Sabtu, 02 Mei 2026

Rekomendasi Buku Untuk Bupati Lebak

Oleh Rudi Rustiadi

Presiden komunitas Rumah Dunia 2025-2030.

Selasa (31/3) lalu saya berkunjung ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten. Kunjungan ini tidak saya rencanakan sebelumnya, hanya iseng untuk mencari hiburan di ruang yang sejuk. Sambil berharap menemukan buku penghilang penat setelah bermacet-macetan saat pulang mudik lebaran dari Kabupaten Kuningan. Awalnya saya mencari buku yang ringan seperti novel atau kumpulan cerpen. Tapi nyatanya saya malah tertarik pada rak buku 100-199 yang dipenuhi buku-buku epistemologi, psikologi, etika, logika dan sejenisnya.

Setelah melihat-lihat, akhirnya saya mengambil buku Bicara Itu Ada Seninya (BIP: 2019) karya Oh Su Hyang. Dalam buku ini dijelaskan bahwa kata-kata punya kekuatan besar. Ucapan bisa menyembuhkan juga bisa melukai. Cara bicara menentukan hubungan seseorang dengan orang lain. Oh juga menuliskan bahwa ucapan adalah sarana penting untuk menilai seseorang secara keseluruhan. Seperti yang dituliskan Oh di halaman 7 bukunya: Dari ucapan kita menerima kesan baik dari lawan bicara.... Jadi, berbicara bukan hanya yang seseorang katakan tapi, bagaimana seseorang tersebut mengatakannya.

Dari buku ini, saya juga mendapatkan pembelajaran bahwa nilai seseorang dinilai ketika berbicara. Selain itu juga empati dalam berbicara, dengan  memahami perasaan lawan bicara. Intinya buku ini menyampaikan jangan asal bicara tanpa memikirkan dampaknya. Berbicara bukan sekadar benar tapi harus bijak dan tepat.

Maka, mengontrol emosi saat bicara menjadi bagian penting. Jangan bicara saat marah dan hindari kata-kata yang menyakiti, sebab sekali kata-kata menyakiti terucap sulit ditarik kembali dari hati. Tiga detik di bibir sama dengan tiga puluh tahun di hati, begitu tulis Oh di halaman 143 bukunya. Membaca buku ini mengajarkan saya bahwa berbicara bukan sekedar keterampilan, tapi seni mengelola hati, emosi dan hubungan.

Saya kemudian membaca buku lain di rak 300-399 yang memuat buku-buku statistik, ilmu politik, hukum, komunikasi, etiket dan sejenisnya. Saya memilih buku Etika Komunikasi (Kencana: 2023) yang ditulis oleh Hafied Cangara. Dalam buku tersebut dituliskan bahwa berbicara itu tidak asal mengeluarkan bunyi, tapi harus memahami beberapa elemen-elemen penting pendukungnya. Lebih spesifik lagi buku tersebut memuat tentang dasar-dasar komunikasi.

Salah satu bagian penting yang juga menjadi pembahasan buku ini adalah etika komunikasi, baik ketika terlibat dalam pembicaraan biasa sehari-hari maupun dalam komunikasi publik. Hafied menuliskan bahwa seseorang yang sedang berbicara harus jujur, menjaga hubungan baik, tidak menyesatkan audience, menghargai perbedaan, tidak melanggar privasi, tidak menciptakan kebencian dan seterusnya. Intinya adalah menghormati audience atau lawan bicara. Mereka (lawan bicara) adalah seseorang yang punya pikiran, perasaan dan latar belakang serta hak untuk diperlakukan dengan baik. Menghormati audience adalah menganggap mereka sebagai “manusia”.

Ketika berbicara khususnya di depan publik, maka anggaplah para pendengar itu heterogen, berbeda budaya, pendidikan, agama serta pengalaman hidup. Sehingga pembicara harus berhati-hati. Hindari candaan yang sensitif tentang, ras, fisik, ekonomi, agama hingga empirik pribadi seseorang. Saat berbicara seseorang dianjurkan tidak membuat contoh, sindiran juga humor yang menyinggung individu atau kelompok tertentu. Kecuali jika itu memang disengaja.

Pada bagian tertentu Hafied juga menuliskan di halaman 246, seseorang harus memiliki rasa empati saat berkomunikasi, kemampuan seseorang untuk mengetahui apa yang sedang dialami orang lain pada satu saat tertentu, dari sudut pandang orang lain tersebut. Pentingnya empati tersebut agar tujuan dari komunikasi berjalan dengan baik yaitu membentuk pribadi yang asertif, menjaga hubungan, saling pengertian serta bertanggung jawab. Maka Berbicaralah dengan integritas, empati dan kesadaran sosial. Sebab bicara bukan hanya bunyi, tapi juga terikat dengan elemen lain: niat, sikap dan tanggung jawab.

Berbicara tentang komunikasi publik, minggu ini sedang hangat pemberitaan juga pembicaraan netizen di media sosial tentang pidato atau sambutan Bupati Lebak,  Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya dalam acara halal bihalal Idulfitri 1447 H. Momen yang seharusnya menjadi ajang silaturahmi berubah menjadi ketegangan ketika Bupati Lebak “menyenggol” status sosial wakilnya, Amir Hamzah di hadapan para pejabat Aparatur Sipil Negara Pemerintah Kabupaten Lebak.

Uyuhan mantan napi jadi Wakil Bupati,” kata Hasbi dalam Bahasa Sunda, seperti yang diberitakan Harian Kabar Banten pada Selasa (31/3). Kata-kata yang keluar dari mulut Hasbi seperti petasan yang meledak begitu nyaring dan menyisakan pengang di telinga Amir Hamzah. Diberitakan juga Amir Hamzah sampai walk out dari tempat acara.

Peristiwa Bupati Lebak ini menjadi pengingat bahwa ruang publik bukan hanya tempat berbicara, tapi juga ruang menjaga perasaan banyak orang. Apa yang dianggap ringan oleh satu pihak, bisa menjadi berat bagi pihak lain. Hasbi beruntung, reaksi Amir Hamzah tidak seperti Will Smith saat dipermalukan Chris Rock di atas panggung Oscar tahun 2022 lalu.

Menurut sepuluh aturan komunikasi yang ditulis Oh Su Hyang di buku pertama yang saya baca, Hasbi melanggar setidaknya empat  aturan: (aturan ke-4) Berkata yang menenangkan hati, bukan sekadar enak di dengar. (Aturan ke-5) Katakan yang ingin didengar lawan bicara, bukan yang ingin diutarakan. (Aturan ke-6) Berbicara dengan menutupi aib dan sering memuji. (Aturan ke-7) berbicara hal-hal yang menyenangkan bukan yang menyebalkan.

Jika dinilai dari buku Oh Su Hyang Hasbi bisa dikategorikan tidak menghargai audience saat di atas podium. Hal ini sangat disayangkan, pasalnya Hasbi adalah seorang public figure juga kepala daerah. Apa yang dilontarkan Hasbi juga bertolak belakang dengan maksud dan tujuan diselenggarakannya acara. Pesan dari seorang pemimpin yang seharusnya membuat sejuk dan mempererat silaturahmi justru dirasakan sebaiknya.

Saya rasa penting rasanya kepala daerah atau public figure lainnya seperti Hasbi—ataupun pejabat publik lainya seperti Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia yang juga ramai diperbincangkan akibat ucapannya—memiliki  kecerdasan humaniora. Agar ketika berbicara di depan publik lebih mengedepankan substansi daripada sindiran atau hal yang tidak perlu. Dalam buku Bicara Itu Ada Seninya, Oh mengingatkan, ucapan yang tidak dilandasi dengan ilmu humaniora akan seperti tanah kosong. Isilah dengan ilmu-ilmu humaniora agar tanah itu berubah menjadi hutan yang subur, yang membuat inspirasi, kearifan, dan wawasan menari-nari di dalamnya. Ilmu humaniora tidaklah sulit. Anda hanya perlu punya hobi membaca, tulis Oh.

Maka dalam tulisan sederhana ini, untuk Bupati Lebak, Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya saya merekomendasikan dua buku ini untuk dibaca saat waktu senggang. Sebagai langkah awal untuk kemudian punya hobi membaca.[]

 

Rabu, 29 April 2026

Kelas Menulis Angkatan 43

Pertemuan Pertama

Hari ini Minggu 26 April 2026, saya teringat kembali pada peristiwa 12 tahun lalu (Februari 2014), saat saya membawa sebuah cerpen dan sebuah puisi ke Rumah Duna. Menunggangi Supra Fit New milik Bapak, saya memarkir motor di area depan Rumah Dunia, di bawah pohon jati. Saya kemudian menyerahkan karya yang saya buat asal-asalan (karena memang belum tahu teori menulis) itu kepada relawan Rumah Dunia, Jack Alawi sebagai persyaratan mengikuti Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 23.   

Waktu terus bergulir. Tidak terasa saya sudah 14 tahun menjadi bagian dari perjalanan luar biasa Rumah Dunia dalam menggerakkan kegiatan literasi. Perannya sekarang berganti, saya menerima cerpen dan puisi calon peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 43 sebagai persyaratan menjadi peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 43. Mereka menyerahkan karya dengan map berisi cerpen atau puisi  yang mereka buat (barangkali mungkin sama asal-asalan seperti saya dulu ^_^).  

Dalam perjalanan 14 tahun di Rumah Dunia selama mengikuti Kelas Menulis Rumah Dunia atau berdiskusi dengan relawan dan Mas Gol A Gong banyak wawasan kepenulisan yang saya terima. Tentu hari ini jika saya menulis cerpen atau puisi tidak lagi asal-asalan, tapi sudah dipikirkan dan dipertimbangkan dengan matang sesuai dengan ilmunya. Selama belajar menulis di Rumah Dunia saya mendapatkan banyak wawasan tentang dunia menulis tidak hanya cerpen dan puisi melainkan ilmu menulis jurnalistik mulai dari hard news, feature, esai dan travel writing. Saya juga mendapatkan ilmu menulis novel dewasa dan novel anak, fiksi mini, hingga menulis skenario film. Untuk materi terakhir ini khusus untuk mereka yang sudah lulus dari kelas menulis dan bisa membuat cerita (cerpen atau novel). 

Pada pertemuan Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 43 ini materi langsung disampaikan oleh Mas Gol A Gong di halaman Museum literasi Gol A Gong. Pada kesempatan itu Mas Gol A Gong bercerita tentang sejarah Rumah Dunia serta perjalanan karier menulisnya yang ia rintis dari sejak remaja. Usaha tidak menghianati hasil, begitulah kira-kira quote yang cocok untuk menggambarkan kesuksesan karier kepenulisan Mas Gol A Gong hingga bisa menulis dengan produktif. Setahu saya sudah 130an buku yang ditulisnya. Beberapa karyanya seperti Ledakkan Idemu Agar Kepalamu Tidak Meledak, Surat dari Bapak, Gelisah Camar Terbang, Bangkok Love Story, Metro, Gong Smash, I Am A Survivor, Roga Sanghara Bhumi hingga magnum opusnya, Balada Si Roy menghiasi koleksi rak buku saya. 

"Buku-buku itu ditulis dengan kompetensi, konsistensi dan komitmen," katanya.  "Dengan itu semua saya berhasil menjadi sedikit penulis yang karyanya best seller," tambahnya.  

Selesai bercerita tentang sejarah Rumah Dunia dan prosesnya menjadi penulis, Mas Gol A Gong memberi kesempatan emas secara cuma-cuma kepada para peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 43 untuk melihat masuk ke dalam Museum literasi Gol A Gong. Ia kemudian menjelaskan sudut-sudut, dan ruangan-ruangan yang ada di Museum Literasi Gol A Gong. Mulai dari sudut rak buku-buku yang mempengaruhi kepenulisannya, ruang karya relawan Rumah Dunia, ruang artefak perjalanannya di berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara, serta ruang-ruang lainnya yang akan membuat kita terpukau sekaligus terkesima.       

"Saya ingin menularkan spirit iqra-qalam ini kepada kalian, bagaimana perjuangan dan perjalanan saya merintis karier sebagai penulis. Mudah-mudahan kalian terinspirasi, bisa menulis dan bisa melampaui saya," kata Mas Gol A Gong.

Setelah dari Museum Literasi Gol A Gong para  peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 43 diajak berpindah tempat ke Teater Terbuka Rumah Dunia. Ada beberapa relawan yang sedang menyiapkan acara World Book Day Rumah Dunia 2026 "Dari Banten Untuk Dunia". Mereka ada yang sedang memasang backdrop, menyapu, dan men-setting panggung. Acara itu diisi dengan peluncuran 27 buku karya penulis Banten dan orasi literasi dari Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D.

Selanjutnya para peserta kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 43 dikenalkan kepada alumni Kelas Menulis Rumah Dunia, saat itu ada Qizink La Aziva (penulis novel Kelomang), Daru Pamungkas (Jurnalis Radar Banten) dan Aji Setiakarya (CEO Sultan TV). Mereka diberi kesempatan untuk menceritakan proses belajar di Rumah Dunia. Peristiwa ini juga saya alami ketika menjadi peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 23. Mendengarkan cerita para-alumni, semoga menginspirasi!   

Pertemuan ini kemudian ditutup dengan penyerahan buku karya Mas Gol A Gong untuk para peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 43.  Saya juga memberikan buku kepada mereka. Buku kumpulan puisi dan cerpen berjudul Munajat Sepanjang Hayat yang diterbitkan Lumbung Banten.  Buku-buku itu diharapkan dibaca di rumah. Karena akan sulit belajar menulis jika tidak diimbangi banyak membaca buku.

Peserta yang mendaftar pada angkatan ini ada 12 orang. Semua semuanya bertahan hingga akhir pembelajaran.

Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya! 












Senin, 27 April 2026

Launching Antologi Cerpen Anti Korupsi

Kamis 23 April 2026, bertepatan dengan Hari Buku Sedunia (World Book Day) 2026, saya diajak Mas Gol A Gong ikut ke gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kami berangkat dari Rumah Dunia pukul 09.00 WIB dengan mobil Wuling Mas Gol A Gong. Tidak hanya saya yang diajak, ada Daru (alumni Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 23 yang sekarang menjadi dosen dan jurnalis Radar Banten), Pak Agus Helfi Rahman dan Pak Encep atau Jawaralangit (keduanya guru SKH Kota Serang).  

Saya menjadi pengemudi. Alhamdulillah perjalanan menuju Jakarta lancar. Tidak ada kemacetan yang panjang seperti biasanya. Hanya padat merayap. Di sepanjang perjalanan kami berdiskusi tentang apa saja, tentang korupsi, tentang politik di Indonesia, tentang Makan Bergizi Gratis, tentang pemerintahan Banten dan sebagainya. 

Setelah beberapa kali berputar putar di jalan Rasuna Said, Casablanca dan Kuningan akhirnya kami sampai tepat pukul 12.00. Begitu masuk Mas Gol A Gong langsung diserbu oleh para peserta pemecahan rekor MURI, menulis cerpen anti korupsi yang digagas SIP Publishing, untuk berfoto. Ya kami kami datang untuk menghadiri acara tersebut. Mas Gol A Gong sebagai mentor dan narasumber sedangkan kami bertiga penulis cerpen anti korupsi. Setelah melayani para peserta yang ingin berfoto dan membuat video kami makan nasi padang Sederhana yang sudah disiapkan panitia.

Acara itu berlangsung meriah diikuti oleh antusiasme para penulis yang luar biasa. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka tidak mau melewatkan peristiwa berharga ini begitu saja. Bagi saya ini adalah acara pemecahan rekor MURI yang kedua, setelah pada tahun lalu, tepatnya 15 September 2025 di Perpustakaan Nasional RI, yang memecahkan rekor MURI dengan penulisan fiksi mini terbanyak oleh SIP Publishing. Saya merasa senang bisa ikut ambil bagian dari peristiwa literasi ini. Sebagai presiden Rumah Dunia saya harus terus menulis, memberikan contoh kepada relawan yang ada saat ini.

Hari ini sebanyak 1.636 penulis dari 21 provinsi di Indonesia memecahkan rekor MURI di KPK. Bagi KPK ini sebuah capaian yang kini diposisikan sebagai strategi baru memperluas gerakan antikorupsi berbasis literasi. Rekor ini bukan sekadar prestasi simbolik. KPK menilai, capaian ini menandai pergeseran pendekatan pemberantasan korupsi yang selama ini identik dengan penindakan, menuju penguatan budaya integritas melalui partisipasi publik yang masif dan kreatif. Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua KPK, Ibnu Basuki Widodo dalam ‘Peluncuran Buku dan Pemecahan Rekor Menulis Cerpen Antikorupsi di Gedung Pusat Edukasi Antikorupsi (ACLC) KPK, Jakarta. 

Saya mengarahkan camera DSLR Cannon 800D yang saya bawa. Beberapa angel Wakil Ketua KPK, Ibnu Basuki Widodo saya dapatkan. Tapi di sini saya post satu saja ya ^_^.

 

Pada kesempatan itu hadir juga Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan pada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Adin Bondar yang memberikan apresiasi terhadap acara tersebut. Ia menilai pendekatan literasi memiliki peran strategis dalam membangun karakter integritas, termasuk melalui karya sastra sebagai refleksi nilai dan sikap individu. Ia menilai kolaborasi KPK dengan SIP Publishing dan Yayasan Rumah Indonesia Menulis menjadikan karya sastra sebagai medium edukasi yang lebih dekat dan mudah dipahami oleh publik. Pencatatan rekor oleh MURI pun memiliki nilai strategis karena tidak sekadar bersifat seremonial, tetapi menjadi bagian dari perjalanan gerakan literasi nasional yang mengusung nilai-nilai antikorupsi.

Nah, ini dia foto Pak Adin.

Kalau yang ini foto-foto kebahagiaan kami saat peluncuran buku Cerpen Antikorupsi di Gedung Pusat Edukasi Antikorupsi (ACLC) KPK, Jakarta. 

 




Setelah dari acar tersebut ada satu peserta perempuan yang mengajak kami makan malam. Itu akan saya ceritakan nanti ya! 




Persiapan World Book Day Rumah Dunia 2026

Pesan Whats App masuk. Dari Mas Gol A Gong

Rud, Dinama? Pasang instalasi buat pangung WBD besok. Jangan pasang balon kayak acara anak-anak!

Saya jawab

Di RD. ada Adam dan Oja

Tak lama Mas Gol A Gong keluar dari Museum Literasi Gol A Gong. “Angkat sepeda ontel! Bawa Kedepan. Mesin tik, manekin, topi caping dan replica tugu 0KM Anyer-Panarukan!”

Saya kemudian membawa beberapa barang yang bisa saya bawa, sisanya dibawa Adam dan Oja. Siang ini, Sabtu, 25 April 2026, langit di atas Rumah Dunia sedang cerah-cerahnya. Suara musik dangdut dari acara hajatan (halaman Rumah Dunia bisa disewakan untuk acara pernikahan) mengiringi kami yang memasang ini-itu sebagai hiasan panggung WBD besok.

Hari ini bukan hari biasa—kami di Rumah Dunia bersiap menyambut World Book Day Rumah Dunia 2026.

“Janga nada backdrop yang menghalangi RB3 (perpustakaan Rumah Dunia), ya!” begitu perintah Mas Gol A Gong. “Hari ini, begitu juga untuk kedepannya. Pasang Backdrop acara di bagian sisi panggung!”

Kami memasang instalasi  sambil bercanda, tapi di balik itu ada keseriusan yang terjaga. Setiap detail diperhatikan. Instalasi bukan sekadar hiasan, tapi symbol. Rumah Dunia adalah wadah bagi kesenian, literasi dan sastra. Panggung harus mencerminkan semangat ketiganya.

Tak lama kemudian, beberapa penasihat Rumah Dunia datang. Salah satunya adalah Firman Venayaksa, yang juga Kepala Perpustakaan Untirta. Lalu ada juga Qizink La Aziva, relawan senior Rumah Dunia. Mereka terus mengamati dan sesekali memberi masukan. Tidak menggurui, tapi membimbing. Mereka seperti penjaga arah, memastikan bahwa semangat yang kami tunjukan di panggung tetap pada jalurnya: seni, literasi dan sastra yang membumi, yang dekat dengan masyarakat. Suasana seperti itu yang selalu membuat Rumah Dunia terasa hidup—bukan sekadar tempat, tapi ruang kebersamaan.

Kami memasang rak beserta bukunya. Sepeda ontel, topi caping, lampu petromak, replika kotak pos, replika 0KM Ayer-Panarukan, lukisan abstrak, manekin, meja, kursi dan lainnya. Silakan kalian interpretasikan sendiri maknanya. Hehehe…

Siang mulai turun ketika instalasi hampir selesai. Panggung yang tadi kosong kini berubah menjadi ruang yang penuh makna. Saya berdiri beberapa langkah menjauh, memandangi hasil kerja kami. Cukup! Menurut saya. Pekerjaan diakhiri, dan dilanjut besok dengan memarkir mobil perpustakaan keliling Rumah Dunia dan beberapa cover buku para penulis yang meluncurkan bukunya di World Book Day Rumah Dunia 2026.

Kami para relawan kemudian berganti baju batik, mencicipi hidangan yang sedang hajatan. Lapar juga setelah bekerja ^_^.   

Capek?

Jangan ditanya!

Saya sudah membuang kata itu dari kamus setiap kali melakukan kegiatan bersama Rumah Dunia.

 

Firman Venayaksa, Adam dan Rudi


Firman Venayaksa dan Gol A Gong






World Book Day Rumah Dunia 2026

Ini kali kesekian saya mengikuti acara World Book Day (Hari Buku Sedunia) di Rumah Dunia. Acara ini program rutin, jadi setiap tahun pasti terselenggara. Entah dengan gegap gempita ala perayaan besar atau intimate diskusi buku atau gerakan literasi. Tahun lalu diperingati dengan diskusi berasa Lidia, Duta Baca Kota Serang dan RG Kedung Kaban, Ketua Forum TBM Provinsi Banten. Tahun sebelumnya lagi Rumah Dunia berkolaborasi dengan Perpustakaan Nasional RI, melalui Perpusnas Press meluncurkan 114 buku. Jauh lagi tahun-tahun yang sudah Rumah Dunia pernah meluncurkan buku yang lebih banyak. 

Itu dulu saat relawan di Rumah Dunia banyak. Hari ini  26 April 2026 Rumah Dunia kembali merayakan Hari Buku Sedunia (World Book Day). Saya sebagai presiden Rumah Dunia 2025-2030 hanya baru bisa meluncurkan 28 buku karya penulis Banten. Bukan bermaksud disclaimer, tapi saat ini kondisinya berbeda. Relawan sedikit dan waktu persiapan sebentar karena ada libur Hari Raya Idul Fitri 1447 H.

Namun dengan kondisi yang ada acara World Book Day Ruamh Dunia 2026 tetap berjalan. Kegiatan digelar di Teater Terbuka Rumah Dunia. Diisi juga dengan orasi literasi oleh Kepala Perpustakaan Nasional RI, Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D. Perayaan bertajuk “Dari Banten untuk Dunia” tersebut dihadiri pegiat literasi, pelajar, mahasiswa, serta masyarakat umum. Saya mengucap syukur berkali-kali karena acara ini berlangsung, meski banyak catatan. 

Dalam orasinya, Prof. Aminudin Aziz menegaskan pentingnya penguatan budaya literasi sebagai fondasi pembangunan bangsa. Ia menyebutkan bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dan memahami informasi secara mendalam. “Buku adalah instrumen utama dalam membangun peradaban. Melalui buku, kita tidak hanya mewariskan pengetahuan, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan,” pesan Prof. Amin di hadapan peserta.

Saya mengucapkan terima kasih kepada para relawan yang sudah membangu terselenggaranya kegiatan ini. Kepada para penulis juga kepada Perpustakaan Nasional RI. Oh iya tentu kepada Rumah Dunia dan para penasihatnya, Mas Gol A Gong, Mbak Tias Tatanka dan Mas Toto ST Radik. Ini  pengalaman berharga buat saya.

 










Peluncuran buku 28 buku karya penulis Banten

1. Pusaka Satria, Selfietera, Juni 2025, Miko Morris 
2. Suara dari Alaska, Penerbit Komentar, Heru Anwari 
3. Timur dari Masa Lalu, Langgam Pustaka, Toto ST Radik  
4. Bangkit dari Bullying, Gong Publishing, Peserta Certalik, Gol A Gong batch 1 Lina Khaeriah
5. Pantun Serumpun hati Berpaut, SIP Publishing, Lina Khaeriah
6. Jo, SLBooks.Id, Lina Khaeriah
7. Sunyi yang Masih Bersuara, Gong Publishing, Jawaralangit 
8. Kekasih, Media Guru, Rahayu Sukmanto.
9. Bisakah Aku Bertahan?, Media Guru, Rahayu Sukamto.
10. Ruang Tamu, SIP Publishing, Rahayu Sukamto.
11. Menyebrang Batas, SIP Publishing, Rahayu Sukamto
12. Sahabat Sepanjang Cerita, SIP Publishing, Rahayu Sukamto
13. Akar Serumpun Anyaman Rasa, SIP Publishing, Rahayu Sukamto
14. Mencari Jalan Pulang, Oase, Usman Hermawan. 
15. Wanita Kabut, Gong Publishing, Armakalaya 
16. Orang Gila Sebelum Menulis Esai, Penerbit Komentar, Encep Abdullah. 
17. 221 Hari Jakarta-Afrika Tanpa Terbang, Catatan perjalanan Obey W. Sianipar
18. Negeri Permen: Igo dan Si Peri Nakal, MCM Pub 2025, Tias Tatanka 
19. Negeri Permen: Igo dan Kxaoepwo. MCM Pub 2025, Tias Tatanka
20. Bingkisan Kisah Kehidupan, Calysta Tabina Almahira. Siswi SMPIT AL-IZZAH kelas 8
21. Monolog Juli, karya Aphradita Sekar Kamaratih NC, siswi kelas 8 SMPIT AL-IZZAH
22. Cermin Kehidupan, Dewi Hevi, guru di kota serang
23. Mahya wal Mamat, Elmantiq Publishing, Langlang R.
24. Andra, Penerbit Komentar, Qizink La Aziva
25. Greed Files, Antologi Cerpen Antikorupsi, Sip Publishing, Qizink La Aziva, Daru Pamungkas, Agus Helvy Rahman, Jawaralangit, Gol A Gong, Rahayu Sukamto. Lina  khaeriah. 
26. Silsilah Keringat Ayah, SIP Publishing, Rahayu Sukamto, Lina Khaeriah
27. Skuadron 4, Zikrul Hakim, April 2026, Gol A Gong
28.   Benih Untuk Mimi, Gong Publishing, SMP Unggulan Uswatun Hasanah 


 

Sabtu, 08 Agustus 2020

Kado Buat (Calon Penyair) Djoe Taufik

 

Kado Buat (Calon Penyair) Djoe Taufik 

(Fresh Graduate yang Sedang Merayakan Ulang Tahunnya yang ke-24)

 

Menulis puisi itu tidak sulit, tapi menjadi penyair itu tidak gampang. Satu kalimat dari Imam Budhi Santosa itu jika ditafsirkan secara serampangan, oleh orang awam dalam dunia perpuisian seperti saya, barangkali maknanya bisa begini; siapa saja bisa menulis puisi, tapi sedikit yang menulisnya dengan baik layaknya seorang penyair.

Banyak penyair mengatakan bahwa menulis puisi bukan perkara mudah; butuh permenungan yang lama, pemilihan diksi yang selektif, menemukan kebaruan frasa, memperhitungkan kedalaman makna, dan banyak lagi hal-hal lain yang mesti diperhatikan seorang penyair. Tapi tidak sedikit juga yang menyatakan menulis puisi itu sesederhana menyeduh kopi instan; puisi hari ini sudah sangat bebas dan seringkali menabrak kaidah-kaidah yang dulu dibuat, bahkan beberapa puisi menghancurkan definisi puisi itu sendiri; contohnya menulis puisi kini sudah lepas dari rima dan keteraturan baitnya. Bebas!

Beberapa hari lalu saya disodorkan sebuah buku kumpulan puisi Fragmen Awal karya Djoe Taufik.  Saya bukan penulis puisi tapi menolak bukan pilihan bijak. Dengan cover merah bergradasi puih itu nampaknya Djoe Taufik sedang berada di puncak semangat. Berani? Bisa demikian, tapi saya melihat merah pada cover Fragmen Awal justru bukan sebuah keberaian (dalam melahirkan sebuah karya) tapi kenekatan, yang juga diakui Djoe Taufik dalam prakata dalam buku ini.

Sebelum menerbitkan buku kumpulan puisi terbarunya ini, puisi-puisi Djoe Taufik sudah terlebih dahulu tergabung dalam beberapa buku antologi puisi; Kunanti Kau di Sudut Senja (Titik Embun: 2018), Bersama Kata (Gong Publishing: 2018), Dari Balik Batu-Batu (Nulisbuku: 2019), Kuterima Dukamu (Lumbung Banten: 2020) Majalah Sastra Kandaga (Kantor Bahasa Banten: 2020). Barangkali jejak-jejak inilah yang melatarbelakangi keberanian (baca: kenekatan) Djoe Taufik dalam menerbitkan buku kumpulan puisi. Keberanian itu jugalah yang kemudian menjadikan Djoe Taufik seperti orang kebelet. Terburu-buru. 

 

Meski dimaksudkan untuk merayakan hari kelahiran dan prosesi wisuda, sebagai orang yang mafhum dalam dunia perbukuan Djoe Taufik tidak semestinya menerbitkan buku dengan tergesa-gesa. Penting bagi seorang penulis memberikan identitas dan kualitas pada karya yang ia tulis, termasuk Djoe Taufik, menjadi kurang bijak jika seorang penulis mengabaikan keduanya. Tapi lagi-lagi sepertinya sulit bagi Djoe Taufik untuk tidak menerbikan buku sekarang ini, dengan semangatnya juga kegembiraannya yang sedang meletup-letup.

Begitulah kesan saya terhadap buku puisi Fragmen Awal. Lalu bagaimana dengan puisi-puisi di dalamnya. Secara umum puisi-puisi itu lahir dari peristiwa-peristiwa yang dialami penyair dari tahun 2013 hingga 2020 yang bisa dilihat dari titi mangsanya; dari mulai nyantri (sekolah), hingga kuliah dan lulus, satu puisi lahir dan dipersembahkan untuk Gol A Gong, yaitu puisi Bolehkah. Akan terlalu banyak kata jika harus membahas 61 puisi Djoe Taufik satu-persatu. Puisi di bawah ini adalah puisi yang saya temukan secara acak saat akan coba bahas secara teknis dan tehnik dalam kepenulisannya.

 

SEMPAK MERAH

 

sudah lama aku tidak pakai sempak

celana yang kupakai selalu bermasalah

sempak simbol kependudukan

 

aku coba membuat sempak

mencari bahan ke anyar

aku bayar 50 ribu untuk prosesnya

tapi bahan itu dimakan tikus

oh tikus sialan

 

ingin rasanya kutelanjang

menikmati kebebasan warga dunia

merasakan keindahan sistem

pemerintahan dengan senyuman

 

Serang, 21.02.2020

 

Puisi naratif (menceritakan peristiwa berdasarkan urutan waktu) yang ditulis oleh Djoe Taufik dengan judul Sempak Merah di atas, jika dibaca selintasan, puisi tersebut ditulis dengan spontanitas. Puisi itu tercipta begitu saja untuk melepaskan emosi (perasaan) setelah penyair mengalami satu peristiwa yang (entah itu) lucu, menjengkelkan, menyedihkan atau perasaan lainnya. Puisi tersebut belum sampai pada dua makna definisi puisi yang disampaikan Wordsworth, bahwa puisi merupakan the spontaneous overflow of powerful meaning. Pada puisi ini Djoe Taufik baru sampai pada definisi pertama (spontaneus overflow) yang diiringi dengan luapan emosi yang sulit disembunyikan dalam diksi; sialan, kebebasan, keindahan, dan senyuman. Djoe Taufik melupakan makna kedua (powerful meaning), tentang kedalaman makna, pesan dan pengendalian emosi yang semestinya diimajinasikan (disembunyikan) dalam bentuk frasa atau kalimat yang lain, jika kata almarhum eyang Sapardi; Bilang Begini Maksudnya Begitu.

 Peristiwa yang terjadi dalam puisi ini, si aku liris menggambarkan dirinya yang tidak memiliki tanda kependudukan, dan itu sering menjadi masalah bagi dirinya saat melakukan aktivitas yang menuntut untuk menunjukan tanda data diri. Kemudian si aku liris mencoba untuk membuatnya, prosesnya ia tempuh dari mengumpulkan syarat-syaratnya hingga ke Anyar (tempat lahir penulis, saat itu penulis sedang kuliah dan tinggal di Kota Serang). Hingga kemudian proses administratif, menuntut si aku mengelurkan sejumlah uang, namun rupanya gagal. Si aku kemudian marah, dan objeknya adalah “tikus sialan” yang tak lain adalah petugas pembuat tanda kependudukan. Pada bait selanjutnya si aku “kalah” dan pasrah oleh keadaan yang dialaminya, hingga muncullah harapan-harapan, akumulasi dari peristiwa-peristiwa yang terjadi padanya.

 Dari metafor atau simbolisasi yang dibuat oleh Djoe Taufik melalui aku liris dari puisi Sempak Merah. Diksi “merah” pada frasa “sempak merah” bisa pembaca (saya) asumsikan itu adalah perasaan jengkel atau marah, dengan merujuk kata “sialan” pada larik kedelapan di bait kedua. Sedangkan diksi “sempak” makna sesungguhnya “dibocorkan” Djoe Taufik pada larik ketiga /sempak simbol kependudukan/. Lalu apa yang dimaksud dengan simbol kependudukan? Bisa apa saja; paspor, Kartu Tanda Penduduk, Karu Keluarga dan simbol-simbol lainnya. Jadi Si Penyair pada puisi ini sedang marah kepada simbol kependudukan? Wallahua’lam. Silakan lihat larik-larik senjajutnya dalam puisi ini!

 Dalam puisi ini, Djoe Taufik tanpa tedeng aling-aling menusuk pada objek yang menjadi temanya; tanda atau simbol kependudukan. Puisi dengan 12 larik dan 3 bait ini, diksi dan frasanya tidak banyak menampilkan kebaruan. Selain itu, jika benar yang dimaksud dengan “sempak” adalah tanda atau simbol kependudukan, mengapa penyair menuliskan kalimat /ingin rasanya kutelanjang/? Jika benar, maka “telanjang” (menaggalkan seluruh pakaian), bisa diartikan dengan menanggalkan simbol-simbol kependudukan seperti paspor, KTP dan lain sebagainya. Tapi di larik selanjutnya “si aku” ingin /menikmati kebebasan warga dunia /merasakan keindahan sistem/ pemerintahan denan senyuman/. Bagaimana mungkin seseorang menikmati kebebasan menjadi warga dunia (berpindah dari negara ke negara lain) tanpa tanda kependudukan atau identitas diri. Bagi saya bait ketiga dalam puisi ini dalah paradoks yang sempurna untuk melemahkan puisi, dan menghancurkan kesempurnaan puisi itu sendiri.

 Dalam puisi ini saya merasakan bahasa (diksi, frasa dan kalimat) keseharian yang biasa-biasa saja, yang dibuat dengan sangat sederhana. Dari puisi di atas juga saya merasakan penyair (Djoe Taufik) kurang giat, untuk mencari dan membuat kebaruan frasa juga metafor. Misalkan pada metafor “tikus” yang pada puisi ini jelas dikonotasikan sebagai orang dengan prilaku rakus (sebut saja korup).  Kata “tikus” sudah sangat umum untuk mendeskripsiakn itu.

 

Membaca buku kumpulan puisi Fragmen Awal karya Djoe Taufik ini, saya merasa Djoe Taufik (belum dewasa dan) terus tumbuh dalam menulis puisi. Hal itu terlihat dari puisi-puisisnya pada tahun 2013, yang terus mengalami perubahan (lebih baik) jika dibandingkan dengan tahun 2020. Dengan berat hati saya harus mengakui Djoe Taufik belum mencapai kematangan sebagai seorang penyair. Maka untuk menuju maturitas tersebut, Djoe Taufik mesti terus tumbuh dengan bacaan, pengalaman serta pengetahuan sebagai suplemen untuk melahirkan puisi-puisi berikutnya.  

Oh, iya, puisi “Sempak Merah” di atas hanya satu contoh puisi, bukan berarti merepresentasikan keseluruhan puisi-pusi dalam Fragmen Awal. Lalu bagaimana dengan puisi-puisi lainnya? Silakan Anda baca dan tafsir sendiri. Hubungi Djoe Taufik di Instagram atau Facebook untuk tahu bagaimana cara mendapatkan buku ini, lalu bacalah!

Penulis; Rudi Rustiadi, mahasiswa yang dituntut untuk segera lulus kuliah sebelum covid-19 berakhir dan situasi menjadi normal kembali.

Rabu, 14 November 2018

Di Bawah Pohon Kersen

Di Bawah Pohon Kersen
Cerpen Rudi Rustiadi

Kusibakkan tirai jendela sedikit. Citra abah muncul dalam pandangan. Ia menyilangkan kaki di atas lincak. Matanya tajam dan awas mendelik murid-muridnya berlatih. Sesekali abah memberikan aba-aba sembari menendang kaki muridnya jika posisi kuda-kudanya tidak sigap menerima serangan.
Sekedip kemudian abah membakar ujung kreteknya. Sececah cahaya muncul, kumis tebal dan raut wajah penuh ketegasan dengan garis rahang kokoh samar terlihat di kegelapan, kemudian kembali lesap. Paras yang melahirkan gidik dan ciut nyali pada setiap tengkuk orang yang melihatnya. Paras itu kembali hadir dalam remang kemerahan bila abah menghisap kereteknya. Paras yang mengingatkanku pada satu malam.
***
Malam nahas yang kacau. Suara vas pecah memutus tidurku. Aku tergegau. Di ambang pintu kamarku kulihat abah menuding-nuding wajah ibu yang basah oleh simbah airmatanya.
“Pergi!” Laung abah.
Serta-merta airmataku ikut buyar. Aku rengek meminta ikut dengan ibu tapi abah menahanku. Tangan kiriku ditarik ibu sedang lainya dalam genggaman abah. Ia amat kalap, tonus rahangnya tertarik, nadi di lehernya menonjol, matanya nyalang memerah. Tangan abah mengayun deras ke pipi ibu lalu mendorongnya hingga tersungkur. Aku gidik menyaksikannya. Ibu meringis memegangi wajah manainya.
Aku berlari medekali ibu, tapi sekali lagi abah menghalangiku. Aku memaksa. Sial menjadi temanku malam itu, telapak tangan pejal abah mendarat kencang di wajahku. Ibu pergi tapi amukan abah tak kunjung redam. Abah menyambar bingkai di atas lemari lalu membantingnya. Sibiranya burai berserakan. Aku masuk ke kamar, tersedu-sedan di balik pintu. Malam itu aku menampung berlimpah amarah. Aku dengki dengan pria yang sejak kecil kupanggil abah itu. Aku tak lagi mau belajar catrok, totog atau seliwa. Tak lagi manut. Membangkang semua perintahnya. Di rumah, kami jarang bertegur sapa. Aku serupa madi kesepian yang setiap hari memintal angan agar ibu kembali, menahan renjana padanya. Aku rindu bermanja-manja di pangkuannya sembari memainkan landang sebesar biji jagung yang menyembul di bawah rahang kanannya.
Pernah terkelebat dalam otakku untuk mengakhiri hidup abah, menusuknya dengan belati, tapi hasrat itu urung kupenuhi, sepertinya akan menajdi hal yang percuma karena abah punya ilmu jaduk. Seringkali kulihat abah dan teman-temanya berlatih, menohokkan besi runcing di perutnya, menetak tangannya dengan golok, atau berjalan telanjang kaki di atas bara api maupun beling. Benda-benda itu tak sedikitpun menciderinya, menggores kulitnya pun tidak.
Satu hari abah pernah menuturkan perihal kekalutannya malam itu. Abah berdalih yang dia lakukan itu untuk kebaikanku dan kehormatannya. Tapi aku memilih untuk tidak mempercayainya. Mana mungkin berpisah dengan ibu baik untukku. Apalagi abah mengusirnya dengan alasan hanya karena ibu pulang larut.
Kenangan itulah yang saat ini membuatku berani melanggar aturannya, juga membangkang semua titahnya. Meski begitu perasaan takut nyalar menyerangku tiap kali melawan kehendak Abah. Tapi malam ini aku benar-benar mesti pergi dari rumah, alasannya bukan untuk melanggar perintah Abah, melainkan untuk melihat Jeny.
Aku harus segera keluar. Di persimpangan jalan aku sudah dinanti sobatku, Jhon, murid alihan dari Jakarta, rekan sekelasku, teman yang berbeda juga unik.  
Saat pertama kali diperkenalkan di depan kelas enam bulan silam, Jhon memang lain. Tidak ada satu siswa lain yang sama dengan penampilannya. Seragam Jhon dikeluarkan, bibirnya hitam, rambutnya gondrong berantakan. Setelah Pak Sueb menyuruhnya duduk di sampingku, aku semakin yakin bahwa Jhon berbeda. Kulihat tiga lubang halus pada daun telinganya, laiknya anak perempuan sedang mencopot antingnya.
Satu pekan Jhon di sekolah, siswa-siswi lain giat membincangkannya. Di kantin, Enis, Siska, Dewi juga Eha mengatakan Jhon itu mantan brandal, pemeras, banyak juga mulut lain yang mengejek Jhon. Mereka juga acap kali menatap Jhon dengan pandangan tak ramah.
Aku juga pernah tidak sengaja mendengar Darno, Ovan dan Rusly memperdebatkan perihal pekerjaan orangtua Jhon di toilet sekolah.
“Ayah Jhon itu pengedar,” ungkap Darno.
“Bukan, bapaknya itu bajul,” sela Ovan.
“Lu, semua salah, babenya itu germo,” tukas Rusly, menutup diskusi mereka.
Aku pernah memberitahu Jhon tentang itu. Tapi ia tidak ambil pusing. “Mereka cuma angin,” katanya.
Jhon sama seperiku, Jhon tidak punya ibu. Jhon jugalah yang mengenalkanku tentang Jeny. Masih lekat dalam ingatan tiga bulan silam saat kami bolos untuk ke bioskop, Jhon merisik di telingaku. “Kau harus datang ke rumahku! Ada mawar cantik di sebelah rumahku.”
Ajakannya kubiarkan dingin. Jhon tetap gigih merayuku untuk datang ke rumahnya. “Aku tidak suka mawar,” kutolak.
“Ini mawar yang beda. Kau pasti akan suka. Tidak akan mungin kaukecewa atau menyesal setelah datang ke rumahku dan melihatnya,” Jhon meyakinkan.
“Baiklah,” anggukku kemudian. Jhon memang pandai membuatku penasaran.
Keesokan paginya sebelun ke sekolah, aku menjemput Jhon ke rumahnya. Begitu melihat kemunculanku dari balik gerbang, Jhon langsung mengajakku ke samping rumahnya. Sepi. Sama sepertiku Jhon hanya tinggal dengan bapaknya yang katanya sekarang pulas seusai semalam bekerja.
Di sayap kiri rumahnya, pada pagar kayu kusam yang membatasi rumahnya dengan rumah Jeny terselip lubang sebesar ibu jari yang sengaja Jhon ciptakan. Dari lubang itu kami bisa melihat Jeny. Aku memejamkan mata kiriku dan mendekatkan mata kananku pada lubang itu. Jeny tanpak sedang merentang kain basah dan cawat pada seutas kenur di jerambah belakang rumahnya. Kain batik yang basah melilit sekaligus membentuk lekuk tubuhnya dengan nyata dari dada hingga pahanya. Kelihatannya Jeny baru saja selesai mandi. Rambutnya kuyup, tergerai terjun ke belakang telinga, melintir ke depan dan terjumbai di dada.
Sesekali Jeny berdiri membelakangiku dan Jhon, sehingga kami bisa melihat punggungnya yang terbuka. Ada daya pikat pada kontras warna rambut yang pekat dengan kulit tengkuk Jeny yang putih dan mulus. Tungkainya jenjang. Ketika berjinjit merentangkan jemurannya, kain batik yang mengantung jauh dari lututnya terangkat. Mata kami leluasa melihat pahanya yang bersih. Aku dan Jhon gergantian melihatnya hingga beberapa kali. Kerlip titik-titik air yang menempel di pipi, leher dan bahunya yang diterpa sinar matahari menambah keindahan tubuhnya. Ucapan Jhon memang benar, Jeny itu mawar. Mawar putih yang bersih dan mulus tanpa noda.
***
Akhirnya aku bisa keluar setelah Abah masuk ke dalam toilet. Aku bergegas kabur menyusuri lorong gang sempit menuju jalan raya. Seperti yang telah kuyakini, Jhon sudah menungguku di persimpangan jalan dengan kaos tanpa lengan dilapisi jaket belel, dipadu dengan jeans rombeng buluknya. Kami segera menuju bar di pinggiran kota. Memanjat tembok belakangnya lalu berlikut di balik mobil.
Lama kami bersembunyi. Aku mulai takut. Kuyakin Jhon bisa merasakannya. Ia menyodorkan rokok. Aku menerima dan menyulutnya. Orang bilang tensi akan berkurang seiring dengan asapnya yang kita hembuskan. Tapi aku remaja kencur yang masih hijau, aku malah terbatuk, tenggorokanku gatal. Menghisap rokok adalah hal baru bagiku, beda urusan dengan Jhon yang sejak kelas satu SMP sudah menghisapnya. Aku berhenti mencerup rokok, mengacuhkannya terselip diantara jari tengah dan telunjukku.
“Jhon, sebaiknya kita pulang saja! Sudah larut. Jeny tak akan datang,” keluhku. Aku menudingkan arloji yang melingkar di tangan kiriku tepat pada wajah Jhon. Pukul setengah satu, itu artinya sudah dua jam kami menungu Jeny.
“Kita kadung di sini. Tunggulah sebentar lagi!”
“Tapi aku sangat takut. Bagaimana jika ayahku tahu aku ke luar rumah malam ini?”
“Memang itu yang kau mau, bukan? Melanggar aturannya?”
“Sebetulnya, iya,” anggukku pelan dengan napas berat. “Tapi aku takut.”
“Tenang! Aku akan membantumu jika ayahmu memarahimu.”
“Kita tidak akan sanggup menahan amarahnya. Kau ingat saat kita dimintai uang oleh empat preman berbadan besar di terminal? Dengan sekali hantaman, meski merka menyerang ayahku dengan belati dan keroyokan, ayahku dengan mudah meringkus merka, kauingat itu?”
Jhon tepekur, lantas berujar, “oh, ya, aku lupa, ayahmu seorang jawara.”
Sesaat sepi. Hanya percik halus tembakau terbakar yang terdengar saat Jhon menghisap rokoknya. Purnama di tubir malam memicu kelopakmataku menjadi berat. Aku rebah di atas rerumputan, kini  langit seolah tidak lagi jauh di atas tapi dekat, percis di hadapanku.
“Lihat! Itu mawar kita!” Mata Jhon berbinar. Mungin sama juga halnya aku ketika kupandangkan mataku pada sosok Jeny. Kami melihat Jeny keluar dari rahim kafe dengan gincu serupa nyala lampion di bibirnya. Jeny kian menawan saat menampakan segurat senyum di bibirnya.
Ah, perempuan yang nyalar menyematan rok pendek dan baju minim pada tubuhnya itu menunjukan dadanya yang bernas, selalu berhasil menyita pandangan kami. Muncul rasa yang aneh ketika melihat perempuan itu meski hanya dari kejauhan. Ada yang bergairah, membuat jantungku berdesir.
Jeny tidak sendiri, dia bersama teman prianya. Keduanya berjalan terhuyung. Si Pria menempelkan punggung Jeny ke dinding lalu bibir hitam tebalnya dipendamkan pada wajah Jeny, kemudian turun ke lehernya. Jeny geming.
Tidak lama seorang wanita lain keluar bersama lelakinya juga, berjalan gontai cekikikan. Aku seperti mengenal wanita itu. Kedua mataku kusipitkan untuk meyakinkannya. Aku beringsut mendekati kersen, kutepis helai daun yang merintangi pandanganku. Aku diantara  percaya-tidakpercaya dengan mataku sendiri. Kupandangi landang di bawah rahang kanan wanita itu lekat-lekat. Bukan, itu bukan dia! Tidak mungkin dia! Pikirku. Aku memutuskan untuk tidak percaya pada mataku.
Aku menajamkan pendengaranku. Diantara riuh dentuman musik, lapat-lapat kudengar suara manja lelaki yang kini melingkarkan kedua tangnnya di pinggang wanita itu berpesan, “besok malam jangan sama yang lain, ya! Aku akan datang.”
“Beres, asal jangan lupa bawa uang yang banyak,” balas wanita itu, seraya mencubit pinggang si lelaki, lalu melingkarkan kedua tangannya pada leher lelaki itu. Ujung hidung mereka saling beradu. Wanita itu kembali berjalan terhuyung cekikikan dan terus berceracau hingga hilang di balik pagar membawa derai tawa bersama lelakinya.
Ah, aku sangat kenal dengan suara itu. Tapi sekali lagi aku memilih tidak percaya pada indraku. Di tepiku Jhon melongo. Ganjil melihat bolamataku karam oleh air yang riung di kelopakmata.
“Ada apa denganmu, Ridwan?”
Pertanyaan pendek itu tak mendapatkan sahutan. Aku geming, tegak di bawah kersen. Mataku lamur, lalu kulempar tatap kosong sejauh mungkin.

No. HP : 08777-10-7373-0