Sabtu, 26 Maret 2016

TUR LITERASI ANYER-PANARUKAN


Alhamdulillah! Dengan kerendahan hati saya lantunkan puja dan puji pada Sang Pemberi Kehidupan, Allah Swt. Dalam kesempatan kali ini saya juga menyampaikan  rasa syukur dan terima-kasih saya atas nikmat-Nya yang lain, yaitu di-berikan-Nya saya waktu dan kesempatan untuk me-nuliskan cerita dan pengalaman saya selama Tur Literasi Anyer-Panarukan dalam buku ini. Karena sungguh! Tur Literasi Anyer-Panarukan merupakan pengalaman dan per-jalanan yang tidak biasa bagi saya.
Rasa terimakasih sebanyak-banyaknya juga saya sampai-kan kepada mas Gol A Gong, mbak Tias Tatanka, mas Toto ST Radik dan seluruh relawan Rumah Dunia serta  Yayasan Tunas Cendikia, TBM, FTBM, komunitas sastra, kampus, dinas pemerintahan dan seluruh rekan-rekan pegiat literasi yang ikut berpartisipasi dengan kegiatan Tur Literasi Anyer-Panarukan.
Pramodya Ananta Toer pernah menuliskan “Sebuah buku adalah sebuah kesaksian” jika memang begitu, maka buku Tur Literasi Anyer-Panarukan ini merupakan album yang berisi kesaksian perjalanan yang saya tulis dalam setiap kegiatan yang kami lakukan. Kesaksian yang lahir dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan selama Tur Literasi bersama Gol A Gong, Ardian Je, Arip Baehaqi dan Firmansyah dalam Tur Litersi Anyer-Panarukan. Berlima kami menggelorakan Indonesia menulis di setiap kota yang kami singgahi.

Kegiatan dalam Tur Literasi ini berupa Gempa Literasi, gempa yang menghancurkan kebodohan melalui literasi (budaya membaca dan menulis). Kegiatanya bermacam-macam, orasi literasi, pertunjukkan seni, pelatihan menulis, bazar buku, bedah buku, hibah buku, seminar atau diskusi literasi di komunitas, dinas pemerintahan, sekolah dan kampus di kota-kota yang kami lewati. Program ini pernah dilakukan pada Tur Literasi Jawa Barat (Januari 2012), Tur Literasi Asia (April-Mei 2012), Tur Literasi Banten (Oktober 2012), Tur Literasi Jawa Tengah, (Desember 2012), Tur Literasi Sumatra (Mei-Juni 2013) dan Tur Literasi Borneo (September-Oktober 2013). Dalam Tur Literasi Anyer-Panarukan kami memberi tagline “Gerakan Literasi Lokal Untuk Indonesia Membaca dan Menulis.” 


Tentunya banyak pengalam dan ilmu yang berharga saya dapatkan dalam Tur Literasi Anyer-Panarukan. Salah satunya adalah bahwa dalam perjalanan ini saya diajarkan untuk membuka mata, buka telinga, buka hati dan pikiran untuk selalu belajar dari apapun yang kita saksikan, kita dengar dan apa yang terjadi di sekeliling kita. Selain itu banyak cerita menarik dan unik di di setiap kota yang kami singgahi. Dulu saya menuliskan perjalanannya pada lembar-lembar buku tulis yang biasa dipakai anak sekolah mencatat pelajaran, kali ini saya menuliskannya pada sebuah buku dengan harapan bisa menginspirasi, berbagi cerita dan pengalaman.
Semoga langkah kecil kami, yaitu kerja literasi dari Anyer, Banten dari 9 Oktober 2014 hingga Panarukan dan diteruskan hingga Blitar kemudian kembali lagi ke Banten pada 24 November 2014, dalam Tur Litersi Anyer-Panarukan, mem-bawa manfaat dan berdampak positif bagi kita semua, bagi Indonesia. Dengan berjalannya Tur Litersi Anyer-Panarukan bisa menyadarkan kita bahwa mengubah Indonesia menjadi lebih baik, tidak perlu datang ke Jakarta atau menjadi bagian dari pemerintah. Tapi cukup di rumah dengan memberdaya-kan kualitas sumber daya manusia di lingkungan sekitar kita dengan literasi!


Selasa, 15 Maret 2016

THE TRAVELER'S WIFE


Judul Buku      : The Traveler’s Wife
Penulis             : Tias Tatanka
No ISBN         : 9786021695210
Tahun Terbit    : April 2015
Kategori          : Catatan Perjalanan
Isi                    : 242 Halaman

Perjalanan Istri Travel Writer
Salahsatu cara meringankan hati adalah dengan bergerak, berjalan dan tidak berada di satu tempat dalam waktu yang lama. Dengan begitu, kenangan akan tergeser oleh hal-hal baru yang dinamis, (The Traveler’s Wife, hal:16). Begitulah tulis Tias Tatanka dalam buku solo perdananya. Tias menjadikan perjalanannya sebagai pengabdian seorang istri, mendampingi suami, memberi pelatihan menulis para TKI, ibu-ibu KBRI dan FLP di luar negeri.
Perjalanan Tias mengelilingi 7 negara Asia dalam kurun 48 hari itu dimulai dari Singapura, Malaysia, Thailand, India, UEA, Qatar, dan diakhiri dengan berumrah diTanah Suci. Di Singapura dan Malaysia, sebagai istri seorang travel writer, Tias belum sepenuhnya menjadi traveler. Di dua negara tersebut Tias belum banyak berinteraksi dengan lingkngan dan masyarakat, lebih banyak melihat dan mendengar dari Gol A Gong, suaminya. “Aku lebih banyak mendengar suamiku bercerita dan berkomentar ini-itu. Sungguh, aku belum sepenuhnya menikmati perjalanan ini,” (hal:20). Itu terjadi karena ibu empat anak ini acapkali didera rindu yang datang tiba-tiba. Wajar saja karena ini pertamakalinya Tias harus meninggalkan buah hatinya, Bella, Abi, Odie, Azka dalam waktu lama.
Thailand, berbeda dengan dua negara sebelumnya. Petualangan Tias di Negeri Gajah Putih ini sungguh mengagumkan dan layak mendapat acungan jempol. Meski dengan konsentrasi terbelah sebab harus meninggalkan suami di rumah sakit ketika menyusuri Khao San Road dan tidak menikmati perjalannya. Namun, di tempat yang menjadi surga para pelancong di Bangkok itu, Tias sudah bermetamorfosis menjadi seorang eksplorer. Tias yang tadinya melihat Khao San Road tak ubahnya Malioboro. Pada akhirnya bisa membedakan antara keduanya, mulai dari ragam etnik suvenir hingga budayanya. Khao San lebih dinamis, ekspresif dan ‘liar’ dibanding Malioboro menurutnya.
India, di negeri kelahiran Shahrukh Khan ini, Tias paling banyak menuliskan kisahnya. Itu karena Tias jatuh cinta dengan kota-kota dan pernik kehidupan di dalamnya. Tias tidak pelit menumpahkan isi hatinya, berkisah tentang perjalanannya menjelajah setiap sudut kota. Termasuk perasaan batinnya ketika suaminya meminta Tias mengubur masa lalunya di Varanasi dengan menemaninya melintasi ruas-ruas jalan kenangan yang 20 tahun lalu ia lewati bersama perempuan lain. Keromantisan sepasang travel writer itu pun terasa pada bab ini. Benar kata Nurul Noe, travel blogger yang memberikan endorsement pada buku ini. “Perjalanan menjelajah tempat baru ibarat hidangan lezat. Makin sedap jika dinikmati bersama pasangan kita.”
Waktu luang pas ngantor, ya baca!
Meski menjelajah kota-kota terkenal yang dicetak besar pada peta dunia, apa yang ditulis Tias dalam bukunya merupakan refleksi sekelumit kisahnya menjejak tanah di tujuh negara yang ia kunjungi. Bukan hunting foto di land mark negara yang menjadi tujuan. Tetapi interaksi dengan WNI atau masyarkat setempat dan pengalaman hidup di negara orang yang bisa memberi banyak pelajaran hiduplah yang dicarinya. Suami sakit di Hadd Yai, mengubur masa lalu di Varanasi, salah pesan tiket di Bandara Lal Bahadur Shastri, maskapai yang bangkrut dan peristiwa lain yang terjadi dalam perjalananya dijadikan Tias sebagai hikmah, untuk lebih bersyukur dan mendekatkan diri pada Tuhan.
Walaupun The Traverer’s Wife buku catatan pengalaman pribadi yang tentunya banyak pandangan personal penulis terhadap kota yang dikunjunginya. Tapi Tias tidak lupa menguak sejarah dan fakta disetiap tempat yang disambanginya, sehingga menambah pengetahuan pembaca. Seperti sejarah bandara Netaji Subhas Chandra Bose International, Hat Yai, Varanasi, Agra Fort, Gateway of India, Remote Area di Abu Dhabi dan lainya
Kelebihan lain adalah kecakapan Tias menulis deskripsi, membuat kita seolah turut serta dalam perjalanan. Menjelajah setiap sudut kota yang dikunjunginya. Apalagi, Tias tidak membiarkan Anda sepenuhnya berimajinasi dengan kata-kata yang ditulisnya, tapi juga menuntun Anda dengan menyertakan beberapa hasil foto pada lembar halaman di setiap akhir catatan.
Selamat membacadan berkelana bersama Tias Tatanka!

November 2015

 Diresensi oleh Rudi Rustiadi, alumni Pon-Pes Daar El-Qolam, belajar menulis di Rumah Dunia.