Sabtu, 08 Agustus 2020

Kado Buat (Calon Penyair) Djoe Taufik

 

Kado Buat (Calon Penyair) Djoe Taufik 

(Fresh Graduate yang Sedang Merayakan Ulang Tahunnya yang ke-24)

 

Menulis puisi itu tidak sulit, tapi menjadi penyair itu tidak gampang. Satu kalimat dari Imam Budhi Santosa itu jika ditafsirkan secara serampangan, oleh orang awam dalam dunia perpuisian seperti saya, barangkali maknanya bisa begini; siapa saja bisa menulis puisi, tapi sedikit yang menulisnya dengan baik layaknya seorang penyair.

Banyak penyair mengatakan bahwa menulis puisi bukan perkara mudah; butuh permenungan yang lama, pemilihan diksi yang selektif, menemukan kebaruan frasa, memperhitungkan kedalaman makna, dan banyak lagi hal-hal lain yang mesti diperhatikan seorang penyair. Tapi tidak sedikit juga yang menyatakan menulis puisi itu sesederhana menyeduh kopi instan; puisi hari ini sudah sangat bebas dan seringkali menabrak kaidah-kaidah yang dulu dibuat, bahkan beberapa puisi menghancurkan definisi puisi itu sendiri; contohnya menulis puisi kini sudah lepas dari rima dan keteraturan baitnya. Bebas!

Beberapa hari lalu saya disodorkan sebuah buku kumpulan puisi Fragmen Awal karya Djoe Taufik.  Saya bukan penulis puisi tapi menolak bukan pilihan bijak. Dengan cover merah bergradasi puih itu nampaknya Djoe Taufik sedang berada di puncak semangat. Berani? Bisa demikian, tapi saya melihat merah pada cover Fragmen Awal justru bukan sebuah keberaian (dalam melahirkan sebuah karya) tapi kenekatan, yang juga diakui Djoe Taufik dalam prakata dalam buku ini.

Sebelum menerbitkan buku kumpulan puisi terbarunya ini, puisi-puisi Djoe Taufik sudah terlebih dahulu tergabung dalam beberapa buku antologi puisi; Kunanti Kau di Sudut Senja (Titik Embun: 2018), Bersama Kata (Gong Publishing: 2018), Dari Balik Batu-Batu (Nulisbuku: 2019), Kuterima Dukamu (Lumbung Banten: 2020) Majalah Sastra Kandaga (Kantor Bahasa Banten: 2020). Barangkali jejak-jejak inilah yang melatarbelakangi keberanian (baca: kenekatan) Djoe Taufik dalam menerbitkan buku kumpulan puisi. Keberanian itu jugalah yang kemudian menjadikan Djoe Taufik seperti orang kebelet. Terburu-buru. 

 

Meski dimaksudkan untuk merayakan hari kelahiran dan prosesi wisuda, sebagai orang yang mafhum dalam dunia perbukuan Djoe Taufik tidak semestinya menerbitkan buku dengan tergesa-gesa. Penting bagi seorang penulis memberikan identitas dan kualitas pada karya yang ia tulis, termasuk Djoe Taufik, menjadi kurang bijak jika seorang penulis mengabaikan keduanya. Tapi lagi-lagi sepertinya sulit bagi Djoe Taufik untuk tidak menerbikan buku sekarang ini, dengan semangatnya juga kegembiraannya yang sedang meletup-letup.

Begitulah kesan saya terhadap buku puisi Fragmen Awal. Lalu bagaimana dengan puisi-puisi di dalamnya. Secara umum puisi-puisi itu lahir dari peristiwa-peristiwa yang dialami penyair dari tahun 2013 hingga 2020 yang bisa dilihat dari titi mangsanya; dari mulai nyantri (sekolah), hingga kuliah dan lulus, satu puisi lahir dan dipersembahkan untuk Gol A Gong, yaitu puisi Bolehkah. Akan terlalu banyak kata jika harus membahas 61 puisi Djoe Taufik satu-persatu. Puisi di bawah ini adalah puisi yang saya temukan secara acak saat akan coba bahas secara teknis dan tehnik dalam kepenulisannya.

 

SEMPAK MERAH

 

sudah lama aku tidak pakai sempak

celana yang kupakai selalu bermasalah

sempak simbol kependudukan

 

aku coba membuat sempak

mencari bahan ke anyar

aku bayar 50 ribu untuk prosesnya

tapi bahan itu dimakan tikus

oh tikus sialan

 

ingin rasanya kutelanjang

menikmati kebebasan warga dunia

merasakan keindahan sistem

pemerintahan dengan senyuman

 

Serang, 21.02.2020

 

Puisi naratif (menceritakan peristiwa berdasarkan urutan waktu) yang ditulis oleh Djoe Taufik dengan judul Sempak Merah di atas, jika dibaca selintasan, puisi tersebut ditulis dengan spontanitas. Puisi itu tercipta begitu saja untuk melepaskan emosi (perasaan) setelah penyair mengalami satu peristiwa yang (entah itu) lucu, menjengkelkan, menyedihkan atau perasaan lainnya. Puisi tersebut belum sampai pada dua makna definisi puisi yang disampaikan Wordsworth, bahwa puisi merupakan the spontaneous overflow of powerful meaning. Pada puisi ini Djoe Taufik baru sampai pada definisi pertama (spontaneus overflow) yang diiringi dengan luapan emosi yang sulit disembunyikan dalam diksi; sialan, kebebasan, keindahan, dan senyuman. Djoe Taufik melupakan makna kedua (powerful meaning), tentang kedalaman makna, pesan dan pengendalian emosi yang semestinya diimajinasikan (disembunyikan) dalam bentuk frasa atau kalimat yang lain, jika kata almarhum eyang Sapardi; Bilang Begini Maksudnya Begitu.

 Peristiwa yang terjadi dalam puisi ini, si aku liris menggambarkan dirinya yang tidak memiliki tanda kependudukan, dan itu sering menjadi masalah bagi dirinya saat melakukan aktivitas yang menuntut untuk menunjukan tanda data diri. Kemudian si aku liris mencoba untuk membuatnya, prosesnya ia tempuh dari mengumpulkan syarat-syaratnya hingga ke Anyar (tempat lahir penulis, saat itu penulis sedang kuliah dan tinggal di Kota Serang). Hingga kemudian proses administratif, menuntut si aku mengelurkan sejumlah uang, namun rupanya gagal. Si aku kemudian marah, dan objeknya adalah “tikus sialan” yang tak lain adalah petugas pembuat tanda kependudukan. Pada bait selanjutnya si aku “kalah” dan pasrah oleh keadaan yang dialaminya, hingga muncullah harapan-harapan, akumulasi dari peristiwa-peristiwa yang terjadi padanya.

 Dari metafor atau simbolisasi yang dibuat oleh Djoe Taufik melalui aku liris dari puisi Sempak Merah. Diksi “merah” pada frasa “sempak merah” bisa pembaca (saya) asumsikan itu adalah perasaan jengkel atau marah, dengan merujuk kata “sialan” pada larik kedelapan di bait kedua. Sedangkan diksi “sempak” makna sesungguhnya “dibocorkan” Djoe Taufik pada larik ketiga /sempak simbol kependudukan/. Lalu apa yang dimaksud dengan simbol kependudukan? Bisa apa saja; paspor, Kartu Tanda Penduduk, Karu Keluarga dan simbol-simbol lainnya. Jadi Si Penyair pada puisi ini sedang marah kepada simbol kependudukan? Wallahua’lam. Silakan lihat larik-larik senjajutnya dalam puisi ini!

 Dalam puisi ini, Djoe Taufik tanpa tedeng aling-aling menusuk pada objek yang menjadi temanya; tanda atau simbol kependudukan. Puisi dengan 12 larik dan 3 bait ini, diksi dan frasanya tidak banyak menampilkan kebaruan. Selain itu, jika benar yang dimaksud dengan “sempak” adalah tanda atau simbol kependudukan, mengapa penyair menuliskan kalimat /ingin rasanya kutelanjang/? Jika benar, maka “telanjang” (menaggalkan seluruh pakaian), bisa diartikan dengan menanggalkan simbol-simbol kependudukan seperti paspor, KTP dan lain sebagainya. Tapi di larik selanjutnya “si aku” ingin /menikmati kebebasan warga dunia /merasakan keindahan sistem/ pemerintahan denan senyuman/. Bagaimana mungkin seseorang menikmati kebebasan menjadi warga dunia (berpindah dari negara ke negara lain) tanpa tanda kependudukan atau identitas diri. Bagi saya bait ketiga dalam puisi ini dalah paradoks yang sempurna untuk melemahkan puisi, dan menghancurkan kesempurnaan puisi itu sendiri.

 Dalam puisi ini saya merasakan bahasa (diksi, frasa dan kalimat) keseharian yang biasa-biasa saja, yang dibuat dengan sangat sederhana. Dari puisi di atas juga saya merasakan penyair (Djoe Taufik) kurang giat, untuk mencari dan membuat kebaruan frasa juga metafor. Misalkan pada metafor “tikus” yang pada puisi ini jelas dikonotasikan sebagai orang dengan prilaku rakus (sebut saja korup).  Kata “tikus” sudah sangat umum untuk mendeskripsiakn itu.

 

Membaca buku kumpulan puisi Fragmen Awal karya Djoe Taufik ini, saya merasa Djoe Taufik (belum dewasa dan) terus tumbuh dalam menulis puisi. Hal itu terlihat dari puisi-puisisnya pada tahun 2013, yang terus mengalami perubahan (lebih baik) jika dibandingkan dengan tahun 2020. Dengan berat hati saya harus mengakui Djoe Taufik belum mencapai kematangan sebagai seorang penyair. Maka untuk menuju maturitas tersebut, Djoe Taufik mesti terus tumbuh dengan bacaan, pengalaman serta pengetahuan sebagai suplemen untuk melahirkan puisi-puisi berikutnya.  

Oh, iya, puisi “Sempak Merah” di atas hanya satu contoh puisi, bukan berarti merepresentasikan keseluruhan puisi-pusi dalam Fragmen Awal. Lalu bagaimana dengan puisi-puisi lainnya? Silakan Anda baca dan tafsir sendiri. Hubungi Djoe Taufik di Instagram atau Facebook untuk tahu bagaimana cara mendapatkan buku ini, lalu bacalah!

Penulis; Rudi Rustiadi, mahasiswa yang dituntut untuk segera lulus kuliah sebelum covid-19 berakhir dan situasi menjadi normal kembali.

Rabu, 14 November 2018

Di Bawah Pohon Kersen

Di Bawah Pohon Kersen
Cerpen Rudi Rustiadi

Kusibakkan tirai jendela sedikit. Citra abah muncul dalam pandangan. Ia menyilangkan kaki di atas lincak. Matanya tajam dan awas mendelik murid-muridnya berlatih. Sesekali abah memberikan aba-aba sembari menendang kaki muridnya jika posisi kuda-kudanya tidak sigap menerima serangan.
Sekedip kemudian abah membakar ujung kreteknya. Sececah cahaya muncul, kumis tebal dan raut wajah penuh ketegasan dengan garis rahang kokoh samar terlihat di kegelapan, kemudian kembali lesap. Paras yang melahirkan gidik dan ciut nyali pada setiap tengkuk orang yang melihatnya. Paras itu kembali hadir dalam remang kemerahan bila abah menghisap kereteknya. Paras yang mengingatkanku pada satu malam.
***
Malam nahas yang kacau. Suara vas pecah memutus tidurku. Aku tergegau. Di ambang pintu kamarku kulihat abah menuding-nuding wajah ibu yang basah oleh simbah airmatanya.
“Pergi!” Laung abah.
Serta-merta airmataku ikut buyar. Aku rengek meminta ikut dengan ibu tapi abah menahanku. Tangan kiriku ditarik ibu sedang lainya dalam genggaman abah. Ia amat kalap, tonus rahangnya tertarik, nadi di lehernya menonjol, matanya nyalang memerah. Tangan abah mengayun deras ke pipi ibu lalu mendorongnya hingga tersungkur. Aku gidik menyaksikannya. Ibu meringis memegangi wajah manainya.
Aku berlari medekali ibu, tapi sekali lagi abah menghalangiku. Aku memaksa. Sial menjadi temanku malam itu, telapak tangan pejal abah mendarat kencang di wajahku. Ibu pergi tapi amukan abah tak kunjung redam. Abah menyambar bingkai di atas lemari lalu membantingnya. Sibiranya burai berserakan. Aku masuk ke kamar, tersedu-sedan di balik pintu. Malam itu aku menampung berlimpah amarah. Aku dengki dengan pria yang sejak kecil kupanggil abah itu. Aku tak lagi mau belajar catrok, totog atau seliwa. Tak lagi manut. Membangkang semua perintahnya. Di rumah, kami jarang bertegur sapa. Aku serupa madi kesepian yang setiap hari memintal angan agar ibu kembali, menahan renjana padanya. Aku rindu bermanja-manja di pangkuannya sembari memainkan landang sebesar biji jagung yang menyembul di bawah rahang kanannya.
Pernah terkelebat dalam otakku untuk mengakhiri hidup abah, menusuknya dengan belati, tapi hasrat itu urung kupenuhi, sepertinya akan menajdi hal yang percuma karena abah punya ilmu jaduk. Seringkali kulihat abah dan teman-temanya berlatih, menohokkan besi runcing di perutnya, menetak tangannya dengan golok, atau berjalan telanjang kaki di atas bara api maupun beling. Benda-benda itu tak sedikitpun menciderinya, menggores kulitnya pun tidak.
Satu hari abah pernah menuturkan perihal kekalutannya malam itu. Abah berdalih yang dia lakukan itu untuk kebaikanku dan kehormatannya. Tapi aku memilih untuk tidak mempercayainya. Mana mungkin berpisah dengan ibu baik untukku. Apalagi abah mengusirnya dengan alasan hanya karena ibu pulang larut.
Kenangan itulah yang saat ini membuatku berani melanggar aturannya, juga membangkang semua titahnya. Meski begitu perasaan takut nyalar menyerangku tiap kali melawan kehendak Abah. Tapi malam ini aku benar-benar mesti pergi dari rumah, alasannya bukan untuk melanggar perintah Abah, melainkan untuk melihat Jeny.
Aku harus segera keluar. Di persimpangan jalan aku sudah dinanti sobatku, Jhon, murid alihan dari Jakarta, rekan sekelasku, teman yang berbeda juga unik.  
Saat pertama kali diperkenalkan di depan kelas enam bulan silam, Jhon memang lain. Tidak ada satu siswa lain yang sama dengan penampilannya. Seragam Jhon dikeluarkan, bibirnya hitam, rambutnya gondrong berantakan. Setelah Pak Sueb menyuruhnya duduk di sampingku, aku semakin yakin bahwa Jhon berbeda. Kulihat tiga lubang halus pada daun telinganya, laiknya anak perempuan sedang mencopot antingnya.
Satu pekan Jhon di sekolah, siswa-siswi lain giat membincangkannya. Di kantin, Enis, Siska, Dewi juga Eha mengatakan Jhon itu mantan brandal, pemeras, banyak juga mulut lain yang mengejek Jhon. Mereka juga acap kali menatap Jhon dengan pandangan tak ramah.
Aku juga pernah tidak sengaja mendengar Darno, Ovan dan Rusly memperdebatkan perihal pekerjaan orangtua Jhon di toilet sekolah.
“Ayah Jhon itu pengedar,” ungkap Darno.
“Bukan, bapaknya itu bajul,” sela Ovan.
“Lu, semua salah, babenya itu germo,” tukas Rusly, menutup diskusi mereka.
Aku pernah memberitahu Jhon tentang itu. Tapi ia tidak ambil pusing. “Mereka cuma angin,” katanya.
Jhon sama seperiku, Jhon tidak punya ibu. Jhon jugalah yang mengenalkanku tentang Jeny. Masih lekat dalam ingatan tiga bulan silam saat kami bolos untuk ke bioskop, Jhon merisik di telingaku. “Kau harus datang ke rumahku! Ada mawar cantik di sebelah rumahku.”
Ajakannya kubiarkan dingin. Jhon tetap gigih merayuku untuk datang ke rumahnya. “Aku tidak suka mawar,” kutolak.
“Ini mawar yang beda. Kau pasti akan suka. Tidak akan mungin kaukecewa atau menyesal setelah datang ke rumahku dan melihatnya,” Jhon meyakinkan.
“Baiklah,” anggukku kemudian. Jhon memang pandai membuatku penasaran.
Keesokan paginya sebelun ke sekolah, aku menjemput Jhon ke rumahnya. Begitu melihat kemunculanku dari balik gerbang, Jhon langsung mengajakku ke samping rumahnya. Sepi. Sama sepertiku Jhon hanya tinggal dengan bapaknya yang katanya sekarang pulas seusai semalam bekerja.
Di sayap kiri rumahnya, pada pagar kayu kusam yang membatasi rumahnya dengan rumah Jeny terselip lubang sebesar ibu jari yang sengaja Jhon ciptakan. Dari lubang itu kami bisa melihat Jeny. Aku memejamkan mata kiriku dan mendekatkan mata kananku pada lubang itu. Jeny tanpak sedang merentang kain basah dan cawat pada seutas kenur di jerambah belakang rumahnya. Kain batik yang basah melilit sekaligus membentuk lekuk tubuhnya dengan nyata dari dada hingga pahanya. Kelihatannya Jeny baru saja selesai mandi. Rambutnya kuyup, tergerai terjun ke belakang telinga, melintir ke depan dan terjumbai di dada.
Sesekali Jeny berdiri membelakangiku dan Jhon, sehingga kami bisa melihat punggungnya yang terbuka. Ada daya pikat pada kontras warna rambut yang pekat dengan kulit tengkuk Jeny yang putih dan mulus. Tungkainya jenjang. Ketika berjinjit merentangkan jemurannya, kain batik yang mengantung jauh dari lututnya terangkat. Mata kami leluasa melihat pahanya yang bersih. Aku dan Jhon gergantian melihatnya hingga beberapa kali. Kerlip titik-titik air yang menempel di pipi, leher dan bahunya yang diterpa sinar matahari menambah keindahan tubuhnya. Ucapan Jhon memang benar, Jeny itu mawar. Mawar putih yang bersih dan mulus tanpa noda.
***
Akhirnya aku bisa keluar setelah Abah masuk ke dalam toilet. Aku bergegas kabur menyusuri lorong gang sempit menuju jalan raya. Seperti yang telah kuyakini, Jhon sudah menungguku di persimpangan jalan dengan kaos tanpa lengan dilapisi jaket belel, dipadu dengan jeans rombeng buluknya. Kami segera menuju bar di pinggiran kota. Memanjat tembok belakangnya lalu berlikut di balik mobil.
Lama kami bersembunyi. Aku mulai takut. Kuyakin Jhon bisa merasakannya. Ia menyodorkan rokok. Aku menerima dan menyulutnya. Orang bilang tensi akan berkurang seiring dengan asapnya yang kita hembuskan. Tapi aku remaja kencur yang masih hijau, aku malah terbatuk, tenggorokanku gatal. Menghisap rokok adalah hal baru bagiku, beda urusan dengan Jhon yang sejak kelas satu SMP sudah menghisapnya. Aku berhenti mencerup rokok, mengacuhkannya terselip diantara jari tengah dan telunjukku.
“Jhon, sebaiknya kita pulang saja! Sudah larut. Jeny tak akan datang,” keluhku. Aku menudingkan arloji yang melingkar di tangan kiriku tepat pada wajah Jhon. Pukul setengah satu, itu artinya sudah dua jam kami menungu Jeny.
“Kita kadung di sini. Tunggulah sebentar lagi!”
“Tapi aku sangat takut. Bagaimana jika ayahku tahu aku ke luar rumah malam ini?”
“Memang itu yang kau mau, bukan? Melanggar aturannya?”
“Sebetulnya, iya,” anggukku pelan dengan napas berat. “Tapi aku takut.”
“Tenang! Aku akan membantumu jika ayahmu memarahimu.”
“Kita tidak akan sanggup menahan amarahnya. Kau ingat saat kita dimintai uang oleh empat preman berbadan besar di terminal? Dengan sekali hantaman, meski merka menyerang ayahku dengan belati dan keroyokan, ayahku dengan mudah meringkus merka, kauingat itu?”
Jhon tepekur, lantas berujar, “oh, ya, aku lupa, ayahmu seorang jawara.”
Sesaat sepi. Hanya percik halus tembakau terbakar yang terdengar saat Jhon menghisap rokoknya. Purnama di tubir malam memicu kelopakmataku menjadi berat. Aku rebah di atas rerumputan, kini  langit seolah tidak lagi jauh di atas tapi dekat, percis di hadapanku.
“Lihat! Itu mawar kita!” Mata Jhon berbinar. Mungin sama juga halnya aku ketika kupandangkan mataku pada sosok Jeny. Kami melihat Jeny keluar dari rahim kafe dengan gincu serupa nyala lampion di bibirnya. Jeny kian menawan saat menampakan segurat senyum di bibirnya.
Ah, perempuan yang nyalar menyematan rok pendek dan baju minim pada tubuhnya itu menunjukan dadanya yang bernas, selalu berhasil menyita pandangan kami. Muncul rasa yang aneh ketika melihat perempuan itu meski hanya dari kejauhan. Ada yang bergairah, membuat jantungku berdesir.
Jeny tidak sendiri, dia bersama teman prianya. Keduanya berjalan terhuyung. Si Pria menempelkan punggung Jeny ke dinding lalu bibir hitam tebalnya dipendamkan pada wajah Jeny, kemudian turun ke lehernya. Jeny geming.
Tidak lama seorang wanita lain keluar bersama lelakinya juga, berjalan gontai cekikikan. Aku seperti mengenal wanita itu. Kedua mataku kusipitkan untuk meyakinkannya. Aku beringsut mendekati kersen, kutepis helai daun yang merintangi pandanganku. Aku diantara  percaya-tidakpercaya dengan mataku sendiri. Kupandangi landang di bawah rahang kanan wanita itu lekat-lekat. Bukan, itu bukan dia! Tidak mungkin dia! Pikirku. Aku memutuskan untuk tidak percaya pada mataku.
Aku menajamkan pendengaranku. Diantara riuh dentuman musik, lapat-lapat kudengar suara manja lelaki yang kini melingkarkan kedua tangnnya di pinggang wanita itu berpesan, “besok malam jangan sama yang lain, ya! Aku akan datang.”
“Beres, asal jangan lupa bawa uang yang banyak,” balas wanita itu, seraya mencubit pinggang si lelaki, lalu melingkarkan kedua tangannya pada leher lelaki itu. Ujung hidung mereka saling beradu. Wanita itu kembali berjalan terhuyung cekikikan dan terus berceracau hingga hilang di balik pagar membawa derai tawa bersama lelakinya.
Ah, aku sangat kenal dengan suara itu. Tapi sekali lagi aku memilih tidak percaya pada indraku. Di tepiku Jhon melongo. Ganjil melihat bolamataku karam oleh air yang riung di kelopakmata.
“Ada apa denganmu, Ridwan?”
Pertanyaan pendek itu tak mendapatkan sahutan. Aku geming, tegak di bawah kersen. Mataku lamur, lalu kulempar tatap kosong sejauh mungkin.

No. HP : 08777-10-7373-0