Sabtu 13 Juni 2026, saya kembali menghadiri acara Nonton Searah (Nose) di Kedai Searah, Rumah Dunia. Ini adalah kegiatan Nose yang kedua yang saya hadiri. Pertama sebagai penikmat (penonton) film Memiliki dan Kehilangan karya RG Kedung Kaban. Kedua saya menjadi menjadi pemantik diskusi film pendek Sandal Bupati.
Film Sandal Bupati karya Nick Julio Siahaan merupakan salah satu film dalam Anti Corruption Film Festival 2024. Berdurasi 15 menit, film dengan alur yang sederhana ini berhasil menyampaikan kritik sosial yang tajam. Mengenai kekuasaan, integritas dan relasi kuasa antara masyarakat dan pemerintah atau pejabat publik.
Film ini bercerita tentang hilangnya sandal seorang Bupati saat berkunjung ke Kampung Pemulung dan singgah untuk salat di masjid. Konflik dan ketegangan terjadi saat peristiwa tersebut. Dalam plot tersebut film ini mengajak penonton merenung, bagaimana kekuasaan seringkali mengubah cara manusia memaknai sesuatu yang sebenarnya biasa.
Sandal Bupati menjadi simbol kekuasaan sekaligus metafora integritas. Ketika sandal tersebut menjadi pusat perhatian banyak orang, penonton diajak melihat bagaimana sesuatu yang sederhana dapat berubah menjadi objek perubahan makna karena terkait dengan kekuasaan.
Selain sandal simbol yang jelas terlihat dalam film ini adalah masjid. Tempat ibadah yang berfungsi sebagai penanda moralitas dan ruang spiritual, yang seharusnya menjadi tempat lahirnya kejujuran. Namun, pada film ini jauh dari dua kata tersebut. Kehadiran masjid menciptakan kontras yang kuat antara nilai-nilai agama dan perilaku manusia yang masih terjebak pada kepentingan duniawi.
Adapun kampung pemulung menjadi metafora kelompok masyarakat pinggiran (marjinal) yang digambarkan hidup dalam keterbatasan intelektual dan ekonomi, tapi justru sering menunjukkan nilai-nilai kemanusiaan yang lebih tulus, dibanding kelompok yang mapan dan dipenuhi kekuasaan.
Ketika dikaji lebih mendalam menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes film ini setidaknya memiliki tiga lapisan makna. Pertama denotasi, penonton melihat sebuah sandal milik Bupati yang menjadi persoalan di kampung. Kedua konotasi, sandal, tidak lagi dipahami sebagai benda biasa melainkan sebuah representasi status sosial dan kekuasaan. Ketiga adalah mitos, film ini mengungkap keyakinan yang masih hidup dalam masyarakat bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan pejabat, memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan milik rakyat biasa. Mitos inilah yang secara luas dikritik oleh film ini. Dalam konteks film ini ideologi tersebut adalah budaya feodal yang menempatkan pejabat sebagai sosok yang harus diperlakukan beda dari masyarakat umum.
Dalam sosiologi sastra karya seni dipandang sebagai cermin kehidupan masyarakat. Film Sandal Bupati merepresentasikan kondisi sosial yang masih memperhatikan adanya hubungan feodal antara syarat dan pemimpin
Dari sudut sosiologi sastra sandal Bupati dapat dibaca sebagai kritik terhadap budaya federalisme modern, kesenjangan sosial antara elit dan rakyat, mentalitas, pemujaan terhadap kekuasaan, dan pentingnya integritas dalam kehidupan sosial.
Beralih pada visual film. Sebetulnya berbahaya bagi saya yang bukan seorang akademisi film untuk mengomentari sinematografi film. Ini bukan domain dan ranah keilmuan saya, tapi saya ingin sedikit berkomentar, sebab kegiatan ini adalah menonton film maka tidak lengkap rasanya jika tidak membahas sinematografinya.
Selain pencahayaan, angle kamera, pewarnaan, sinematografi juga mencakup setting atau latar tempat dan tone warna (color grading). Pada film ini pemilihan lokasi di Kampung Pemulung menjadi elemen visual yang sangat pas. Lingkungan yang sederhana jauh dari kemapanan pejabat menciptakan kontras yang kuat antara masyarakat kampung dan dunia kekuasaan. Latar belakang masjid memperkuat nuansa moral dan spiritual tempat ibadah digunakan sebagai ruang refleksi nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab.
Selanjutnya adalah color grading pada visual film ini saya melihat dua warna dominan yaitu kuning dan hijau. Perpaduan dua warna tersebut pada umumnya menggambarkan suasana yang tidak nyaman, tegang, terasing, atau memiliki nuansa psikologis yang tidak stabil. Nick tahu betul warna bukan sekadar elemen estetika, melainkan alat naratif yang kuat. Melalui color grading, film (termasuk juga fotografi) mampu memengaruhi emosi penonton secara halus dan mendalam.
Selanjutnya kekuatan utama Sandal Bupati ini terletak pada kemampuan Nick mengubah peristiwa sederhana menjadi refleksi sosial yang mendalam. Film ini membuktikan bahwa pendidikan anti korupsi tidak selalu harus berbicara tentang skandal besar, tapi dapat dimulai dari kesadaran terhadap nilai kejujuran dan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai sebuah hiburan film ini juga dibumbui humor-humor. Namun humor tersebut tidak menggunakan humor sleptick atau lelucon verbal yang berlebihan, melainkan humor situasional, satire sosial dan ironi. Humor dalam sandal Bupati bukan sekadar pemancing tawa, melainkan menjadi strategi artistik untuk menyampaikan kritik sosial dan pendidikan anti korupsi melalui satire ironi dan absurditas situasional.
Sumber humor terbesar muncul ketika sandal yang sebenarnya benda biasa tiba-tiba berubah menjadi barang penting hanya karena milik seorang Bupati atau pejabat publik. Penonton tertawa karena menyadari absuriditas situasi tersebut. Yang dicari bukan sandalnya tapi status yang melekat pada sandalnya. Setelah tawa kita sebagai penonton rendah, kita diajak bertanya mengapa sebuah sandal bisa menjadi begitu penting hanya karena milik seorang Bupati? Penonton tertawa tetapi setelah tertawa justru diajak berpikir. Di situlah humor itu berubah menjadi refleksi sosial yang tajam.
Secara utuh film Sandal Bupati merupakan film pendek yang berhasil memadukan kritik sosial simbolisme dan pendidikan anti korupsi dalam sebuah cerita yang sederhana yang dibumbui humor, namun penuh makna. Film ini mengajak penonton mempertanyakan kembali hubungan antara kekuasaan dan moralitas dengan pendekatan semiotika terlihat bahwa film tidak hanya bercerita tentang sandal yang hilang tapi juga tentang cara masyarakat memandang kekuasaan dan bagaimana integritas diuji dalam kehidupan sehari-hari.
Tentu film Sandal Bupati ini juga syarat dengan nilai-nilai anti korupsi yang selama ini dikampanyekan oleh KPK. Film ini mengajarkan pentingnya kejujuran, tanggung jawab, kesederhanaan, kepedulian dan keberanian. Menariknya film ini tidak menyampaikan pesan anti korupsi melalui ceramah atau pidato moral, sebaliknya pesan tersebut hadir melalui konflik sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Penonton diajak memahami bahwa korupsi bukan hanya persoalan uang negara dengan jumlah dan skandal besar, tapi juga berkaitan dengan mentalitas, sikap dan cara seseorang memperlakukan amanah yang dipercayakan kepadanya.












































