cerpen. Tapi nyatanya saya malah tertarik pada rak buku 100-199 yang dipenuhi buku-buku epistemologi, psikologi, etika, logika dan sejenisnya.

Setelah melihat-lihat, akhirnya saya mengambil buku Bicara Itu Ada Seninya (BIP: 2019) karya Oh Su Hyang. Dalam buku ini dijelaskan bahwa kata-kata punya kekuatan besar. Ucapan bisa menyembuhkan juga bisa melukai. Cara bicara menentukan hubungan seseorang dengan orang lain. Oh juga menuliskan bahwa ucapan adalah sarana penting untuk menilai seseorang secara keseluruhan. Seperti yang dituliskan Oh di halaman 7 bukunya: Dari ucapan kita menerima kesan baik dari lawan bicara.... Jadi, berbicara bukan hanya yang seseorang katakan tapi, bagaimana seseorang tersebut mengatakannya.

Dari buku ini, saya juga mendapatkan pembelajaran bahwa nilai seseorang dinilai ketika berbicara. Selain itu juga empati dalam berbicara, dengan  memahami perasaan lawan bicara. Intinya buku ini menyampaikan jangan asal bicara tanpa memikirkan dampaknya. Berbicara bukan sekadar benar tapi harus bijak dan tepat.

Maka, mengontrol emosi saat bicara menjadi bagian penting. Jangan bicara saat marah dan hindari kata-kata yang menyakiti, sebab sekali kata-kata menyakiti terucap sulit ditarik kembali dari hati. Tiga detik di bibir sama dengan tiga puluh tahun di hati, begitu tulis Oh di halaman 143 bukunya. Membaca buku ini mengajarkan saya bahwa berbicara bukan sekedar keterampilan, tapi seni mengelola hati, emosi dan hubungan.

Saya kemudian membaca buku lain di rak 300-399 yang memuat buku-buku statistik, ilmu politik, hukum, komunikasi, etiket dan sejenisnya. Saya memilih buku Etika Komunikasi (Kencana: 2023) yang ditulis oleh Hafied Cangara. Dalam buku tersebut dituliskan bahwa berbicara itu tidak asal mengeluarkan bunyi, tapi harus memahami beberapa elemen-elemen penting pendukungnya. Lebih spesifik lagi buku tersebut memuat tentang dasar-dasar komunikasi.

Salah satu bagian penting yang juga menjadi pembahasan buku ini adalah etika komunikasi, baik ketika terlibat dalam pembicaraan biasa sehari-hari maupun dalam komunikasi publik. Hafied menuliskan bahwa seseorang yang sedang berbicara harus jujur, menjaga hubungan baik, tidak menyesatkan audience, menghargai perbedaan, tidak melanggar privasi, tidak menciptakan kebencian dan seterusnya. Intinya adalah menghormati audience atau lawan bicara. Mereka (lawan bicara) adalah seseorang yang punya pikiran, perasaan dan latar belakang serta hak untuk diperlakukan dengan baik. Menghormati audience adalah menganggap mereka sebagai “manusia”.

Ketika berbicara khususnya di depan publik, maka anggaplah para pendengar itu heterogen, berbeda budaya, pendidikan, agama serta pengalaman hidup. Sehingga pembicara harus berhati-hati. Hindari candaan yang sensitif tentang, ras, fisik, ekonomi, agama hingga empirik pribadi seseorang. Saat berbicara seseorang dianjurkan tidak membuat contoh, sindiran juga humor yang menyinggung individu atau kelompok tertentu. Kecuali jika itu memang disengaja.

Pada bagian tertentu Hafied juga menuliskan di halaman 246, seseorang harus memiliki rasa empati saat berkomunikasi, kemampuan seseorang untuk mengetahui apa yang sedang dialami orang lain pada satu saat tertentu, dari sudut pandang orang lain tersebut. Pentingnya empati tersebut agar tujuan dari komunikasi berjalan dengan baik yaitu membentuk pribadi yang asertif, menjaga hubungan, saling pengertian serta bertanggung jawab. Maka Berbicaralah dengan integritas, empati dan kesadaran sosial. Sebab bicara bukan hanya bunyi, tapi juga terikat dengan elemen lain: niat, sikap dan tanggung jawab.

Berbicara tentang komunikasi publik, minggu ini sedang hangat pemberitaan juga pembicaraan netizen di media sosial tentang pidato atau sambutan Bupati Lebak,  Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya dalam acara halal bihalal Idulfitri 1447 H. Momen yang seharusnya menjadi ajang silaturahmi berubah menjadi ketegangan ketika Bupati Lebak “menyenggol” status sosial wakilnya, Amir Hamzah di hadapan para pejabat Aparatur Sipil Negara Pemerintah Kabupaten Lebak.

Uyuhan mantan napi jadi Wakil Bupati,” kata Hasbi dalam Bahasa Sunda, seperti yang diberitakan Harian Kabar Banten pada Selasa (31/3). Kata-kata yang keluar dari mulut Hasbi seperti petasan yang meledak begitu nyaring dan menyisakan pengang di telinga Amir Hamzah. Diberitakan juga Amir Hamzah sampai walk out dari tempat acara.

Peristiwa Bupati Lebak ini menjadi pengingat bahwa ruang publik bukan hanya tempat berbicara, tapi juga ruang menjaga perasaan banyak orang. Apa yang dianggap ringan oleh satu pihak, bisa menjadi berat bagi pihak lain. Hasbi beruntung, reaksi Amir Hamzah tidak seperti Will Smith saat dipermalukan Chris Rock di atas panggung Oscar tahun 2022 lalu.

Menurut sepuluh aturan komunikasi yang ditulis Oh Su Hyang di buku pertama yang saya baca, Hasbi melanggar setidaknya empat  aturan: (aturan ke-4) Berkata yang menenangkan hati, bukan sekadar enak di dengar. (Aturan ke-5) Katakan yang ingin didengar lawan bicara, bukan yang ingin diutarakan. (Aturan ke-6) Berbicara dengan menutupi aib dan sering memuji. (Aturan ke-7) berbicara hal-hal yang menyenangkan bukan yang menyebalkan.

Jika dinilai dari buku Oh Su Hyang Hasbi bisa dikategorikan tidak menghargai audience saat di atas podium. Hal ini sangat disayangkan, pasalnya Hasbi adalah seorang public figure juga kepala daerah. Apa yang dilontarkan Hasbi juga bertolak belakang dengan maksud dan tujuan diselenggarakannya acara. Pesan dari seorang pemimpin yang seharusnya membuat sejuk dan mempererat silaturahmi justru dirasakan sebaiknya.

Saya rasa penting rasanya kepala daerah atau public figure lainnya seperti Hasbi—ataupun pejabat publik lainya seperti Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia yang juga ramai diperbincangkan akibat ucapannya—memiliki  kecerdasan humaniora. Agar ketika berbicara di depan publik lebih mengedepankan substansi daripada sindiran atau hal yang tidak perlu. Dalam buku Bicara Itu Ada Seninya, Oh mengingatkan, ucapan yang tidak dilandasi dengan ilmu humaniora akan seperti tanah kosong. Isilah dengan ilmu-ilmu humaniora agar tanah itu berubah menjadi hutan yang subur, yang membuat inspirasi, kearifan, dan wawasan menari-nari di dalamnya. Ilmu humaniora tidaklah sulit. Anda hanya perlu punya hobi membaca, tulis Oh.

Maka dalam tulisan sederhana ini, untuk Bupati Lebak, Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya saya merekomendasikan dua buku ini untuk dibaca saat waktu senggang. Sebagai langkah awal untuk kemudian punya hobi membaca.[]