Minggu, 25 Mei 2014

Cerpen Pertamaku di Media Massa

Tangisan Gangga
Oleh : Rudi Rustiadi

Seorang anak perempuan berjalan tergesa-gesa di lorong rumah sakit. Ibu, hanya sosok itu yang ingin ia temui.
Di ruangana serba putih, seorang wanita tua terbaring di atas kasur. Selang masker oksigen menempel di lubang hidungnya, selang infus juga terjancap di lengan kiri. Sudah tiga bulan ia tidak sadarkan diri. Anak permpuan itu menggenggam tangan ibunya penuh harap. “Ibu, kapan sembuh,” suara gadis 12 tahun itu bergetar.
Ayah yang seharusnya menjaga, meninggalkan rumah setelah semingu ibu masuk rumah sakit. Sekarang ia tinggal sendiri, tidak ada yang melindungi. Ia pun harus berjuang membiayai pengobatan ibunya.
Dia kehilangan masa kanak-kanaknya hanya untuk mencari uang biaya pengobatan ibunya. Ia tak mempunyai keahlian apa-apa, selain berjualan kue dan kantong pelastik di pasar.
 “Ibu, ayo cepat bangun!” Isaknya membuat gaduh ruangan pasien yang dihuni enam orang tersebut. Seorang perempuan berpakaian serba putih menarik tangannya dengan paksa dan menyeretnya hingga keluar ruangan. 
“Gangga, ayo keluar!” bentak perempuan tersebut. “Kamu sudah mengganggu pasien  lain.”
“Iya, suster,” kata Gangga takut sambil memegangi pergelangan tangannya yang memerah, karena di tarik paksa oleh suster tersebut.
“Sebaiknya kamu pulang saja! Lihat! Pakaianmu kotor sekali, badanmu juga bau, kamu bisa membuat penyakit ibumu semakin parah,” bentak suster. Wajahnya terlihat menakutkan jika sedang marah.
Gangga berjalan tertunduk sambil terisak-isak. Air matanya terus mengalir di kedua matanya. Badannya terasa lemas. Langkah kakinya berat. Gadis kecil itu tak bisa menahan rasa sedihnya. Gangga berjalan tak tentu arah, hingga akhirnya berhenti di depan loket administrasi. Dengan persaan takut Gangga bertanya kepada petugas administrasi. Berapa biaya yang harus Gangga keluarkan untuk pengobatan ibunya?
Gangga terbelalak, saat melihat jumlah rupiah yang tertera di kertas yang baru saja diberikan petugas administrasi kepadanya. Harus kemana lagi ia mencari uang sebanyak itu?
“Totoalnya lima juta, Dik. Itu sudah di potong dari BPJS. Kamu baru membayar tiga ratus ribu. Jika minggu ini kamu tidak bisa bayar, ibumu tidak akan mendapatkan perawatan lagi.” Jelas pegawai admnistrasi dengan malas-malasan, wajahnya terlihat tidak ramah karena harus melayani gadis kecil yang miskin.
Tangan mungil Gangga merogoh saku celananya. Mencari lembaran uang yang tadi ia peroleh dari jualan kue dan kantong pelastik di pasar. Kakinya berjinjit, meja loket terlalu tinggi untuk anak seusianya. Dari  genggaman tangan kanan uang lembaran lima ribu dan dua ribu lecek. Sedangkan di tangan kirinya uang koin receh lima ratus dan seribuan ia keluarkan. Gangga  menaruhnya di atas meja loket bergantian.
“Hari ini aku cuma punya ini. Ibuku tidak boleh keluar dari rumah sakit sebelum ia sembuh, aku akan melunasi sisanya,” ucap Gangga dengan suara terbata-bata. Biaya pengobatan ibunya terasa semakin mencekik lehaernya.  
Gangga kembali lagi ke pasar. tatapan matanya kosong. Berjalan sendirian di tengah keramain. Tidak ada seorang pun yang menganggap dirinya ada. Limbung. Terkucilkan. Sendirian.
Tiba-tiba matanya tertuju kepada seorang wanita agak tua yang sedang membeli ikan. Samar-samar terdengar suara wanita tersebut sedang menawar harga ikan. Kemudian mengeluarkan uang seratus ribu dari dompetnya. Wanita tersebut berjalan menuju  penjual sayuran. Mata Gangga tidak pernah lepas dari wanita tersebut, tepatnya dari domper wanita itu. Entah apa yang ada dipikirannya namun hal yang seharusnya tidak ia lakukan, akhirnya ia lakoni.
“Copeeet!” wanita itu berteriak histeris.
Gangga berlari sekuat tenaganya menghindari orang-orang yang ingin menangkapnya. Ia berlari sambil menangis. Nafasnya terengah-engah. Ia berlari secepat yang ia bisa, menuju tempat aman untuk bersembunyi. Gangga melihat sebuah rumah tua yang tidak berpenghuni. Gangga masuk ke dalam rumah itu dan bersembunyi di sebuah ruangan. Dari balik jendela ia mengintip orang-orang yang kebingungan mencari dirinya.
“Dasar pencopet kecil! Masih kecil sudah mencopet, bagaimana nanti kalau sudah besar? Mau jadi apa dia nanti?” seorang pria memaki-maki anak perempuan itu sambil membawa sebilah bambu.
“Awas saja kalau ketemu! Akan ku potong tangannya biar dia kapok, kecil-kecil sudah belajar jadi pencopet,” ancam seorang lain dengan geram. Karena kehilangan jejak, gerombolan itu pun membubarkan diri.
Denyut jantung Gangga kembali stabil setelah adrenalinnya terpacu. Kemudian ia merogoh sesuatu dari kantongnya, sebuah dompet bermotif bunga-bunga. Milik seorang wanita yang sedang berbelanja sayuran di pasar.
“Maafkan aku, aku terpaksa melakukannya.” Air matanya terus mengalir.
Dompetnya tebal. Perlahan Gangga membuka dompetnya. Gangga tersenyum kecut dan membuang dompet tersebut, ia merasa lelah, sia-sia ia tadi berlari menghindari orang-orang yang ingin menangkapnya, ketika melihat isi dompet itu hanya kumpulan bon dan struk yang membuat isinya terlihat tebal. Gangga memejamkan matanya air matanya mengalir deras. Ia menangis sesegukan tanpa suara. Ingin sekali dia berteriak. Tapi tidak bisa. Hatinya sangat sesak, beban hidupnya sungguh berat.
Kehidupan memang sungguh misteri. Banyak kejadian tak terduga yang terkadang menimpa kita. Itu lah yang Gangga rasakan. Kejadian demi kejadian yang datang membawa kesedihan dalam hidupnya adalah misteri.
Gangga menyenderkan kepala ke dinding, menoleh ke kanan. Air matanya menetes ke lantai yang berdebu. Jemari kecilnya mencakar lantai dan perlahan mengepalkanya sekuat tenaga. Ia melihat lembaran koran dan membaca judulnya “Rumah Sakit Buang Pasien Miskin di Pinggir Jalan”
Gangga teringat ibunya. Hatinya sesak ingin sekali berteriak dan menjerit. Dimana rasa belaskasih manusia? Haruskah orang miskin diusir atau dibuang dari rumah sakit karena tidak bisa membayar biaya pengobatan? Gangga tak sanggup lagi menahan beban hidupnya dan berteriak!
***
“Ibuuu....” Gangga berteriak. Nafasnya tersengal-sengal, keringat  bercucuran di wajahnya. Ia segera melempar koran yang menyelimuti tubuuhnya.
Gelap. Rupanya ia tertidur. Ia berharap kejadian tadi hanyalah mimpi dan berandai, ibunya duduk manis di ruang tamu menunggunya pulang sekolah. Tapi sayang, Tuhan tidak mengizinkan. Ada sesak saat tersadarkan, ibunya benar-benar terbaring di rumah sakit.
Sepasang bola mata gadis itu menatap kosong. Jalana sepi. Gelap menyelimuti rumah tua yang ia diami. Gadis itu tertunduk, memejamkan mata. Ada yang penting yang untuk ia pikirkan. Perutnya meronta sejak tadi. (*)

Radar Banten, 25 Mei 2014
Rudi Rustiadi, anggota kelas menulis
Rumah Dunia angkatan ke-23

Ini cerpennya.

Sabtu, 24 Mei 2014

Stasiun Serang



#Baduy 3

Dari kiri: Aly Sa'id, Syarif, Gue, Jack Alawi. Lagi naik kreta


Suara rel besi beradu dengan roda kereta menjadi melodi yang mengiringi perjalan saya dari stasiun Serang ke stasiun Rangkasbitung. Gerbong kereta api jurusan Serang-Rangkasbitung bergerak perlahan meninggalkan Serang.

Ini adalah kali kedua saya menyambangi stasiun ini. Ketaika pertama kali usia saya masih tujuh tahun, bapak mengajak saya jalan-jalan naik kereta api dari Serang ke Merak sebagai hadiah sunatan saya.

Pukul  06.55 WIB. Saya naik kereta di gerbong lima. Penumpang kereta jurusan Serang-Rangkasbitung masih sepi hanya kami, peserta Wisata Budaya Baduy dan beberapa orang saja yang naik. bangku panjang berhadap-hadapan banyak yang kosong, tidak terisi.

Pukul 07.06 WIB. Kereta berhenti di stasun Walantaka. Tidak ada yang naik ke gerbong kami. Titik-titik air mulai berjatuhan dari langit. Pukul 07.20 WIB kereta kembali berhenti di stasiun Cikeusal sedikit-demi sedikit bangku kosong mulai terisi. Pukul 07.29 WIB kereta berhenti di stasiun Catang. Hawa dingin mulai menyelimuti tubuh ini. Cuaca yang dingin karena hujan ditambah dua AC dalam gerbong membuat tubuh ini sedikit menggigil.

 Pukul 07.41 WIB kereta kembali berhenti, untuk mengangkut penumpang di stasiun Jambu Baru. Di sini gerbong yang kami tumpangi mulai ramai dengan para pedagang yang menjajakan dagangannya, suasana berubah menjadi sumpek dan semerawut. Aroma pasar mulai tercium, berbagai jenis makan yang di jajak pedagang mengeluarkan aroma yang bercampur menjadi satu mulai dari nasi uduk, tales rebus, ikan teri sampai pete dan ikan asin ada di gerbong ini.

Pukul 07.59 WIB kami sampai di stasiun Rangkas Bitung. Kami sempat menunggu rombongan lain yang belum datang disepanjang teras  stasiun, ditengah ramainya lalu lalang para pengguna kereta api. Terlihat juga beberapa orang yang sedang menunggu kereta api. Waktu luang ini saya gunakan untuk berjejaring sosial, sebagian peserta Wisata Budaya Baduy lainnya juga sibuk dengan gadgetnya, sebagian lain berpose mengabadikan moment di stasiun Rangkasbitung ini. Pada masa lampau, stasiun Rangkasbitung merupakan urat nadi perekonomian masyarakat Banten. Rangkasbitung yang ketika itu merupakan kota industri pertanian sangat bergantung pada kelancaran arus perputaran transportasi untuk membawa hasil perkebunan dan pertanian ke Batavia (Jakarta), dan itu bisa diatasi dengan keberadaan stasiun Rangkasbitung.

Ransel Kecil



#Baduy 2


Sebelum bergabung dengan Rumah dunia dan membaca buku TE-WE (Travel Writer), (KPG, 2012). Saya hanya lah seorang lelaki berusia 24 tahun yang tak bisa jauh dari rumah. Masih berfikir untuk apa berpergian jauh sementara di rumah sendiri sangat nyaman. Namun itu semua berubah seketika ketika membaca kalimat. “Jika kamu ingin hebat, berpetulanglah! Karena dunia milik orang-orang pemberani” (pepatah lama) di buku TE-WE. Ketiak membaca kalimta itu saya merasa tertantang sekaligus merasa “terhina” sebagai seorang lelaki.

Di usia 24 tahun saya belum pernah bertualang sendiri. Secara tidak langsung pepatah di atas jelas menghina saya karena saya belum pernah berpetualang. Mungkinkah seorang yang belum pernah berpetualang adalah seorang pengecut? Perasaan itu langsung terbesit dalam hati ketika membaca pepatah tadi. Maka, kemudian saya mendaftarkan diri menjadi peserta Wisata Budya Baduy untuk membuktikan kepada pepatah tadi bahwa saya bukan seorang pengecut!

Berkumpul dengan orang yang senang melakukan perjalanan jauh dari rumah sendirian seperti Gol A Gong, Jack Alawi dan relawan Rumah Dunia “memaksa” saya untuk berjalan melihat dunia luar, meninggalkan kenyamanan rumah. Namun saya sadar betul waktu itu saya hanya lah anak rumahan, yang tidak  pernah meninggalkan kenyamanna rumah begitu saja. buta akan dunia luar. Maka saya tidak  berpetulang sendiri melainkan beramai-ramai, hitung-hitung latihan untuk suatu saat berpetualang seorang diri.

Ini adalah catatan perjalanan pertama saya. Pergi dari kenyamanan rumah untuk mekalukan perjalanan menikmati master piece ciptaan tuhan atau karya luar biasa mansia yang saya catat.

***

17 Mei 2014. Rasa kantuk masih bergelayut di mata saya Sabtu pagi itu. Saya berusaha bangkit dari kasur ketika jam alarm berbunyi pukul 04.45 WIB.

Pukul 05.15 WIB. saya sudah menunaikan sholat subuh dan packing. Menggendong ransel kecil berisi dua kaus, dua celana dalam, perlangkapan mandi, sarung dan sweater saya siap berangkat ke stasiun Serang.

“Gak kekecilan tuh, tasnya,” tanaya  ibu, sewaktu saya meminta izin pergi.

“Gak, cukup kok, lagian cuma semalam doang,” jawab backpaker amantiran ini dengan PeDe.

“Jangan lupa beliin oleh-oleh, gula kaung,” pinta ibu, setelah saya cium tangnnya.

“Iya, kalo uangnya ada.”

Dengan menggunakan motor Beat berwarna biru, saya berangkat menuju stasiun Serang untuk meeting point bersama sekumpulan orang-orang yang kerjaannya “keluyuran”. Kami berencana berwisata budaya,  mengunjungi perkampungan suku Baduy Dalam. Ini adalah perjalanan pertama saya ke Baduy.

Sampai di stasiun saya sudah di sambut awan gelap, hari itu Serang sedang mendung. Angin bertiup cukup kencang. “Semoga saja tidak turun hujan,” harap saya dalam hati. Stasiun masih sepi, hanya ada beberapa orang yang mengante di loket tiket, di luar pintu gerbang stasiun terlihat para pedagang sedang mempersiapkan dagangannya.

Tiket kreta Serang-Rangkas Bitung

Setelah agak lama menunggu, seorang pria dengan rambut bergelombang panjang sebahu muncul dari pagar teralis besi stasiun, menggunakan celana pendek dan kaos Mancheseter City ia tersenyum, itulah yang kami tunggu, tour leader kami, Jack Alawi.

Setelah meeting point dan do’a selesai. Ardian Je, relawan Rumah Dunia. Membagikan tiket kepada peserta Wisata Budaya Baduy. Selanjutnya kami bergegas menuju gerbong. Sebelumnya kami sempatkan untuk berpose bersama sebelum naik kereta.


Foto bersama peserta Wisata Budaya Baduy di Stasiun Serang