Jumat, 08 Mei 2026

Ledakkan Idemu Sebelum Kepalamu Meledak

Ledakkan Idemu Sebelum Kepalamu Meledak, saya lupa bagaimana tepatnya mendapatkan buku ini, yang jelas tahun 2014. Entah itu sebagai buku pegangan Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 23 atau dapat dari "sembako buku" yang dibagi-bagikan kepada para peserta Jambore TBM di Rumah Dunia di tahun yang sama.

Sebagai peserta pelatihan menulis yang ingin bisa menulis, saya membacanya pelan-pelan. Buku bertebal 93 halaman ini saya habiskan dalam dua hari. Saya membaca versi cetakan keduanya yang terbit Februari 2014. Sampulnya didominasi warna hijau yang memuat wajah Gol A Gong dikelilingi buku-buku. Cetakan pertama buku ini Mei 2010.  

Kabarnya Mei 2026 buku ini akan naik cetak untuk kali ketiga. Selamat Mas Gol A Gong. Saya ikut senang karena buku ini menjadi koleksi perpustakaan di rumah saya, juga tentunya pernah mengisi pikiran, hari dan hati saya.

Buat kalian yang ini membaca buku ini, saya sarankan membaca buku ini dalam keadaan tenang dan santai. Sore menuju magrib sambil ditemni secangkir teh misalnya. Sebab dulu saat saya membaca buku ini terasa seperti berada di teras rumah sambil mendengarkan seorang penulis senior bercerita tentang hidupnya—jujur, hangat, kadang lucu, kadang juga bikin dada sesak. Buku ini tidak berisi teori menulis yang penuh istilah rumit. Justru sebaliknya, buku ini mengajak pembaca masuk ke dapur kreatif seorang penulis lewat pengalaman empirik penulis yang riil apa adanya. Tidak dibuat-buat apalgi lebay.

Hal yang paling saya suka dari buku ini adalah cara Gol A Gong bercerita. Gaya bahasanya ringan, mengalir, dan terasa akrab. Seolah-olah sedang ngobrol langsung dengan pembaca. Kita diajak melihat bagaimana perjalanan seorang anak kampung dari Serang yang penuh keterbatasan, kehilangan tangan kirinya, tapi tidak kehilangan mimpi. Dari situlah buku ini punya tenaga emosional yang kuat.

Bagian tentang masa kecil, perjalanan ke Palmerah, perjuangan membawa naskah Balada Si Roy ke majalah HAI, sampai cerita membeli tangan palsu demi menjaga rasa percaya diri—semuanya terasa sangat manusiawi. Tidak dibuat-buat. Ada semangat “kalau orang lain bisa, saya juga harus bisa” yang terus menyala di setiap halamannya.

Saya juga menikmati bagaimana buku ini tidak hanya bicara soal menulis, tetapi soal cara memandang hidup. Ide, menurut Gol A Gong, bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Ide ada di jalanan, di perjalanan, di obrolan dengan ibu, di terminal, di pasar, bahkan di luka hidup kita sendiri. Itu yang membuat buku ini terasa dekat dengan siapa saja—bukan hanya calon penulis.

Ada satu kesan yang cukup membekas: buku ini seperti sedang berkata bahwa menulis bukan soal bakat semata, melainkan soal keberanian untuk memulai dan ketekunan untuk terus berjalan.

Hal lain yang menjadi kekuatan buku ini adalah catatan memoar panjang dibanding buku panduan praktis menulis. Jadi, pembaca tidak merasa sedang digurui saat membacanya, melainkan diajak memahami proses kreatif secara alami. Kita belajar menulis sambil ikut berjalan bersama pengalaman hidup penulisnya.

Bagi saya buku ini cocok dibaca oleh pelajar yang ingin mulai menulis,penulis pemula yang sering minder, bahkan orang yang sedang kehilangan semangat hidup yang tidak punya niatan menulis. Buku ini bukan sekadar buku motivasi menulis. Ini buku tentang bertahan hidup melalui kata-kata.

Setelah membaca buku ini, saya merasa satu hal: kadang kepala kita memang penuh ide, penuh keresahan, penuh mimpi. Dan memang benar kata Gol A Gong: cara terbaik agar kepala tidak meledak adalah menuliskannya.

Kalau kalian ingin punya juga, silakan pesan. Sekarang sedang masa pra pesan. Ayo jangan sampai ketinggalan. Hubungi nomor yang ada di poster!















ini penampakan cover buku cetakan ketiganya.

(ini penampakan cover buku cetakan ketiganya). 



 

 












Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih untuk komentarnya