Minggu 26 April 2026 menjadi pertemuan pertama Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 43. Materi langsung disampaikan oleh Gol A Gong. Dia mengajak para peserta berkeliling di museum literasi Gol A Gong, dia ingin menunjukkan spirit menulis kepada para peserta. pelatihan kemudian berpindak ke Teater Terbuka Rumah Dunia.
Rudi Rustiadi's Blog
Rabu, 29 April 2026
Senin, 27 April 2026
Launching Antologi Cerpen Anti Korupsi
Sebanyak 1.636 penulis dari 21 Provinsi di Indonesia memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) melalui penulisan cerpen antikorupsi terbanyak, sebuah capaian yang kini diposisikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai strategi baru memperluas gerakan antikorupsi berbasis literasi.
Rekor tersebut bukan sekadar prestasi simbolik. KPK menilai, capaian ini menandai pergeseran pendekatan pemberantasan korupsi yang selama ini identik dengan penindakan, menuju penguatan budaya integritas melalui partisipasi publik yang masif dan kreatif.
Dalam ‘Peluncuran Buku dan Pemecahan Rekor Menulis Cerpen Antikorupsi terbanyak dari MURI’ di Gedung Pusat Edukasi Antikorupsi (ACLC) KPK, Jakarta, Kamis (23/4), Wakil Ketua KPK, Ibnu Basuki Widodo, mengatakan kegiatan ini menjadi langkah strategis memperluas edukasi antikorupsi berbasis literasi cerpen antikorupsi.
“Program ini dirancang masif dengan pelibatan para Penyuluh Antikorupsi (PAKSI) dan Ahli Pembangun Integritas (API) sebagai motor penggerak dalam memperluas literasi antikorupsi berbasis aksi kolektif,” tutur Ibnu.
Diawali dengan pelatihan penulisan cerpen yang menanamkan perspektif integritas, lanjut Ibnu, program lalu berlanjut pada proses kreatif hingga pemecahan rekor MURI. Skema tersebut dirancang tidak hanya untuk meningkatkan partisipasi, tetapi juga memastikan pesan antikorupsi dapat dipahami melalui pendekatan yang lebih humanis.
Ibnu menilai capaian ini menjadi bukti bahwa pemberdayaan integritas harus terus diakselerasi melalui aksi nyata dan kolaborasi lintas daerah serta profesi. Dalam hal ini, KPK memanfaatkan peran PAKSI-API sebagai penggerak utama pembangunan nilai integritas di masyarakat melalui komunitas Pena Integritas.
Kolaborasi dengan SIP Publishing dan Yayasan Rumah Indonesia Menulis memperkuat pendekatan tersebut dengan menjadikan karya sastra sebagai medium edukasi yang lebih dekat dan mudah dipahami oleh publik. Pencatatan rekor oleh MURI pun memiliki nilai strategis karena tidak sekadar bersifat seremonial, tetapi menjadi bagian dari perjalanan gerakan literasi nasional yang mengusung nilai-nilai antikorupsi.
“Apresiasi tak terhingga kami sampaikan kepada Forum PAKSI-API bersama dengan komunitas Pena Integritas, atas inisiatif dan kolaborasi yang menghadirkan capaian prestasi superlatif. Upaya ini tidak hanya mengungkap fakta-fakta yang selama ini tersembunyi, mengedukasi tanpa menggurui, edukasi antikorupsi lintas batas, lintas usia, dan lebih membumi,” ucap Ibnu.
KPK menilai keberhasilan ini mencerminkan pentingnya kerja kolektif lintas sektor dalam melawan korupsi, sekaligus memperluas jangkauan kampanye integritas ke ruang-ruang sosial yang sebelumnya belum tersentuh. Menurutnya, melalui dukungan mitra seperti MURI yang berperan memperluas visibilitas gerakan, sehingga mampu mendorong partisipasi publik yang lebih luas.
Sejalan dengan itu, Deputi Bidang Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK, Wawan Wardiana, menekankan bahwa partisipasi publik menjadi fondasi utama gerakan antikorupsi. Ia menilai sinergi antara komunitas, penyuluh, dan pelbagai pemangku kepentingan menjadi modal penting untuk memperluas dampak edukasi.
“Ini menjadi langkah konkret dalam memastikan nilai integritas terus tumbuh dan mengakar di masyarakat. Terlihat dari tingginya partisipasi 1.636 penulis dari 21 Provinsi, menandai tingginya antusiasme publik dalam mengarusutamakan nilai integritas melalui karya tulis,” ucap Wawan.
Seperti diketahui, lanjut Wawan, rangkaian kegiatan diawali dengan tahap publikasi pada 8–28 Februari 2026, dilanjut dengan pelatihan menulis daring yang membekali peserta mengenai pemahaman tentang pesan antikorupsi serta teknik penulisan cerpen. Setelah melalui tahap publikasi, pelatihan, hingga pengumpulan naskah pada 9 Maret hingga 14 April 2026, program mencapai puncaknya dengan ‘peluncuran buku kumpulan cerpen antikorupsi’ pada 23 April 2026.
Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan pada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Adin Bondar, menilai pendekatan literasi memiliki peran strategis dalam membangun karakter integritas, termasuk melalui karya sastra sebagai refleksi nilai dan sikap individu.
“Pendekatan literasi merupakan strategi efektif mencegah korupsi, karena mampu membangun kesadaran kritis sekaligus membentuk kebijaksanaan individu dalam sikap dan komunikasi,” ucapnya.
Sementara itu, perwakilan komunitas Pena Integritas, Ratu Syafitri Muhayati, menegaskan bahwa program ini dirancang sebagai gerakan berkelanjutan.
“Karya-karya terpilih merupakan refleksi berbagai perspektif tentang kejujuran dan perlawanan terhadap korupsi. Harapannya, inisiatif ini dapat meningkatkan kesadaran publik terhadap tindak pidana korupsi, sekaligus memastikan karya-karya yang dihasilkan terdokumentasi sebagai bagian dari jejak kolektif masyarakat,” kata Ratu.
Kegiatan ini turut dihadiri Direktur Marketing MURI, Awan Rahargo; Direktur Pendidikan dan Pelatihan Antikorupsi KPK, Yonathan Demme Tangdilintin; Direktur Jejaring Pendidikan KPK, Dian Novianthi; Direktur Sosialisasi dan Kampanye KPK, Amir Arief; Kepala Sekretariat kedeputian Bidang Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK, Guntur Kusmeiyano; Direktur SIP Publishing, Indra Defandra; Duta Baca Indonesia 2021-2025, Gol A Gong; serta para PAKSI-API dari seluruh Indonesia.
Dengan demikian, KPK menegaskan akan terus memperluas kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan gerakan literasi antikorupsi tidak berhenti sebagai momentum, tetapi menjadi gerakan sosial yang berkelanjutan. Melalui langkah sederhana dari lingkungan masyarakat, KPK berharap terwujudnya Indonesia yang lebih bersih dan berintegritas. (https://www.kpk.go.id/)
World Book Day Rumah Dunia 2026
Serang, 26 April 2026 — Komunitas literasi Rumah Dunia memperingati Hari Buku Sedunia (World Book Day) 2026 dengan meluncurkan 28 buku karya penulis Banten, Minggu (26/4/2026). Kegiatan yang digelar di Teater Terbuka Rumah Dunia ini juga diisi dengan orasi literasi oleh Kepala Perpustakaan Nasional RI, Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D.
Perayaan bertajuk “Dari Banten untuk Dunia” tersebut dihadiri pegiat literasi, pelajar, mahasiswa, serta masyarakat umum. Peluncuran puluhan buku ini menjadi momentum penting bagi penulis lokal untuk memperluas jangkauan karya mereka ke tingkat nasional bahkan internasional.
Dalam orasinya, Prof. Aminudin Aziz menegaskan pentingnya penguatan budaya literasi sebagai fondasi pembangunan bangsa. Ia menyebutkan bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dan memahami informasi secara mendalam.
“Buku adalah instrumen utama dalam membangun peradaban. Melalui buku, kita tidak hanya mewariskan pengetahuan, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan,” ujarnya di hadapan peserta.
Sabtu, 08 Agustus 2020
Kado Buat (Calon Penyair) Djoe Taufik
Kado Buat (Calon Penyair) Djoe Taufik
(Fresh Graduate yang Sedang Merayakan Ulang Tahunnya yang ke-24)
Menulis puisi itu tidak sulit, tapi menjadi penyair itu tidak gampang. Satu kalimat dari Imam Budhi Santosa itu jika ditafsirkan secara serampangan, oleh orang awam dalam dunia perpuisian seperti saya, barangkali maknanya bisa begini; siapa saja bisa menulis puisi, tapi sedikit yang menulisnya dengan baik layaknya seorang penyair.
Banyak penyair mengatakan bahwa menulis puisi bukan perkara mudah; butuh permenungan yang lama, pemilihan diksi yang selektif, menemukan kebaruan frasa, memperhitungkan kedalaman makna, dan banyak lagi hal-hal lain yang mesti diperhatikan seorang penyair. Tapi tidak sedikit juga yang menyatakan menulis puisi itu sesederhana menyeduh kopi instan; puisi hari ini sudah sangat bebas dan seringkali menabrak kaidah-kaidah yang dulu dibuat, bahkan beberapa puisi menghancurkan definisi puisi itu sendiri; contohnya menulis puisi kini sudah lepas dari rima dan keteraturan baitnya. Bebas!
Beberapa hari lalu saya disodorkan sebuah buku kumpulan puisi Fragmen Awal karya Djoe Taufik. Saya bukan penulis puisi tapi menolak bukan pilihan bijak. Dengan cover merah bergradasi puih itu nampaknya Djoe Taufik sedang berada di puncak semangat. Berani? Bisa demikian, tapi saya melihat merah pada cover Fragmen Awal justru bukan sebuah keberaian (dalam melahirkan sebuah karya) tapi kenekatan, yang juga diakui Djoe Taufik dalam prakata dalam buku ini.
Sebelum menerbitkan buku kumpulan puisi terbarunya ini, puisi-puisi Djoe Taufik sudah terlebih dahulu tergabung dalam beberapa buku antologi puisi; Kunanti Kau di Sudut Senja (Titik Embun: 2018), Bersama Kata (Gong Publishing: 2018), Dari Balik Batu-Batu (Nulisbuku: 2019), Kuterima Dukamu (Lumbung Banten: 2020) Majalah Sastra Kandaga (Kantor Bahasa Banten: 2020). Barangkali jejak-jejak inilah yang melatarbelakangi keberanian (baca: kenekatan) Djoe Taufik dalam menerbitkan buku kumpulan puisi. Keberanian itu jugalah yang kemudian menjadikan Djoe Taufik seperti orang kebelet. Terburu-buru.
Meski dimaksudkan untuk merayakan hari kelahiran dan prosesi wisuda, sebagai orang yang mafhum dalam dunia perbukuan Djoe Taufik tidak semestinya menerbitkan buku dengan tergesa-gesa. Penting bagi seorang penulis memberikan identitas dan kualitas pada karya yang ia tulis, termasuk Djoe Taufik, menjadi kurang bijak jika seorang penulis mengabaikan keduanya. Tapi lagi-lagi sepertinya sulit bagi Djoe Taufik untuk tidak menerbikan buku sekarang ini, dengan semangatnya juga kegembiraannya yang sedang meletup-letup.
Begitulah kesan saya terhadap buku puisi Fragmen Awal. Lalu bagaimana dengan puisi-puisi di dalamnya. Secara umum puisi-puisi itu lahir dari peristiwa-peristiwa yang dialami penyair dari tahun 2013 hingga 2020 yang bisa dilihat dari titi mangsanya; dari mulai nyantri (sekolah), hingga kuliah dan lulus, satu puisi lahir dan dipersembahkan untuk Gol A Gong, yaitu puisi Bolehkah. Akan terlalu banyak kata jika harus membahas 61 puisi Djoe Taufik satu-persatu. Puisi di bawah ini adalah puisi yang saya temukan secara acak saat akan coba bahas secara teknis dan tehnik dalam kepenulisannya.
SEMPAK MERAH
sudah lama aku tidak pakai sempak
celana yang kupakai selalu bermasalah
sempak simbol kependudukan
aku coba membuat sempak
mencari bahan ke anyar
aku bayar 50 ribu untuk prosesnya
tapi bahan itu dimakan tikus
oh tikus sialan
ingin rasanya kutelanjang
menikmati kebebasan warga dunia
merasakan keindahan sistem
pemerintahan dengan senyuman
Serang, 21.02.2020
Puisi naratif (menceritakan peristiwa berdasarkan urutan waktu) yang ditulis oleh Djoe Taufik dengan judul Sempak Merah di atas, jika dibaca selintasan, puisi tersebut ditulis dengan spontanitas. Puisi itu tercipta begitu saja untuk melepaskan emosi (perasaan) setelah penyair mengalami satu peristiwa yang (entah itu) lucu, menjengkelkan, menyedihkan atau perasaan lainnya. Puisi tersebut belum sampai pada dua makna definisi puisi yang disampaikan Wordsworth, bahwa puisi merupakan the spontaneous overflow of powerful meaning. Pada puisi ini Djoe Taufik baru sampai pada definisi pertama (spontaneus overflow) yang diiringi dengan luapan emosi yang sulit disembunyikan dalam diksi; sialan, kebebasan, keindahan, dan senyuman. Djoe Taufik melupakan makna kedua (powerful meaning), tentang kedalaman makna, pesan dan pengendalian emosi yang semestinya diimajinasikan (disembunyikan) dalam bentuk frasa atau kalimat yang lain, jika kata almarhum eyang Sapardi; Bilang Begini Maksudnya Begitu.
Peristiwa yang terjadi dalam puisi ini, si aku liris menggambarkan dirinya yang tidak memiliki tanda kependudukan, dan itu sering menjadi masalah bagi dirinya saat melakukan aktivitas yang menuntut untuk menunjukan tanda data diri. Kemudian si aku liris mencoba untuk membuatnya, prosesnya ia tempuh dari mengumpulkan syarat-syaratnya hingga ke Anyar (tempat lahir penulis, saat itu penulis sedang kuliah dan tinggal di Kota Serang). Hingga kemudian proses administratif, menuntut si aku mengelurkan sejumlah uang, namun rupanya gagal. Si aku kemudian marah, dan objeknya adalah “tikus sialan” yang tak lain adalah petugas pembuat tanda kependudukan. Pada bait selanjutnya si aku “kalah” dan pasrah oleh keadaan yang dialaminya, hingga muncullah harapan-harapan, akumulasi dari peristiwa-peristiwa yang terjadi padanya.
Dari metafor atau simbolisasi yang dibuat oleh Djoe Taufik melalui aku liris dari puisi Sempak Merah. Diksi “merah” pada frasa “sempak merah” bisa pembaca (saya) asumsikan itu adalah perasaan jengkel atau marah, dengan merujuk kata “sialan” pada larik kedelapan di bait kedua. Sedangkan diksi “sempak” makna sesungguhnya “dibocorkan” Djoe Taufik pada larik ketiga /sempak simbol kependudukan/. Lalu apa yang dimaksud dengan simbol kependudukan? Bisa apa saja; paspor, Kartu Tanda Penduduk, Karu Keluarga dan simbol-simbol lainnya. Jadi Si Penyair pada puisi ini sedang marah kepada simbol kependudukan? Wallahua’lam. Silakan lihat larik-larik senjajutnya dalam puisi ini!
Dalam puisi ini, Djoe Taufik tanpa tedeng aling-aling menusuk pada objek yang menjadi temanya; tanda atau simbol kependudukan. Puisi dengan 12 larik dan 3 bait ini, diksi dan frasanya tidak banyak menampilkan kebaruan. Selain itu, jika benar yang dimaksud dengan “sempak” adalah tanda atau simbol kependudukan, mengapa penyair menuliskan kalimat /ingin rasanya kutelanjang/? Jika benar, maka “telanjang” (menaggalkan seluruh pakaian), bisa diartikan dengan menanggalkan simbol-simbol kependudukan seperti paspor, KTP dan lain sebagainya. Tapi di larik selanjutnya “si aku” ingin /menikmati kebebasan warga dunia /merasakan keindahan sistem/ pemerintahan denan senyuman/. Bagaimana mungkin seseorang menikmati kebebasan menjadi warga dunia (berpindah dari negara ke negara lain) tanpa tanda kependudukan atau identitas diri. Bagi saya bait ketiga dalam puisi ini dalah paradoks yang sempurna untuk melemahkan puisi, dan menghancurkan kesempurnaan puisi itu sendiri.
Dalam puisi ini saya merasakan bahasa (diksi, frasa dan kalimat) keseharian yang biasa-biasa saja, yang dibuat dengan sangat sederhana. Dari puisi di atas juga saya merasakan penyair (Djoe Taufik) kurang giat, untuk mencari dan membuat kebaruan frasa juga metafor. Misalkan pada metafor “tikus” yang pada puisi ini jelas dikonotasikan sebagai orang dengan prilaku rakus (sebut saja korup). Kata “tikus” sudah sangat umum untuk mendeskripsiakn itu.
Membaca buku kumpulan puisi Fragmen Awal karya Djoe Taufik ini, saya merasa Djoe Taufik (belum dewasa dan) terus tumbuh dalam menulis puisi. Hal itu terlihat dari puisi-puisisnya pada tahun 2013, yang terus mengalami perubahan (lebih baik) jika dibandingkan dengan tahun 2020. Dengan berat hati saya harus mengakui Djoe Taufik belum mencapai kematangan sebagai seorang penyair. Maka untuk menuju maturitas tersebut, Djoe Taufik mesti terus tumbuh dengan bacaan, pengalaman serta pengetahuan sebagai suplemen untuk melahirkan puisi-puisi berikutnya.
Oh, iya, puisi “Sempak Merah” di atas hanya satu contoh puisi, bukan berarti merepresentasikan keseluruhan puisi-pusi dalam Fragmen Awal. Lalu bagaimana dengan puisi-puisi lainnya? Silakan Anda baca dan tafsir sendiri. Hubungi Djoe Taufik di Instagram atau Facebook untuk tahu bagaimana cara mendapatkan buku ini, lalu bacalah!
Penulis; Rudi Rustiadi, mahasiswa yang dituntut untuk segera lulus kuliah sebelum covid-19 berakhir dan situasi menjadi normal kembali.

.jpeg)

.jpeg)




.jpeg)


















