Sabtu, 14 Juni 2014

The end (Baduy)



Epilog

Betapa asik menjadi pengelana sambil menulis. Penulis perjalanan! Lautan ide terhampar di sepanjang perjalanan, di rel kereta, di jalan mendaki berliku, di setiap tikungan jalan asing yang sengaja  kita lewati, atau di setiap tempat yang tak terduga kita lewati. Ini adalah paragraf yang ditulis Gol A Gong di buku TE-WE.
Dan, benar saja, saya juga merasakannya, perjalanan ini menghasilkan ide untuk saya menulis, bahkan bukan hanya itu, secara tidak langsung perjalanan ini membuat saya belajar banyak hal. Membuat saya untuk cepat beradaptasi dengan lingkungan baru, menerima keadaan apa adanya, melihat perbedaan sebagai keindahan. Belajar memahami serta mengenali diri sendiri dan pribadi orang lain.
Menyenangkan sekali, saya tidak hanya berpetualang dan membawa pegal di kaki, tapi saya pulang membawa kenangan yang kelak menjadi rindu untuk kembali ke tanah Baduy.
“And the last. This is my journey! how your journey?”

Come Back Home



Come Back Home
#Baduy 12

Peruntungan saya mungkin memang tidak terlalu baik. Pulang pergi diguyur deras pulangnya pun kembali diiringi dengan hujan. Padahal dari pagi hingga sampai di jembatan akar panas sangat terik. Ingin rasanya berhenti dan berteduh, tapi dimana? Di sepanjang perjalana tidak ada rumah, saya di sedang berada di tengah hutan, berhenti hanya akan menambah dingin tubuh saja. Karena memng tak ada tempat untuk berteduh.
Gue, di stasiun Rangkasbitung. mau pulang
Akhirnya saya berjalan dengan guyuran hujan. Menikmati tiap tetes air yang menerpa tubuh saya. Dingin menusuk hingga tulang. Beruntung hujan deras di tambah angin kencang ini tidak disertai geledek juga.
Berrr... angin berhembus dengan kencang. Meniupkan hawa dingin keseluruh tubuh. Dengan basah kuyup saya menyusuri tanjakan demi tanjakan hingga berjam-jam. Dalam liku-liku jalan setapak, rimbunnya semak-semak di jalan menanjak, akar-akar yang melingkar, pepohonan yang tinggi menjulang.
Setelah 7 jam melangkahkan kaki. Saya, Ardian Je dan Eneng Rani menjadi orang pertama yang sampai di Ciboleger. Hujan masih turun dengan deras. Warung-warung di sekitar Ciboleger penuh dengan orang-orang yang baru tiba dan hendak ke Baduy, mereka memilih berteduh terlebih dahulu menunggu hujan reda.
Alhamdulillah,” rasa syukur saya panjatkan dalam hati. Tuhan memberikan saya kekutan dan kesempatan untuk mengunjungi belahan dunia-Nya.
Namun perjalan saya belum berakhir sampai di sini, Justru perjalanan ini baru dimulai, untuk menguak tempat-tempat yang eksotik di negeri ini. Walau pun kita tahu ngomongin tempat eksotika di Indonesia tidak akan ada habisnya. Contohnya, ya, Baduy ini. Dan  masih Ada banyak keindahan tersembunyi di pelosok bumi yang menunggu untuk di ungkap. Indonesia emang nggak ada matinya untuk dijelajahi!
Gue, diperjalanan pulang, gak tau hih jembatan apa?
Perjalanan ke sudut bumi Tuhan yang bernama Baduy inilah petualangan saya dimulai. Ini adalah langkah awal perjalanan panjang saya untuk mengelilingi Indonesia bahkan dunia, melihat barisan gunung dan deretan sungai sebagai master piece ciptaan tuhan. Menguak keindaah yang tersembunyi di penjuru pelosok bumi, serta menjalin kisah unik dan menarik untuk diabadikan dalam sebuah catatan.

Rabu, 11 Juni 2014

Honeymoon ala Backpacker



Honeymoon ala  Backpacker


Honeymoon ala  Backpacker, ini adalah buku yang sangat berkesan bagiku karena kubeli dengan kata-kata. Tapi, nanti saja kita bahas itu. Karena isi buku ini jauh lebih menarik!

Meski buku Honeymoon Ala Backpacker ini tidak bertuliskan 100% based on true story, tapi bisa di pastikan ini adalah kisah nyata dari sang penulis. Ini bisa dilihat dari bagaimana Gol A Gong (penulis) menulisakan adegan peradegan, nama hotel, nama jalan, jam dan agen travel bahkan nama kereta api dengan sangat detail. Bahkan dilengkapi dengan foto.

Cover buku Honeymoon ala Backpacker
Bab pertama buku ini dibuka dengan sangat romantis. Ada 9 hal tentang cinta, salahsatunya yang aku suka adalah kalimat “aku cinta padamu, kalimat klasik yang bermartabat dan berkaraker jika disampikan lelaki tidak lewat email, apalagi sms” Ini romantis, bukan? Ditambah lagi dengan sajak-sajak cinta yang di sampaikan si penulis untuk istri tercintanya, Tias Tatanka. Sangat mengagumkan!

Yang membuat aku semakin kagum dari buku ini adalah filosofi traveling bagi si penulis. Taveling bukan hanya untuk sekedar jalan-jalan, melihat temapat atau mengagumi arsitektur sebuah ikon bangsa atau landmark kota tapi, traveling adalah untuk ibadah. Seperti apa yang dialkukan penulis; memberikan pelatihan menulis kepada para TKI dan mahasiswa di negara atau kota yang ia singgahi.

Buku ini juga bisa membuat anda tersenyum ketika membacanya. Ada 7 hal konyol yang sering dilakukan traveler, yang tanpa kita sadari sering juga kita alami. Buat yang pernah mengalaminya, pasti mesem-mesen sendiri ketika membaca buku ini.

Selain menghibur, buku Honeymoon Ala Backpacker ini sangat komplit, ada niali-nilai positif yang bisa kita tiru, juga ada pesan moral bagi para pembacanyar. Salah satunya yang aku tangkap adalah, jangan jadikan istri sebagai hiasan di rumah, para istri harus berdiri sejajar disebelah suami! Para lelaki bertanggung jawab bukan hanya sebatas memberikan materi dan biologis saja, tapi juga harus bertanggung jawab terhadap intelektualnya. Keren, kan?

Sekali lagi aku harus katakan, ini buku sangat komplit! Bukan hanya sebuah novel atau catatanperjalanan, tapi bisa juga dikatakan buku travel guide, buku how to trip ke 7 negara, buku kritik terhadap pariwisata indonesia, buku panduan menjadi suami yang baik, buku pedoman menjadi istri yang solehah, bahkan bisa juga menjadi buku spiritual.

Cewek yang baca buku ini pasti iri dengan Tias Tatanka, yang mendapat perlakuan istimewa dari suaminya. Untuk mendapatkannya anda bisa belajar dengan Tias Tatanka lewat buku ini, bagaimana cara atau sikap seorang istri kepada suami, untuk mendapatkan perlakuan yang istimewa.

Buku ini harus dimiliki oleh para bapak/suami karena sangat inspiratif, bagi para suami yang ingin membahagiakan istrinya. Disini anda bisa belajar bagaimana cara pemperlakukan istri dengan baik. Contohnya;

Tiba-tiba Tias menangis “jangan dimarahi,” isaknya.

Lho? Aku menjelaskan “siapa yang memarahi?”

Tias tetap menangis “motret ini salah, motret itu salah.”

Aku memeluknya. Aku menyuruh Tias menangis di dadaku sepuasnya. Orang-orang yang sedang berlalu-lalang di Pasar Seni melirik kami. Waduh, seperti sebuah scene sinetron saja.(Honeymoon ala Backpacker. Hal:90)

Hm... Romantis, bukan? Dipeluk orang yang kita cintai di depan banyak orang. Hm... yeah... tak selalu, karena ini Honeymoon ala Backpacker! Tak Cuma suka dan senag-senang, mereka harus menjalani dukanya juga. Bagaimana serunya traveling sambil honeymoon? Ssst... yuk, kita intip kisahnya di,



Judul buku      : Honeymoon Ala Backpacker

Penulis             : Gol A Gong

Penerbit           : PT. Penerbitan Pelangi Indonesia

Tahun             : 2014

ISBN                 : 978-602-1627-47-1

Tebal               : 196 Halaman



Profil singkat penulis



Gol A Gong, travel writer. Salah satu pendiri komunitas literasi, Rumah Dunia (www.rumahdunia.com). Lahir di Purwakarta 15 Agustus 1963. Sejak tahun 1965sudah tinggal di Serang, Banten. Pemenang banyak penghargaan, salah satunya sebagai Pustakaloka Nusa Jasadharma dari Perpusnas tahun 2006. Sekarang menjabat ketua umum Forum Taman Bacaan Masyarakat se-Indonesia. Beliau juga penulis novel legendaris, “Balada si Roy”



***

Aku membaca buku Honeymoon Ala Backpacker sampai selesai dengan semangat dan antusias. Tidak ada satu kata pun yang kulewat! Tapi dalam buku ini aku tidak menemukan arti bacpacker sesungguhnya! Tapi, Tak apa lah, ini kan, Honeymoon Ala Backpacker!

Nah, sekarang kembali ke awal. Bagaimana proses aku mendapatkan buku ini? 
Minggu, 25 Mei 2014,  setelah memberikan materi kelas menulis. Mas Gong, memintaku untuk mengadakakn wisata literasi. Minggu, 22 Juni 2014 ke Gramedia Matraman. Wah, gawat aku sedang tidak ada uang saat itu. Aku sempat berniat meminta uang dari mamangku, tapi, aku teringat pengalaman Mas Gong yang traveling dengan bermodalkan kata-kata! Aku pun mengurungkan niatku. Maka kemuadian, aku menulis cerpen dan kukirim ke media massa. Alhamdulillah dimuat! Cek di sini, http://rudirustiadi.blogspot.com/2014/05/cerpen-pertamaku-di-media-massa.html . Dari honor cerpen itulah aku bisa membeli buku Honeymoon ala Backpacker. Begitulah proses aku mendapatkan buku Honeymoon ala Backpecker. Kubeli dengan kata-kata! Berkesan, bukan?

Gue, abis baca Honeymoon ala Backpacker (belum ada tanda tangan Gol A Gong nya)

Pada Batas Waktu


Pada Batas Waktu
 
Cover buku Pada Batas Waktu

Pada batas waktu, buku antologi puisi dan cerpen. Dalam buku ini TH Poahan (penulis) banyak mengambarkan bagaimana kehidupan sehari-harinya dan juga keadaan kampung temapt tinggalnya, yang ia tulis dengan sederhana namun indah sebagai sebuah puisi.
Walau pun anda tidak mengenal si penulis, namun jika anda mebaca sajak-sajaknya anda akan merasa dekat dengan si penulis karena tadi, si penulis banyak menggambarkan kehidupannya, kota, desa dan apa yang dia lihat serta rasakan di sekelilingnya.
Buku ini aku peroleh ketika menjadi panitia Jambore Taman Bacaan Masyarakat (TBM) 2014 di Rumah Dunia, Serang. salah satu puisi yang paling saya suka adalah “Satu Sore”

Satu sore

Suatu sore di sebuah gerai kopi modern
Kulihat seorang anak bersama ayahnya
Menikmati segelas kopi dan roti
Mereka larut
Ayah dengan tablet
Anak dengan game portable

Suatu sore yang lain
Dikedai kopi sederhana
Kulihat seorang kakek bersama cucunya
Menikmat segelas kopi dan roti
Mereka bercerita
Kakek dengan masa lalunya
Cucu dengan masa kininya

Sore ini
Aku sendiri bersama
Notebook
Masa lalu
Dan kini

(Rantauprapat 18 Februari 2013)

Yang paling berkesan dalam buku ini adalah sang penyair berkenan untuk membubuhkan pesan yang sangat bermakna. Ini adalah pistiwa pertama kalinya bukuku ditandatangani langsung oleh seorang penyair / sastrawan.

To: Rudy
Mari menulis untuk keabadian!
TH Pohan 21/2-2014

Pesan yang singkat namun syarat akan makna, dan itu juga menjadi sebuah amanat! Untuk aku agar terus menulis, sehingga aku “tetap abadi”

Gue abis baca buku Pada Batas Waktu