Minggu, 14 Juni 2026

Semiotika dan Sinematografi Sandal Bupati

Sabtu 13 Juni 2026, saya kembali menghadiri acara Nonton Searah (Nose) di Kedai Searah, Rumah Dunia. Ini adalah kegiatan Nose yang kedua yang saya hadiri. Pertama sebagai penikmat (penonton) film Memiliki dan Kehilangan karya RG Kedung Kaban. Kedua saya menjadi menjadi pemantik diskusi film pendek Sandal Bupati. 

Film Sandal Bupati karya Nick Julio Siahaan merupakan salah satu film dalam Anti Corruption Film Festival 2024. Berdurasi 15 menit, film dengan alur yang sederhana ini berhasil menyampaikan kritik sosial yang tajam. Mengenai kekuasaan, integritas dan relasi kuasa antara masyarakat dan pemerintah atau pejabat publik. 


Film ini  bercerita tentang hilangnya sandal seorang Bupati saat berkunjung ke Kampung Pemulung dan singgah untuk salat di masjid. Konflik dan ketegangan terjadi saat peristiwa tersebut. Dalam plot tersebut film ini mengajak penonton merenung, bagaimana kekuasaan seringkali mengubah cara manusia memaknai sesuatu yang sebenarnya biasa.


Sandal Bupati menjadi simbol kekuasaan sekaligus metafora integritas. Ketika sandal tersebut menjadi pusat perhatian banyak orang, penonton diajak melihat bagaimana sesuatu yang sederhana dapat berubah menjadi objek perubahan makna karena terkait dengan kekuasaan. 


Selain sandal simbol yang jelas terlihat dalam film ini adalah masjid. Tempat ibadah yang berfungsi sebagai penanda moralitas dan ruang spiritual, yang seharusnya menjadi tempat lahirnya kejujuran. Namun, pada film ini jauh dari dua kata tersebut. Kehadiran masjid menciptakan kontras yang kuat antara nilai-nilai agama dan perilaku manusia yang masih terjebak pada kepentingan duniawi.


Adapun kampung pemulung menjadi metafora kelompok masyarakat pinggiran (marjinal) yang digambarkan hidup dalam keterbatasan intelektual dan ekonomi, tapi justru sering menunjukkan nilai-nilai kemanusiaan yang lebih tulus, dibanding kelompok yang mapan dan dipenuhi kekuasaan.


Ketika dikaji lebih mendalam menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes film ini setidaknya memiliki tiga lapisan makna.  Pertama denotasi, penonton melihat sebuah sandal milik Bupati yang menjadi persoalan di kampung. Kedua konotasi, sandal, tidak lagi dipahami sebagai benda biasa melainkan sebuah representasi status sosial dan kekuasaan. Ketiga adalah mitos, film ini mengungkap keyakinan yang masih hidup dalam masyarakat bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan pejabat, memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan milik rakyat biasa. Mitos inilah yang secara luas dikritik oleh film ini. Dalam konteks film ini ideologi tersebut adalah budaya feodal yang menempatkan pejabat sebagai sosok yang harus diperlakukan beda dari masyarakat umum. 


Dalam sosiologi sastra karya seni dipandang sebagai cermin kehidupan masyarakat. Film Sandal Bupati merepresentasikan kondisi sosial yang masih memperhatikan adanya hubungan feodal antara syarat dan pemimpin 

Dari sudut sosiologi sastra sandal Bupati dapat dibaca sebagai kritik terhadap budaya federalisme modern, kesenjangan sosial antara elit dan rakyat, mentalitas, pemujaan terhadap kekuasaan, dan pentingnya integritas dalam kehidupan sosial. 


Beralih pada visual film. Sebetulnya berbahaya bagi saya yang bukan seorang akademisi film untuk mengomentari sinematografi film. Ini bukan domain dan ranah keilmuan saya, tapi saya ingin sedikit berkomentar, sebab kegiatan ini adalah menonton film maka tidak lengkap rasanya jika tidak membahas sinematografinya.


Selain pencahayaan, angle kamera, pewarnaan, sinematografi juga mencakup setting atau latar tempat dan tone warna (color grading). Pada film ini pemilihan lokasi di Kampung Pemulung menjadi elemen visual yang sangat pas. Lingkungan yang sederhana jauh dari kemapanan pejabat menciptakan kontras yang kuat antara masyarakat kampung dan dunia kekuasaan. Latar belakang masjid memperkuat nuansa moral dan spiritual tempat ibadah digunakan sebagai ruang refleksi nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab.  


Selanjutnya adalah color grading pada visual film ini saya melihat dua warna dominan yaitu kuning dan hijau. Perpaduan dua warna tersebut pada umumnya menggambarkan suasana yang tidak nyaman, tegang, terasing, atau memiliki nuansa psikologis yang tidak stabil. Nick tahu betul warna bukan sekadar elemen estetika, melainkan alat naratif yang kuat. Melalui color grading, film (termasuk juga fotografi) mampu memengaruhi emosi penonton secara halus dan mendalam. 


Selanjutnya kekuatan utama Sandal Bupati ini terletak pada kemampuan Nick mengubah peristiwa sederhana menjadi refleksi sosial yang mendalam. Film ini membuktikan bahwa pendidikan anti korupsi tidak selalu harus berbicara tentang skandal besar, tapi dapat dimulai dari kesadaran terhadap nilai kejujuran dan dalam kehidupan sehari-hari.


Sebagai sebuah hiburan film ini juga dibumbui humor-humor. Namun humor tersebut tidak menggunakan humor sleptick atau lelucon verbal yang berlebihan, melainkan humor situasional, satire sosial dan ironi. Humor dalam sandal Bupati bukan sekadar pemancing tawa, melainkan menjadi strategi artistik untuk menyampaikan kritik sosial dan pendidikan anti korupsi melalui satire ironi dan absurditas situasional. 


Sumber humor terbesar muncul ketika sandal yang sebenarnya benda biasa tiba-tiba berubah menjadi barang penting  hanya karena milik seorang Bupati atau pejabat publik. Penonton tertawa karena menyadari absuriditas situasi tersebut. Yang dicari bukan sandalnya tapi status yang melekat pada sandalnya. Setelah tawa kita sebagai penonton rendah, kita diajak bertanya mengapa sebuah sandal bisa menjadi begitu penting hanya karena milik seorang Bupati? Penonton tertawa tetapi setelah tertawa justru diajak berpikir. Di situlah humor itu berubah menjadi refleksi sosial yang tajam. 


Secara utuh film Sandal Bupati merupakan film pendek yang berhasil memadukan kritik sosial simbolisme dan pendidikan anti korupsi dalam sebuah cerita yang sederhana yang dibumbui humor, namun penuh makna. Film ini mengajak penonton mempertanyakan kembali hubungan antara kekuasaan dan moralitas dengan pendekatan semiotika terlihat bahwa film tidak hanya bercerita tentang sandal yang hilang tapi juga tentang cara masyarakat memandang kekuasaan dan bagaimana integritas diuji dalam kehidupan sehari-hari. 


Tentu film Sandal Bupati ini juga syarat dengan nilai-nilai anti korupsi yang selama ini dikampanyekan oleh KPK. Film ini mengajarkan pentingnya kejujuran, tanggung jawab, kesederhanaan, kepedulian dan keberanian. Menariknya film ini tidak menyampaikan pesan anti korupsi melalui ceramah atau pidato moral, sebaliknya pesan tersebut hadir melalui konflik sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Penonton diajak memahami bahwa korupsi bukan hanya persoalan uang negara dengan jumlah dan skandal besar, tapi juga berkaitan dengan mentalitas, sikap dan cara seseorang memperlakukan amanah yang dipercayakan kepadanya.






Advokasi dengan Dinas Perpustakaan Pandeglang

Kamis 4 Juni 2026. Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Perpustakaan Nasional RI Kota Serang mengagendakan pertemuan dengan staf dan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pandeglang, ibu Neneng Nuraeni di Rumah Dunia, Kota Serang.

Pertemuan ini dalam rangka membangun sinergi dan kerja sama pada kegiatan bimbingan teknis kepenulisan konten budaya lokal yang akan diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kabupaten Pandeglang.  Pada pertemuan ini membahas konsep dan strategi pelaksanaan kegiatan pelatihan menulis konten budaya lokal. 


Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan menulis masyarakat Pandeglang khususnya dalam mendokumentasikan, mengembangkan dan mempromosikan kebudayaan lokal Kabupaten Pandeglang.


Kegiatan ini kolaborasi dengan para  pegiat literasi, belajar, guru, mahasiswa hingga tokoh budaya. Diharapkan kegiatan dapat memberikan inspirasi wawasan serta pengalaman berharga baru para peserta bimtek sehingga mampu menghasilkan konten-konten berkualitas yang mengangkat potensi budaya Kabupaten Pandeglang sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya, sekaligus penguatan budaya baca dan literasi masyarakat.











Dongeng di Out of the Boox

Minggu 7 Juni 2026 Relawan Literasi Masyarakat @perpusnas.go.id Kota Serang, Rudi Rustiadi bersama tim dongeng Rumah Dunia menyelenggarakan acara Dongeng dan Workshop Children Short Story dalam acara Out of the Boox di Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten.

Tim dongeng Rumah Dunia (Kak Dio, Kak Wina, Kak Gege) .menceritakan kisah Timothy dan Bob Si Beruang yang Sombong. Dongeng tersebut merupakan cerita yang ditulis oleh Shasa Nabila Purwita Rini, siswa SMA Negeri 1 Balikpapan, yang dimuat di media online kurungbuka.com. Cerita tersebut memuat pesan moral untuk tidak pilih-pilih teman.

Sedangkan workshop diisi oleh Tias Tatanka , founder Rumah Dunia. Tias memberikan pelatihan singkat membuat cerita dari gambar yang dipilih oleh para peserta. Dari gambar-gambar tersebut beserta diminta untuk membuat sebuah cerita yang menarik.

Para peserta yang merupakan anak-anak sangat senang dan antusias. Apalagi mereka mendapatkan hadiah dari Rumah Dunia dan Out of the Boox, bagi mereka yang aktif dan menyimak dengan baik, dongeng serta materi dari narasumber.

#relawanliterasimasyarakat

#relima2026 

#BersamaRelima 

#PerpstakaanNasionalRI 

@perpusdabanten @gemarmembaca.id @forumtbmkotaserang @forumtbmbanten @dpkkotaserang @kurungbukacom @relima_provinsi_banten















Literacy Journey di Out of the Boox

 Sabtu 6 Juni 2026 Relawan Literasi Masyarakat @perpusnas.go.id Kota Serang, Rudi Rustiadi bersama Rumah Dunia, Duta Baca Indonesia dan @outoftheboox.id menyelenggarakan kegiatan sharing session Literasi Journey di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten.

Literacy Journey adalah perjalanan Gol A Gong bersama dua anaknya, Jordy dan Natasha yang melakukan perjalanan ke 10 negara di Asia dan Eropa Barat selama 3 bulan. 

Pada kesempatan itu Gol A Gong yang juga Duta Baca Indonesia berbagi pengalaman di negara-negara yang didatanginya seperti Vietnam, Cina, Khazastan, Azerbaijan, Turki dan negara-negara lainnya.

Gol A Gong juga bercerita masa mudanya saat keliling Indonesia. Ia memanfaatkan bakat bermain bulu tangkis untuk membiayai perjalanan—menantang atlet-altlet daerah dan menggunakan bayaran kemenangannya sebagai ongkos perjalanan. 

Cara lain yang ia lakukan dengan hitchhiking menaiki truk-truk yang beristirahat di SPBU. Ia meminta izin menumpang kepada sopir untuk ikut ke daerah tujuan truk.

Hobi traveling Gol A Gong tidak berhenti saat muda, di usianya yang sudah setengah abad lebih Gol A Gong masih terus traveling. Yang terdekat adalah Safari Literasi Jawa, pada Juli hingga Agustus 2026 dan perjalanan Eropa-Afrika 2027.

Gol A Gong menyampaikan bahwa jika ingin traveling harus by design. Dipikirkan dengan matang, mulai dari persiapan, rute, bekal hingga pasca perjalanan.

Acara berjalan lancar dengan antusias, para peserta yang aktif bertanya—termasuk mengulik bagaimana Gol A Gong bisa tetap konsisten berkarya hingga hari ini. Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan pembagian doorprize dari panitia OOTB Gudang Buku Keliling serta Gol A Gong sendiri.

#relawanliterasimasyarakat 

#relima2026 

#BersamaRelima 

#PerpstakaanNasionalRI 

@perpusdabanten @golagong @dpkkotaserang @gemarmembaca.id @forumtbmkotaserang @forumtbmbanten @perpusnas.go.id














Bincang Buku dan Pembacaan Puisi Timur dari Masa Lalu

Kamis 4 Juni 2026 Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Kota Serang, Rudi Rustiadi bersama penyair, Toto ST Radik dan Rumah Dunia mengadakan Bincang Buku dan Pembacaan Puisi Timur dari Masa Lalu di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten, Kota Serang dalam rangkaian acara Out of the Boox.

Pada kesempatan itu Toto ST Radik berbagi proses kreatif menulis puisi Timur dari Masa Lalu. Buku puisi Timur dari Masa Lalu ini merupakan buku antologi terbarunya yang diterbitkan oleh penerbit Langgam Pustaka. Toto menjelaskan bahwa buku ini ditulisnya dengan penuh persiapan. Puisi-puisi dalam buku ini merupakan satu kesatuan satu puisi yang utuh dan pernah diikutkan sayembara penulisan puisi.

Peserta antusias mendengarkan proses  penulisan puisi yang dibagikan oleh Toto ST Radik. Beberapa peserta juga membacakan puisi Timur dari Masa Lalu.

Peserta semakin antusias setelah mendapatkan door prize dari Out of the Boox. Beberapa dari mereka bertanya seputar dunia tulis menulis baik itu menulis puisi ataupun buku fiksi lainnya.

@dpkkotaserang 
@perpusdabanten 
@gemarmembaca.id 
@perpusnas.go.id 
@forumtbmbanten 
@forumtbmkotaserang 

#relima2026 
#relawanliterasimasyarakat 
#PerpstakaanNasionalRI 
#BersamaRelima 









 

Relima Kota Serang

Tahun 2026 ini saya, Rudi Rustiadi mendapatkan amanah dari @perpusnas.go.id untuk menjadi Relawan Literasi Masyarakat (Relima) 2026 lokus Kota Serang. Pengukuhan dilaksanakan 18 Mei 2026 di Ruang Teater Gedung A, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Salemba.

Mari bersama-sama berkolaborasi menguatkan budaya baca dan gerakan literasi Kota Serang.