Pertemuan Pertama
Hari ini Minggu 26 April 2026, saya teringat kembali pada peristiwa 12 tahun lalu (Februari 2014), saat saya membawa sebuah cerpen dan sebuah puisi ke Rumah Duna. Menunggangi Supra Fit New milik Bapak, saya memarkir motor di area depan Rumah Dunia, di bawah pohon jati. Saya kemudian menyerahkan karya yang saya buat asal-asalan (karena memang belum tahu teori menulis) itu kepada relawan Rumah Dunia, Jack Alawi sebagai persyaratan mengikuti Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 23.
Waktu terus bergulir. Tidak terasa saya sudah 14 tahun menjadi bagian dari perjalanan luar biasa Rumah Dunia dalam menggerakkan kegiatan literasi. Perannya sekarang berganti, saya menerima cerpen dan puisi calon peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 43 sebagai persyaratan menjadi peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 43. Mereka menyerahkan karya dengan map berisi cerpen atau puisi yang mereka buat (barangkali mungkin sama asal-asalan seperti saya dulu ^_^).
Dalam perjalanan 14 tahun di Rumah Dunia selama mengikuti Kelas Menulis Rumah Dunia atau berdiskusi dengan relawan dan Mas Gol A Gong banyak wawasan kepenulisan yang saya terima. Tentu hari ini jika saya menulis cerpen atau puisi tidak lagi asal-asalan, tapi sudah dipikirkan dan dipertimbangkan dengan matang sesuai dengan ilmunya. Selama belajar menulis di Rumah Dunia saya mendapatkan banyak wawasan tentang dunia menulis tidak hanya cerpen dan puisi melainkan ilmu menulis jurnalistik mulai dari hard news, feature, esai dan travel writing. Saya juga mendapatkan ilmu menulis novel dewasa dan novel anak, fiksi mini, hingga menulis skenario film. Untuk materi terakhir ini khusus untuk mereka yang sudah lulus dari kelas menulis dan bisa membuat cerita (cerpen atau novel).
Pada pertemuan Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 43 ini materi langsung disampaikan oleh Mas Gol A Gong di halaman Museum literasi Gol A Gong. Pada kesempatan itu Mas Gol A Gong bercerita tentang sejarah Rumah Dunia serta perjalanan karier menulisnya yang ia rintis dari sejak remaja. Usaha tidak menghianati hasil, begitulah kira-kira quote yang cocok untuk menggambarkan kesuksesan karier kepenulisan Mas Gol A Gong hingga bisa menulis dengan produktif. Setahu saya sudah 130an buku yang ditulisnya. Beberapa karyanya seperti Ledakkan Idemu Agar Kepalamu Tidak Meledak, Surat dari Bapak, Gelisah Camar Terbang, Bangkok Love Story, Metro, Gong Smash, I Am A Survivor, Roga Sanghara Bhumi hingga magnum opusnya, Balada Si Roy menghiasi koleksi rak buku saya.
"Buku-buku itu ditulis dengan kompetensi, konsistensi dan komitmen," katanya. "Dengan itu semua saya berhasil menjadi sedikit penulis yang karyanya best seller," tambahnya.
Selesai bercerita tentang sejarah Rumah Dunia dan prosesnya menjadi penulis, Mas Gol A Gong memberi kesempatan emas secara cuma-cuma kepada para peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 43 untuk melihat masuk ke dalam Museum literasi Gol A Gong. Ia kemudian menjelaskan sudut-sudut, dan ruangan-ruangan yang ada di Museum Literasi Gol A Gong. Mulai dari sudut rak buku-buku yang mempengaruhi kepenulisannya, ruang karya relawan Rumah Dunia, ruang artefak perjalanannya di berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara, serta ruang-ruang lainnya yang akan membuat kita terpukau sekaligus terkesima.
"Saya ingin menularkan spirit iqra-qalam ini kepada kalian, bagaimana perjuangan dan perjalanan saya merintis karier sebagai penulis. Mudah-mudahan kalian terinspirasi, bisa menulis dan bisa melampaui saya," kata Mas Gol A Gong.
Setelah dari Museum Literasi Gol A Gong para peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 43 diajak berpindah tempat ke Teater Terbuka Rumah Dunia. Ada beberapa relawan yang sedang menyiapkan acara World Book Day Rumah Dunia 2026 "Dari Banten Untuk Dunia". Mereka ada yang sedang memasang backdrop, menyapu, dan men-setting panggung. Acara itu diisi dengan peluncuran 27 buku karya penulis Banten dan orasi literasi dari Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D.
Selanjutnya para peserta kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 43 dikenalkan kepada alumni Kelas Menulis Rumah Dunia, saat itu ada Qizink La Aziva (penulis novel Kelomang), Daru Pamungkas (Jurnalis Radar Banten) dan Aji Setiakarya (CEO Sultan TV). Mereka diberi kesempatan untuk menceritakan proses belajar di Rumah Dunia. Peristiwa ini juga saya alami ketika menjadi peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 23. Mendengarkan cerita para-alumni, semoga menginspirasi!
Pertemuan ini kemudian ditutup dengan penyerahan buku karya Mas Gol A Gong untuk para peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 43. Saya juga memberikan buku kepada mereka. Buku kumpulan puisi dan cerpen berjudul Munajat Sepanjang Hayat yang diterbitkan Lumbung Banten. Buku-buku itu diharapkan dibaca di rumah. Karena akan sulit belajar menulis jika tidak diimbangi banyak membaca buku.
Peserta yang mendaftar pada angkatan ini ada 12 orang. Semua semuanya bertahan hingga akhir pembelajaran.
Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya!


.jpeg)




.jpeg)















