Rudi Rustiadi's Blog
Jumat, 08 Mei 2026
Ngopi Senja #1 Timur dari Masa Lalu
Meski acara dimulai pukul 16.00 sore menjelang senja, tapi pembahasan tentang puisi Timur dari Masa Lalu (Langgam Pustaka:2026) begitu hangat disampaikan oleh pemantik diskusi Wahyu Arya, penyair yang juga jurnalis bantennews.co.id
Alhamdulillah dalam waktu 30 menit Dipta tenang tidak rewel. Dia duduk santai di pangkuan sesekali juga tidur-tiduran. Berbekal buku bacaan bermutu bantuan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Timur dari Masa Lalu diinterpretasikan oleh Wahyu Arya sebagai bentuk keresahan seseorang (dalam hal ini aku liris dalam puisi) yang mencari atau mempertanyakan tentang eksistensial dirinya. Si Aku sangat gelisah tentang siapa dirinya, dari mana dia berasal, di mana dia tinggal dan akan ke mana tujuannya?
"Pertanyaan-pertanyaan itulah yang ingin dicari Si Aku dalam buku puisi Timur dari Masa Lalu. Kenapa semua itu ingin dicari? Karena Si Aku gelisah tentang kesejatian eksistensinya. Keresahan dan kegelisahan eksistensial Si Aku disampaikan melalui bahasa puisi," jelas Wahyu.
Namun pada akhirnya. Hingga kita sudah habis melahap 40 (untuk jumlah puisi penulis fleksibel bole dikatakan 40 atau 1, sebab sejatinya itu 1 kesatuan utuh) puisi yang ada dalam buku ini, kita tidak pernah menemukannya. Bahkan Si Aku juga tidak pernah final menjawab siapa dari mana dan ke mana tujuan Si Aku ini. Kita tidak bisa menemukan dengan pasti jawabannya.
Wahyu juga menjelaskan bahwa “timur” dalam puisi-puisi Toto ST Radik bukanlah timur geografis, tapi filosofis. Itulah salah satu yang membuat buku puisi Timur dari Masa Lalu itu menarik. Banyak hal yang harus digali satu demi satu untuk mengungkap makna puisinya.
Menurut Wahyu, Timur dari Masa Lalu merupakan puisi yang sangat reaktif terhadap isu-isu sosial yang terjadi. Penulis berusaha merespons peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan lirik-lirik melankolis, jauh dari optimisme, tapi tetap reflektif. Wahyu mengatakan bisa jadi Si Aku dalam puisi itu adalah kita.
Ledakkan Idemu Sebelum Kepalamu Meledak
Ledakkan Idemu Sebelum Kepalamu Meledak, saya lupa bagaimana tepatnya mendapatkan buku ini, yang jelas tahun 2014. Entah itu sebagai buku pegangan Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 23 atau dapat dari "sembako buku" yang dibagi-bagikan kepada para peserta Jambore TBM di Rumah Dunia di tahun yang sama.
Sebagai peserta pelatihan menulis yang ingin bisa menulis, saya membacanya
pelan-pelan. Buku bertebal 93 halaman ini saya habiskan dalam dua hari. Saya membaca
versi cetakan keduanya yang terbit Februari 2014. Sampulnya didominasi warna
hijau yang memuat wajah Gol A Gong dikelilingi buku-buku. Cetakan pertama buku
ini Mei 2010.
Kabarnya Mei 2026 buku ini akan naik cetak untuk kali ketiga. Selamat Mas
Gol A Gong. Saya ikut senang karena buku ini menjadi koleksi perpustakaan di
rumah saya, juga tentunya pernah mengisi pikiran, hari dan hati saya.
Hal yang paling saya suka dari buku ini adalah cara Gol A Gong bercerita.
Gaya bahasanya ringan, mengalir, dan terasa akrab. Seolah-olah sedang ngobrol
langsung dengan pembaca. Kita diajak melihat bagaimana perjalanan seorang anak
kampung dari Serang yang penuh keterbatasan, kehilangan tangan kirinya, tapi
tidak kehilangan mimpi. Dari situlah buku ini punya tenaga emosional yang kuat.
Bagian tentang masa kecil, perjalanan ke Palmerah, perjuangan membawa
naskah Balada Si Roy ke majalah HAI, sampai cerita membeli tangan palsu
demi menjaga rasa percaya diri—semuanya terasa sangat manusiawi. Tidak
dibuat-buat. Ada semangat “kalau orang lain bisa, saya juga harus bisa” yang
terus menyala di setiap halamannya.
Saya juga menikmati bagaimana buku ini tidak hanya bicara soal menulis,
tetapi soal cara memandang hidup. Ide, menurut Gol A Gong, bukan sesuatu yang
jatuh dari langit. Ide ada di jalanan, di perjalanan, di obrolan dengan ibu, di
terminal, di pasar, bahkan di luka hidup kita sendiri. Itu yang membuat buku
ini terasa dekat dengan siapa saja—bukan hanya calon penulis.
Ada satu kesan yang cukup membekas: buku ini seperti sedang berkata bahwa
menulis bukan soal bakat semata, melainkan soal keberanian untuk memulai dan
ketekunan untuk terus berjalan.
Hal lain yang menjadi kekuatan buku ini adalah catatan memoar panjang
dibanding buku panduan praktis menulis. Jadi, pembaca tidak merasa sedang
digurui saat membacanya, melainkan diajak memahami proses kreatif secara alami.
Kita belajar menulis sambil ikut berjalan bersama pengalaman hidup penulisnya.
Bagi saya buku ini cocok dibaca oleh pelajar yang ingin mulai menulis,penulis
pemula yang sering minder, bahkan orang yang sedang kehilangan semangat hidup
yang tidak punya niatan menulis. Buku ini bukan sekadar buku motivasi menulis.
Ini buku tentang bertahan hidup melalui kata-kata.
Setelah membaca buku ini, saya merasa satu hal: kadang kepala kita memang
penuh ide, penuh keresahan, penuh mimpi. Dan memang benar kata Gol A Gong: cara
terbaik agar kepala tidak meledak adalah menuliskannya.
Kalau kalian ingin punya juga, silakan pesan. Sekarang sedang masa pra pesan. Ayo jangan sampai ketinggalan. Hubungi nomor yang ada di poster!
![]() |
(ini penampakan cover buku cetakan ketiganya). |
Sabtu, 02 Mei 2026
Rekomendasi Buku Untuk Bupati Lebak
Oleh Rudi Rustiadi
Presiden komunitas Rumah Dunia 2025-2030.
Selasa (31/3) lalu saya berkunjung ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten. Kunjungan ini tidak saya rencanakan sebelumnya, hanya iseng untuk mencari hiburan di ruang yang sejuk. Sambil berharap menemukan buku penghilang penat setelah bermacet-macetan saat pulang mudik lebaran dari Kabupaten Kuningan. Awalnya saya mencari buku yang ringan seperti novel atau kumpulan cerpen. Tapi nyatanya saya malah tertarik pada rak buku 100-199 yang dipenuhi buku-buku epistemologi, psikologi, etika, logika dan sejenisnya.
Setelah melihat-lihat, akhirnya saya mengambil buku Bicara Itu Ada Seninya
(BIP: 2019) karya Oh Su Hyang. Dalam buku ini dijelaskan bahwa kata-kata punya
kekuatan besar. Ucapan bisa menyembuhkan juga bisa melukai. Cara bicara
menentukan hubungan seseorang dengan orang lain. Oh juga menuliskan bahwa
ucapan adalah sarana penting untuk menilai seseorang secara keseluruhan.
Seperti yang dituliskan Oh di halaman 7 bukunya: Dari ucapan kita menerima
kesan baik dari lawan bicara.... Jadi, berbicara bukan hanya yang seseorang
katakan tapi, bagaimana seseorang tersebut mengatakannya.
Dari buku ini, saya juga mendapatkan pembelajaran bahwa nilai seseorang
dinilai ketika berbicara. Selain itu juga empati dalam berbicara, dengan
memahami perasaan lawan bicara. Intinya buku ini menyampaikan jangan asal
bicara tanpa memikirkan dampaknya. Berbicara bukan sekadar benar tapi harus
bijak dan tepat.
Maka, mengontrol emosi saat bicara menjadi bagian penting. Jangan bicara
saat marah dan hindari kata-kata yang menyakiti, sebab sekali kata-kata
menyakiti terucap sulit ditarik kembali dari hati. Tiga detik di bibir sama
dengan tiga puluh tahun di hati, begitu tulis Oh di halaman 143 bukunya.
Membaca buku ini mengajarkan saya bahwa berbicara bukan sekedar keterampilan,
tapi seni mengelola hati, emosi dan hubungan.
Saya kemudian membaca buku lain di rak 300-399 yang memuat buku-buku
statistik, ilmu politik, hukum, komunikasi, etiket dan sejenisnya. Saya memilih
buku Etika Komunikasi (Kencana: 2023) yang ditulis oleh Hafied Cangara. Dalam
buku tersebut dituliskan bahwa berbicara itu tidak asal mengeluarkan bunyi,
tapi harus memahami beberapa elemen-elemen penting pendukungnya. Lebih spesifik
lagi buku tersebut memuat tentang dasar-dasar komunikasi.
Salah satu bagian penting yang juga menjadi pembahasan buku ini adalah
etika komunikasi, baik ketika terlibat dalam pembicaraan biasa sehari-hari
maupun dalam komunikasi publik. Hafied menuliskan bahwa seseorang yang sedang
berbicara harus jujur, menjaga hubungan baik, tidak menyesatkan audience,
menghargai perbedaan, tidak melanggar privasi, tidak menciptakan
kebencian dan seterusnya. Intinya adalah menghormati audience atau lawan
bicara. Mereka (lawan bicara) adalah seseorang yang punya
pikiran, perasaan dan latar belakang serta hak untuk diperlakukan dengan baik.
Menghormati audience adalah menganggap mereka sebagai “manusia”.
Ketika berbicara khususnya di depan publik, maka anggaplah para pendengar
itu heterogen, berbeda budaya, pendidikan, agama serta pengalaman hidup.
Sehingga pembicara harus berhati-hati. Hindari candaan yang sensitif tentang,
ras, fisik, ekonomi, agama hingga empirik pribadi seseorang. Saat berbicara
seseorang dianjurkan tidak membuat contoh, sindiran juga humor yang menyinggung
individu atau kelompok tertentu. Kecuali jika itu memang disengaja.
Pada bagian tertentu Hafied juga menuliskan di halaman 246, seseorang harus
memiliki rasa empati saat berkomunikasi, kemampuan seseorang untuk mengetahui
apa yang sedang dialami orang lain pada satu saat tertentu, dari sudut pandang
orang lain tersebut. Pentingnya empati tersebut agar tujuan dari komunikasi
berjalan dengan baik yaitu membentuk pribadi yang asertif, menjaga hubungan,
saling pengertian serta bertanggung jawab. Maka Berbicaralah dengan integritas,
empati dan kesadaran sosial. Sebab bicara bukan hanya bunyi, tapi juga terikat
dengan elemen lain: niat, sikap dan tanggung jawab.
Berbicara tentang komunikasi publik, minggu ini sedang hangat pemberitaan
juga pembicaraan netizen di media sosial tentang pidato atau sambutan
Bupati Lebak, Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya dalam acara halal bihalal
Idulfitri 1447 H. Momen yang seharusnya menjadi ajang silaturahmi berubah
menjadi ketegangan ketika Bupati Lebak “menyenggol” status sosial wakilnya,
Amir Hamzah di hadapan para pejabat Aparatur Sipil Negara Pemerintah Kabupaten
Lebak.
“Uyuhan mantan napi jadi Wakil Bupati,” kata Hasbi dalam Bahasa
Sunda, seperti yang diberitakan Harian Kabar Banten pada Selasa (31/3).
Kata-kata yang keluar dari mulut Hasbi seperti petasan yang meledak begitu
nyaring dan menyisakan pengang di telinga Amir Hamzah. Diberitakan juga Amir
Hamzah sampai walk out dari tempat acara.
Peristiwa Bupati Lebak ini menjadi pengingat bahwa ruang publik bukan hanya
tempat berbicara, tapi juga ruang menjaga perasaan banyak orang. Apa yang
dianggap ringan oleh satu pihak, bisa menjadi berat bagi pihak lain. Hasbi
beruntung, reaksi Amir Hamzah tidak seperti Will Smith saat dipermalukan Chris
Rock di atas panggung Oscar tahun 2022 lalu.
Menurut sepuluh aturan komunikasi yang ditulis Oh Su Hyang di buku pertama
yang saya baca, Hasbi melanggar setidaknya empat aturan: (aturan ke-4)
Berkata yang menenangkan hati, bukan sekadar enak di dengar. (Aturan ke-5)
Katakan yang ingin didengar lawan bicara, bukan yang ingin diutarakan. (Aturan
ke-6) Berbicara dengan menutupi aib dan sering memuji. (Aturan ke-7) berbicara
hal-hal yang menyenangkan bukan yang menyebalkan.
Jika dinilai dari buku Oh Su Hyang Hasbi bisa dikategorikan tidak
menghargai audience saat di atas podium. Hal ini sangat disayangkan,
pasalnya Hasbi adalah seorang public figure juga kepala daerah. Apa yang
dilontarkan Hasbi juga bertolak belakang dengan maksud dan tujuan
diselenggarakannya acara. Pesan dari seorang pemimpin yang seharusnya membuat
sejuk dan mempererat silaturahmi justru dirasakan sebaiknya.
Saya rasa penting rasanya kepala daerah atau public figure lainnya
seperti Hasbi—ataupun pejabat publik lainya seperti Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral, Bahlil Lahadalia yang juga ramai diperbincangkan akibat ucapannya—memiliki
kecerdasan humaniora. Agar ketika
berbicara di depan publik lebih mengedepankan substansi daripada sindiran atau
hal yang tidak perlu. Dalam buku Bicara Itu Ada Seninya, Oh mengingatkan,
ucapan yang tidak dilandasi dengan ilmu humaniora akan seperti tanah kosong.
Isilah dengan ilmu-ilmu humaniora agar tanah itu berubah menjadi hutan yang
subur, yang membuat inspirasi, kearifan, dan wawasan menari-nari di dalamnya.
Ilmu humaniora tidaklah sulit. Anda hanya perlu punya hobi membaca, tulis Oh.
Maka dalam tulisan sederhana ini, untuk Bupati Lebak, Mochamad Hasbi
Asyidiki Jayabaya saya merekomendasikan dua buku ini untuk dibaca saat waktu
senggang. Sebagai langkah awal untuk kemudian punya hobi membaca.[]
Rabu, 29 April 2026
Kelas Menulis Angkatan 43
Pertemuan Pertama
Hari ini Minggu 26 April 2026, saya teringat kembali pada peristiwa 12 tahun lalu (Februari 2014), saat saya membawa sebuah cerpen dan sebuah puisi ke Rumah Duna. Menunggangi Supra Fit New milik Bapak, saya memarkir motor di area depan Rumah Dunia, di bawah pohon jati. Saya kemudian menyerahkan karya yang saya buat asal-asalan (karena memang belum tahu teori menulis) itu kepada relawan Rumah Dunia, Jack Alawi sebagai persyaratan mengikuti Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 23.
Waktu terus bergulir. Tidak terasa saya sudah 14 tahun menjadi bagian dari perjalanan luar biasa Rumah Dunia dalam menggerakkan kegiatan literasi. Perannya sekarang berganti, saya menerima cerpen dan puisi calon peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 43 sebagai persyaratan menjadi peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 43. Mereka menyerahkan karya dengan map berisi cerpen atau puisi yang mereka buat (barangkali mungkin sama asal-asalan seperti saya dulu ^_^).
Dalam perjalanan 14 tahun di Rumah Dunia selama mengikuti Kelas Menulis Rumah Dunia atau berdiskusi dengan relawan dan Mas Gol A Gong banyak wawasan kepenulisan yang saya terima. Tentu hari ini jika saya menulis cerpen atau puisi tidak lagi asal-asalan, tapi sudah dipikirkan dan dipertimbangkan dengan matang sesuai dengan ilmunya. Selama belajar menulis di Rumah Dunia saya mendapatkan banyak wawasan tentang dunia menulis tidak hanya cerpen dan puisi melainkan ilmu menulis jurnalistik mulai dari hard news, feature, esai dan travel writing. Saya juga mendapatkan ilmu menulis novel dewasa dan novel anak, fiksi mini, hingga menulis skenario film. Untuk materi terakhir ini khusus untuk mereka yang sudah lulus dari kelas menulis dan bisa membuat cerita (cerpen atau novel).
Pada pertemuan Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 43 ini materi langsung disampaikan oleh Mas Gol A Gong di halaman Museum literasi Gol A Gong. Pada kesempatan itu Mas Gol A Gong bercerita tentang sejarah Rumah Dunia serta perjalanan karier menulisnya yang ia rintis dari sejak remaja. Usaha tidak menghianati hasil, begitulah kira-kira quote yang cocok untuk menggambarkan kesuksesan karier kepenulisan Mas Gol A Gong hingga bisa menulis dengan produktif. Setahu saya sudah 130an buku yang ditulisnya. Beberapa karyanya seperti Ledakkan Idemu Agar Kepalamu Tidak Meledak, Surat dari Bapak, Gelisah Camar Terbang, Bangkok Love Story, Metro, Gong Smash, I Am A Survivor, Roga Sanghara Bhumi hingga magnum opusnya, Balada Si Roy menghiasi koleksi rak buku saya.
"Buku-buku itu ditulis dengan kompetensi, konsistensi dan komitmen," katanya. "Dengan itu semua saya berhasil menjadi sedikit penulis yang karyanya best seller," tambahnya.
Selesai bercerita tentang sejarah Rumah Dunia dan prosesnya menjadi penulis, Mas Gol A Gong memberi kesempatan emas secara cuma-cuma kepada para peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 43 untuk melihat masuk ke dalam Museum literasi Gol A Gong. Ia kemudian menjelaskan sudut-sudut, dan ruangan-ruangan yang ada di Museum Literasi Gol A Gong. Mulai dari sudut rak buku-buku yang mempengaruhi kepenulisannya, ruang karya relawan Rumah Dunia, ruang artefak perjalanannya di berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara, serta ruang-ruang lainnya yang akan membuat kita terpukau sekaligus terkesima.
"Saya ingin menularkan spirit iqra-qalam ini kepada kalian, bagaimana perjuangan dan perjalanan saya merintis karier sebagai penulis. Mudah-mudahan kalian terinspirasi, bisa menulis dan bisa melampaui saya," kata Mas Gol A Gong.
Setelah dari Museum Literasi Gol A Gong para peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 43 diajak berpindah tempat ke Teater Terbuka Rumah Dunia. Ada beberapa relawan yang sedang menyiapkan acara World Book Day Rumah Dunia 2026 "Dari Banten Untuk Dunia". Mereka ada yang sedang memasang backdrop, menyapu, dan men-setting panggung. Acara itu diisi dengan peluncuran 27 buku karya penulis Banten dan orasi literasi dari Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D.
Selanjutnya para peserta kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 43 dikenalkan kepada alumni Kelas Menulis Rumah Dunia, saat itu ada Qizink La Aziva (penulis novel Kelomang), Daru Pamungkas (Jurnalis Radar Banten) dan Aji Setiakarya (CEO Sultan TV). Mereka diberi kesempatan untuk menceritakan proses belajar di Rumah Dunia. Peristiwa ini juga saya alami ketika menjadi peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 23. Mendengarkan cerita para-alumni, semoga menginspirasi!
Pertemuan ini kemudian ditutup dengan penyerahan buku karya Mas Gol A Gong untuk para peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 43. Saya juga memberikan buku kepada mereka. Buku kumpulan puisi dan cerpen berjudul Munajat Sepanjang Hayat yang diterbitkan Lumbung Banten. Buku-buku itu diharapkan dibaca di rumah. Karena akan sulit belajar menulis jika tidak diimbangi banyak membaca buku.
Peserta yang mendaftar pada angkatan ini ada 12 orang. Semua semuanya bertahan hingga akhir pembelajaran.
Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya!
Senin, 27 April 2026
Launching Antologi Cerpen Anti Korupsi
Kamis 23 April
2026, bertepatan dengan Hari Buku Sedunia (World Book Day) 2026, saya diajak
Mas Gol A Gong ikut ke gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kami
berangkat dari Rumah Dunia pukul 09.00 WIB dengan mobil Wuling Mas Gol A Gong.
Tidak hanya saya yang diajak, ada Daru (alumni Kelas Menulis Rumah Dunia
angkatan 23 yang sekarang menjadi dosen dan jurnalis Radar Banten), Pak Agus
Helfi Rahman dan Pak Encep atau Jawaralangit (keduanya guru SKH Kota
Serang).

Saya menjadi pengemudi. Alhamdulillah perjalanan menuju Jakarta lancar. Tidak ada kemacetan yang panjang seperti biasanya. Hanya padat merayap. Di sepanjang perjalanan kami berdiskusi tentang apa saja, tentang korupsi, tentang politik di Indonesia, tentang Makan Bergizi Gratis, tentang pemerintahan Banten dan sebagainya.
Setelah
beberapa kali berputar putar di jalan Rasuna Said, Casablanca dan Kuningan
akhirnya kami sampai tepat pukul 12.00. Begitu masuk Mas Gol A Gong langsung
diserbu oleh para peserta pemecahan rekor MURI, menulis cerpen anti korupsi
yang digagas SIP Publishing, untuk berfoto. Ya kami kami datang untuk
menghadiri acara tersebut. Mas Gol A Gong sebagai mentor dan narasumber
sedangkan kami bertiga penulis cerpen anti korupsi. Setelah melayani para
peserta yang ingin berfoto dan membuat video kami makan nasi padang Sederhana
yang sudah disiapkan panitia.
Acara itu
berlangsung meriah diikuti oleh antusiasme para penulis yang luar biasa. Mereka
datang dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka tidak mau melewatkan peristiwa
berharga ini begitu saja. Bagi saya ini adalah acara pemecahan rekor MURI yang
kedua, setelah pada tahun lalu, tepatnya 15 September 2025 di Perpustakaan
Nasional RI, yang memecahkan rekor MURI dengan penulisan fiksi mini terbanyak
oleh SIP Publishing. Saya merasa senang bisa ikut ambil bagian dari peristiwa
literasi ini. Sebagai presiden Rumah Dunia saya harus terus menulis, memberikan
contoh kepada relawan yang ada saat ini.
Hari
ini sebanyak 1.636 penulis dari 21 provinsi di Indonesia memecahkan rekor
MURI di KPK. Bagi KPK ini sebuah capaian yang kini diposisikan sebagai
strategi baru memperluas gerakan antikorupsi berbasis literasi. Rekor ini
bukan sekadar prestasi simbolik. KPK menilai, capaian ini menandai pergeseran
pendekatan pemberantasan korupsi yang selama ini identik dengan penindakan,
menuju penguatan budaya integritas melalui partisipasi publik yang masif dan
kreatif. Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua KPK, Ibnu Basuki Widodo
dalam ‘Peluncuran Buku dan Pemecahan Rekor Menulis Cerpen Antikorupsi di Gedung
Pusat Edukasi Antikorupsi (ACLC) KPK, Jakarta.
Saya
mengarahkan camera DSLR Cannon 800D yang saya bawa. Beberapa angel Wakil
Ketua KPK, Ibnu Basuki Widodo saya dapatkan. Tapi di sini saya post satu saja
ya ^_^.
Pada
kesempatan itu hadir juga Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya
Perpustakaan pada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Adin
Bondar yang memberikan apresiasi terhadap acara tersebut. Ia menilai pendekatan
literasi memiliki peran strategis dalam membangun karakter integritas, termasuk
melalui karya sastra sebagai refleksi nilai dan sikap individu. Ia
menilai kolaborasi KPK dengan SIP Publishing dan Yayasan Rumah Indonesia
Menulis menjadikan karya sastra sebagai medium edukasi yang lebih dekat dan
mudah dipahami oleh publik. Pencatatan rekor oleh MURI pun memiliki nilai
strategis karena tidak sekadar bersifat seremonial, tetapi menjadi bagian dari
perjalanan gerakan literasi nasional yang mengusung nilai-nilai antikorupsi.
Nah, ini dia foto Pak Adin.
Kalau yang ini
foto-foto kebahagiaan kami saat peluncuran buku Cerpen Antikorupsi di
Gedung Pusat Edukasi Antikorupsi (ACLC) KPK, Jakarta.

.jpeg)

Persiapan World Book Day Rumah Dunia 2026
Pesan What's
App masuk. Dari Mas Gol A Gong
Rud,
Dinama? Pasang instalasi buat panggung WBD besok. Jangan pasang balon kayak
acara anak-anak!
Saya jawab
Di RD. ada Adam
dan Oja
Tak lama Mas
Gol A Gong keluar dari Museum Literasi Gol A Gong. “Angkat sepeda ontel! Bawa
ke depan. Mesin tik, manekin, topi caping dan replica tugu 0KM Anyer-Panarukan!”
Saya kemudian
membawa beberapa barang yang bisa saya bawa, sisanya dibawa Adam dan Oja. Siang
ini, Sabtu, 25 April 2026, langit di atas Rumah Dunia sedang cerah-cerahnya.
Suara musik dangdut dari acara hajatan (halaman Rumah Dunia bisa disewakan
untuk acara pernikahan) mengiringi kami yang memasang ini-itu sebagai hiasan
panggung WBD besok.
Hari ini bukan
hari biasa—kami di Rumah Dunia bersiap menyambut World Book Day Rumah Dunia
2026.
“Janga nada backdrop
yang menghalangi RB3 (perpustakaan Rumah Dunia), ya!” begitu perintah Mas Gol A
Gong. “Hari ini, begitu juga untuk ke depannya. Pasang Backdrop acara di bagian
sisi panggung!”
Kami memasang
instalasi sambil bercanda, tapi di balik
itu ada keseriusan yang terjaga. Setiap detail diperhatikan. Instalasi bukan
sekadar hiasan, tapi symbol. Rumah Dunia adalah wadah bagi kesenian, literasi
dan sastra. Panggung harus mencerminkan semangat ketiganya.
Tak lama
kemudian, beberapa penasihat Rumah Dunia datang. Salah satunya adalah Firman
Venayaksa, yang juga Kepala Perpustakaan Untirta. Lalu ada juga Qizink La Aziva,
relawan senior Rumah Dunia. Mereka terus mengamati dan sesekali memberi
masukan. Tidak menggurui, tapi membimbing. Mereka seperti penjaga arah,
memastikan bahwa semangat yang kami tunjukan di panggung tetap pada jalurnya: seni,
literasi dan sastra yang membumi, yang dekat dengan masyarakat. Suasana seperti
itu yang selalu membuat Rumah Dunia terasa hidup—bukan sekadar tempat, tapi
ruang kebersamaan.
Kami memasang
rak beserta bukunya. Sepeda ontel, topi caping, lampu petromak, replika kotak
pos, replika 0KM Ayer-Panarukan, lukisan abstrak, manekin, meja, kursi dan
lainnya. Silakan kalian interpretasikan sendiri maknanya. Hehehe…
Siang mulai
turun ketika instalasi hampir selesai. Panggung yang tadi kosong kini berubah
menjadi ruang yang penuh makna. Saya berdiri beberapa langkah menjauh,
memandangi hasil kerja kami. Cukup! Menurut saya. Pekerjaan diakhiri, dan
dilanjut besok dengan memarkir mobil perpustakaan keliling Rumah Dunia dan
beberapa cover buku para penulis yang meluncurkan bukunya di World Book Day
Rumah Dunia 2026.
Kami para
relawan kemudian berganti baju batik, mencicipi hidangan yang sedang hajatan.
Lapar juga setelah bekerja ^_^.
Capek?
Jangan
ditanya!
Saya sudah
membuang kata itu dari kamus setiap kali melakukan kegiatan bersama Rumah
Dunia.
World Book Day Rumah Dunia 2026
Ini kali
kesekian saya mengikuti acara World Book Day (Hari Buku Sedunia) di Rumah
Dunia. Acara ini program rutin, jadi setiap tahun pasti terselenggara. Entah
dengan gegap gempita ala perayaan besar atau intimate diskusi buku atau gerakan
literasi. Tahun lalu diperingati dengan diskusi berasa Lidia, Duta Baca Kota
Serang dan RG Kedung Kaban, Ketua Forum TBM Provinsi Banten. Tahun sebelumnya
lagi Rumah Dunia berkolaborasi dengan Perpustakaan Nasional RI, melalui
Perpusnas Press meluncurkan 114 buku. Jauh lagi tahun-tahun yang sudah Rumah
Dunia pernah meluncurkan buku yang lebih banyak.
Itu dulu saat
relawan di Rumah Dunia banyak. Hari ini 26 April 2026 Rumah
Dunia kembali merayakan Hari Buku Sedunia (World Book Day). Saya sebagai
presiden Rumah Dunia 2025-2030 hanya baru bisa meluncurkan 28 buku karya
penulis Banten. Bukan bermaksud disclaimer, tapi saat ini kondisinya berbeda.
Relawan sedikit dan waktu persiapan sebentar karena ada libur Hari Raya Idul
Fitri 1447 H.
Namun dengan
kondisi yang ada acara World Book Day Ruamh Dunia 2026 tetap
berjalan. Kegiatan digelar di Teater Terbuka Rumah Dunia. Diisi
juga dengan orasi literasi oleh Kepala Perpustakaan Nasional RI, Prof. E.
Aminudin Aziz, M.A., Ph.D. Perayaan bertajuk “Dari Banten untuk
Dunia” tersebut dihadiri pegiat literasi, pelajar, mahasiswa, serta
masyarakat umum. Saya mengucap syukur berkali-kali karena acara ini
berlangsung, meski banyak catatan.
Dalam
orasinya, Prof. Aminudin Aziz menegaskan pentingnya penguatan budaya literasi
sebagai fondasi pembangunan bangsa. Ia menyebutkan bahwa literasi tidak hanya
berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan berpikir
kritis dan memahami informasi secara mendalam. “Buku adalah instrumen utama
dalam membangun peradaban. Melalui buku, kita tidak hanya mewariskan
pengetahuan, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan,” pesan Prof.
Amin di hadapan peserta.
Saya mengucapkan
terima kasih kepada para relawan yang sudah membangu terselenggaranya kegiatan ini.
Kepada para penulis juga kepada Perpustakaan Nasional RI. Oh iya tentu kepada
Rumah Dunia dan para penasihatnya, Mas Gol A Gong, Mbak Tias Tatanka dan Mas
Toto ST Radik. Ini pengalaman berharga
buat saya.
Sabtu, 08 Agustus 2020
Kado Buat (Calon Penyair) Djoe Taufik
Kado Buat (Calon Penyair) Djoe Taufik
(Fresh Graduate yang Sedang Merayakan Ulang Tahunnya yang ke-24)
Menulis puisi itu tidak sulit, tapi menjadi penyair itu tidak gampang. Satu kalimat dari Imam Budhi Santosa itu jika ditafsirkan secara serampangan, oleh orang awam dalam dunia perpuisian seperti saya, barangkali maknanya bisa begini; siapa saja bisa menulis puisi, tapi sedikit yang menulisnya dengan baik layaknya seorang penyair.
Banyak penyair mengatakan bahwa menulis puisi bukan perkara mudah; butuh permenungan yang lama, pemilihan diksi yang selektif, menemukan kebaruan frasa, memperhitungkan kedalaman makna, dan banyak lagi hal-hal lain yang mesti diperhatikan seorang penyair. Tapi tidak sedikit juga yang menyatakan menulis puisi itu sesederhana menyeduh kopi instan; puisi hari ini sudah sangat bebas dan seringkali menabrak kaidah-kaidah yang dulu dibuat, bahkan beberapa puisi menghancurkan definisi puisi itu sendiri; contohnya menulis puisi kini sudah lepas dari rima dan keteraturan baitnya. Bebas!
Beberapa hari lalu saya disodorkan sebuah buku kumpulan puisi Fragmen Awal karya Djoe Taufik. Saya bukan penulis puisi tapi menolak bukan pilihan bijak. Dengan cover merah bergradasi puih itu nampaknya Djoe Taufik sedang berada di puncak semangat. Berani? Bisa demikian, tapi saya melihat merah pada cover Fragmen Awal justru bukan sebuah keberaian (dalam melahirkan sebuah karya) tapi kenekatan, yang juga diakui Djoe Taufik dalam prakata dalam buku ini.
Sebelum menerbitkan buku kumpulan puisi terbarunya ini, puisi-puisi Djoe Taufik sudah terlebih dahulu tergabung dalam beberapa buku antologi puisi; Kunanti Kau di Sudut Senja (Titik Embun: 2018), Bersama Kata (Gong Publishing: 2018), Dari Balik Batu-Batu (Nulisbuku: 2019), Kuterima Dukamu (Lumbung Banten: 2020) Majalah Sastra Kandaga (Kantor Bahasa Banten: 2020). Barangkali jejak-jejak inilah yang melatarbelakangi keberanian (baca: kenekatan) Djoe Taufik dalam menerbitkan buku kumpulan puisi. Keberanian itu jugalah yang kemudian menjadikan Djoe Taufik seperti orang kebelet. Terburu-buru.
Meski dimaksudkan untuk merayakan hari kelahiran dan prosesi wisuda, sebagai orang yang mafhum dalam dunia perbukuan Djoe Taufik tidak semestinya menerbitkan buku dengan tergesa-gesa. Penting bagi seorang penulis memberikan identitas dan kualitas pada karya yang ia tulis, termasuk Djoe Taufik, menjadi kurang bijak jika seorang penulis mengabaikan keduanya. Tapi lagi-lagi sepertinya sulit bagi Djoe Taufik untuk tidak menerbikan buku sekarang ini, dengan semangatnya juga kegembiraannya yang sedang meletup-letup.
Begitulah kesan saya terhadap buku puisi Fragmen Awal. Lalu bagaimana dengan puisi-puisi di dalamnya. Secara umum puisi-puisi itu lahir dari peristiwa-peristiwa yang dialami penyair dari tahun 2013 hingga 2020 yang bisa dilihat dari titi mangsanya; dari mulai nyantri (sekolah), hingga kuliah dan lulus, satu puisi lahir dan dipersembahkan untuk Gol A Gong, yaitu puisi Bolehkah. Akan terlalu banyak kata jika harus membahas 61 puisi Djoe Taufik satu-persatu. Puisi di bawah ini adalah puisi yang saya temukan secara acak saat akan coba bahas secara teknis dan tehnik dalam kepenulisannya.
SEMPAK MERAH
sudah lama aku tidak pakai sempak
celana yang kupakai selalu bermasalah
sempak simbol kependudukan
aku coba membuat sempak
mencari bahan ke anyar
aku bayar 50 ribu untuk prosesnya
tapi bahan itu dimakan tikus
oh tikus sialan
ingin rasanya kutelanjang
menikmati kebebasan warga dunia
merasakan keindahan sistem
pemerintahan dengan senyuman
Serang, 21.02.2020
Puisi naratif (menceritakan peristiwa berdasarkan urutan waktu) yang ditulis oleh Djoe Taufik dengan judul Sempak Merah di atas, jika dibaca selintasan, puisi tersebut ditulis dengan spontanitas. Puisi itu tercipta begitu saja untuk melepaskan emosi (perasaan) setelah penyair mengalami satu peristiwa yang (entah itu) lucu, menjengkelkan, menyedihkan atau perasaan lainnya. Puisi tersebut belum sampai pada dua makna definisi puisi yang disampaikan Wordsworth, bahwa puisi merupakan the spontaneous overflow of powerful meaning. Pada puisi ini Djoe Taufik baru sampai pada definisi pertama (spontaneus overflow) yang diiringi dengan luapan emosi yang sulit disembunyikan dalam diksi; sialan, kebebasan, keindahan, dan senyuman. Djoe Taufik melupakan makna kedua (powerful meaning), tentang kedalaman makna, pesan dan pengendalian emosi yang semestinya diimajinasikan (disembunyikan) dalam bentuk frasa atau kalimat yang lain, jika kata almarhum eyang Sapardi; Bilang Begini Maksudnya Begitu.
Peristiwa yang terjadi dalam puisi ini, si aku liris menggambarkan dirinya yang tidak memiliki tanda kependudukan, dan itu sering menjadi masalah bagi dirinya saat melakukan aktivitas yang menuntut untuk menunjukan tanda data diri. Kemudian si aku liris mencoba untuk membuatnya, prosesnya ia tempuh dari mengumpulkan syarat-syaratnya hingga ke Anyar (tempat lahir penulis, saat itu penulis sedang kuliah dan tinggal di Kota Serang). Hingga kemudian proses administratif, menuntut si aku mengelurkan sejumlah uang, namun rupanya gagal. Si aku kemudian marah, dan objeknya adalah “tikus sialan” yang tak lain adalah petugas pembuat tanda kependudukan. Pada bait selanjutnya si aku “kalah” dan pasrah oleh keadaan yang dialaminya, hingga muncullah harapan-harapan, akumulasi dari peristiwa-peristiwa yang terjadi padanya.
Dari metafor atau simbolisasi yang dibuat oleh Djoe Taufik melalui aku liris dari puisi Sempak Merah. Diksi “merah” pada frasa “sempak merah” bisa pembaca (saya) asumsikan itu adalah perasaan jengkel atau marah, dengan merujuk kata “sialan” pada larik kedelapan di bait kedua. Sedangkan diksi “sempak” makna sesungguhnya “dibocorkan” Djoe Taufik pada larik ketiga /sempak simbol kependudukan/. Lalu apa yang dimaksud dengan simbol kependudukan? Bisa apa saja; paspor, Kartu Tanda Penduduk, Karu Keluarga dan simbol-simbol lainnya. Jadi Si Penyair pada puisi ini sedang marah kepada simbol kependudukan? Wallahua’lam. Silakan lihat larik-larik senjajutnya dalam puisi ini!
Dalam puisi ini, Djoe Taufik tanpa tedeng aling-aling menusuk pada objek yang menjadi temanya; tanda atau simbol kependudukan. Puisi dengan 12 larik dan 3 bait ini, diksi dan frasanya tidak banyak menampilkan kebaruan. Selain itu, jika benar yang dimaksud dengan “sempak” adalah tanda atau simbol kependudukan, mengapa penyair menuliskan kalimat /ingin rasanya kutelanjang/? Jika benar, maka “telanjang” (menaggalkan seluruh pakaian), bisa diartikan dengan menanggalkan simbol-simbol kependudukan seperti paspor, KTP dan lain sebagainya. Tapi di larik selanjutnya “si aku” ingin /menikmati kebebasan warga dunia /merasakan keindahan sistem/ pemerintahan denan senyuman/. Bagaimana mungkin seseorang menikmati kebebasan menjadi warga dunia (berpindah dari negara ke negara lain) tanpa tanda kependudukan atau identitas diri. Bagi saya bait ketiga dalam puisi ini dalah paradoks yang sempurna untuk melemahkan puisi, dan menghancurkan kesempurnaan puisi itu sendiri.
Dalam puisi ini saya merasakan bahasa (diksi, frasa dan kalimat) keseharian yang biasa-biasa saja, yang dibuat dengan sangat sederhana. Dari puisi di atas juga saya merasakan penyair (Djoe Taufik) kurang giat, untuk mencari dan membuat kebaruan frasa juga metafor. Misalkan pada metafor “tikus” yang pada puisi ini jelas dikonotasikan sebagai orang dengan prilaku rakus (sebut saja korup). Kata “tikus” sudah sangat umum untuk mendeskripsiakn itu.
Membaca buku kumpulan puisi Fragmen Awal karya Djoe Taufik ini, saya merasa Djoe Taufik (belum dewasa dan) terus tumbuh dalam menulis puisi. Hal itu terlihat dari puisi-puisisnya pada tahun 2013, yang terus mengalami perubahan (lebih baik) jika dibandingkan dengan tahun 2020. Dengan berat hati saya harus mengakui Djoe Taufik belum mencapai kematangan sebagai seorang penyair. Maka untuk menuju maturitas tersebut, Djoe Taufik mesti terus tumbuh dengan bacaan, pengalaman serta pengetahuan sebagai suplemen untuk melahirkan puisi-puisi berikutnya.
Oh, iya, puisi “Sempak Merah” di atas hanya satu contoh puisi, bukan berarti merepresentasikan keseluruhan puisi-pusi dalam Fragmen Awal. Lalu bagaimana dengan puisi-puisi lainnya? Silakan Anda baca dan tafsir sendiri. Hubungi Djoe Taufik di Instagram atau Facebook untuk tahu bagaimana cara mendapatkan buku ini, lalu bacalah!
Penulis; Rudi Rustiadi, mahasiswa yang dituntut untuk segera lulus kuliah sebelum covid-19 berakhir dan situasi menjadi normal kembali.



















.jpeg)

















