Oleh Rudi Rustiadi
Presiden komunitas Rumah Dunia 2025-2030.
Selasa (31/3) lalu saya berkunjung ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten. Kunjungan ini tidak saya rencanakan sebelumnya, hanya iseng untuk mencari hiburan di ruang yang sejuk. Sambil berharap menemukan buku penghilang penat setelah bermacet-macetan saat pulang mudik lebaran dari Kabupaten Kuningan. Awalnya saya mencari buku yang ringan seperti novel atau kumpulan cerpen. Tapi nyatanya saya malah tertarik pada rak buku 100-199 yang dipenuhi buku-buku epistemologi, psikologi, etika, logika dan sejenisnya.
Setelah melihat-lihat, akhirnya saya mengambil buku Bicara Itu Ada Seninya
(BIP: 2019) karya Oh Su Hyang. Dalam buku ini dijelaskan bahwa kata-kata punya
kekuatan besar. Ucapan bisa menyembuhkan juga bisa melukai. Cara bicara
menentukan hubungan seseorang dengan orang lain. Oh juga menuliskan bahwa
ucapan adalah sarana penting untuk menilai seseorang secara keseluruhan.
Seperti yang dituliskan Oh di halaman 7 bukunya: Dari ucapan kita menerima
kesan baik dari lawan bicara.... Jadi, berbicara bukan hanya yang seseorang
katakan tapi, bagaimana seseorang tersebut mengatakannya.
Dari buku ini, saya juga mendapatkan pembelajaran bahwa nilai seseorang
dinilai ketika berbicara. Selain itu juga empati dalam berbicara, dengan
memahami perasaan lawan bicara. Intinya buku ini menyampaikan jangan asal
bicara tanpa memikirkan dampaknya. Berbicara bukan sekadar benar tapi harus
bijak dan tepat.
Maka, mengontrol emosi saat bicara menjadi bagian penting. Jangan bicara
saat marah dan hindari kata-kata yang menyakiti, sebab sekali kata-kata
menyakiti terucap sulit ditarik kembali dari hati. Tiga detik di bibir sama
dengan tiga puluh tahun di hati, begitu tulis Oh di halaman 143 bukunya.
Membaca buku ini mengajarkan saya bahwa berbicara bukan sekedar keterampilan,
tapi seni mengelola hati, emosi dan hubungan.
Saya kemudian membaca buku lain di rak 300-399 yang memuat buku-buku
statistik, ilmu politik, hukum, komunikasi, etiket dan sejenisnya. Saya memilih
buku Etika Komunikasi (Kencana: 2023) yang ditulis oleh Hafied Cangara. Dalam
buku tersebut dituliskan bahwa berbicara itu tidak asal mengeluarkan bunyi,
tapi harus memahami beberapa elemen-elemen penting pendukungnya. Lebih spesifik
lagi buku tersebut memuat tentang dasar-dasar komunikasi.
Salah satu bagian penting yang juga menjadi pembahasan buku ini adalah
etika komunikasi, baik ketika terlibat dalam pembicaraan biasa sehari-hari
maupun dalam komunikasi publik. Hafied menuliskan bahwa seseorang yang sedang
berbicara harus jujur, menjaga hubungan baik, tidak menyesatkan audience,
menghargai perbedaan, tidak melanggar privasi, tidak menciptakan
kebencian dan seterusnya. Intinya adalah menghormati audience atau lawan
bicara. Mereka (lawan bicara) adalah seseorang yang punya
pikiran, perasaan dan latar belakang serta hak untuk diperlakukan dengan baik.
Menghormati audience adalah menganggap mereka sebagai “manusia”.
Ketika berbicara khususnya di depan publik, maka anggaplah para pendengar
itu heterogen, berbeda budaya, pendidikan, agama serta pengalaman hidup.
Sehingga pembicara harus berhati-hati. Hindari candaan yang sensitif tentang,
ras, fisik, ekonomi, agama hingga empirik pribadi seseorang. Saat berbicara
seseorang dianjurkan tidak membuat contoh, sindiran juga humor yang menyinggung
individu atau kelompok tertentu. Kecuali jika itu memang disengaja.
Pada bagian tertentu Hafied juga menuliskan di halaman 246, seseorang harus
memiliki rasa empati saat berkomunikasi, kemampuan seseorang untuk mengetahui
apa yang sedang dialami orang lain pada satu saat tertentu, dari sudut pandang
orang lain tersebut. Pentingnya empati tersebut agar tujuan dari komunikasi
berjalan dengan baik yaitu membentuk pribadi yang asertif, menjaga hubungan,
saling pengertian serta bertanggung jawab. Maka Berbicaralah dengan integritas,
empati dan kesadaran sosial. Sebab bicara bukan hanya bunyi, tapi juga terikat
dengan elemen lain: niat, sikap dan tanggung jawab.
Berbicara tentang komunikasi publik, minggu ini sedang hangat pemberitaan
juga pembicaraan netizen di media sosial tentang pidato atau sambutan
Bupati Lebak, Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya dalam acara halal bihalal
Idulfitri 1447 H. Momen yang seharusnya menjadi ajang silaturahmi berubah
menjadi ketegangan ketika Bupati Lebak “menyenggol” status sosial wakilnya,
Amir Hamzah di hadapan para pejabat Aparatur Sipil Negara Pemerintah Kabupaten
Lebak.
“Uyuhan mantan napi jadi Wakil Bupati,” kata Hasbi dalam Bahasa
Sunda, seperti yang diberitakan Harian Kabar Banten pada Selasa (31/3).
Kata-kata yang keluar dari mulut Hasbi seperti petasan yang meledak begitu
nyaring dan menyisakan pengang di telinga Amir Hamzah. Diberitakan juga Amir
Hamzah sampai walk out dari tempat acara.
Peristiwa Bupati Lebak ini menjadi pengingat bahwa ruang publik bukan hanya
tempat berbicara, tapi juga ruang menjaga perasaan banyak orang. Apa yang
dianggap ringan oleh satu pihak, bisa menjadi berat bagi pihak lain. Hasbi
beruntung, reaksi Amir Hamzah tidak seperti Will Smith saat dipermalukan Chris
Rock di atas panggung Oscar tahun 2022 lalu.
Menurut sepuluh aturan komunikasi yang ditulis Oh Su Hyang di buku pertama
yang saya baca, Hasbi melanggar setidaknya empat aturan: (aturan ke-4)
Berkata yang menenangkan hati, bukan sekadar enak di dengar. (Aturan ke-5)
Katakan yang ingin didengar lawan bicara, bukan yang ingin diutarakan. (Aturan
ke-6) Berbicara dengan menutupi aib dan sering memuji. (Aturan ke-7) berbicara
hal-hal yang menyenangkan bukan yang menyebalkan.
Jika dinilai dari buku Oh Su Hyang Hasbi bisa dikategorikan tidak
menghargai audience saat di atas podium. Hal ini sangat disayangkan,
pasalnya Hasbi adalah seorang public figure juga kepala daerah. Apa yang
dilontarkan Hasbi juga bertolak belakang dengan maksud dan tujuan
diselenggarakannya acara. Pesan dari seorang pemimpin yang seharusnya membuat
sejuk dan mempererat silaturahmi justru dirasakan sebaiknya.
Saya rasa penting rasanya kepala daerah atau public figure lainnya
seperti Hasbi—ataupun pejabat publik lainya seperti Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral, Bahlil Lahadalia yang juga ramai diperbincangkan akibat ucapannya—memiliki
kecerdasan humaniora. Agar ketika
berbicara di depan publik lebih mengedepankan substansi daripada sindiran atau
hal yang tidak perlu. Dalam buku Bicara Itu Ada Seninya, Oh mengingatkan,
ucapan yang tidak dilandasi dengan ilmu humaniora akan seperti tanah kosong.
Isilah dengan ilmu-ilmu humaniora agar tanah itu berubah menjadi hutan yang
subur, yang membuat inspirasi, kearifan, dan wawasan menari-nari di dalamnya.
Ilmu humaniora tidaklah sulit. Anda hanya perlu punya hobi membaca, tulis Oh.
Maka dalam tulisan sederhana ini, untuk Bupati Lebak, Mochamad Hasbi
Asyidiki Jayabaya saya merekomendasikan dua buku ini untuk dibaca saat waktu
senggang. Sebagai langkah awal untuk kemudian punya hobi membaca.[]