Jumat, 08 Mei 2026

Ngopi Senja #1 Timur dari Masa Lalu

Hari ini Sabtu, 2 Mei 2026 saya bersama Naradipta Nuansa Bumi (Dipta ) menghadiri bedah buku Toto ST Radik dalam acara Ngopi Senja #1 di Kedai Searah, Rumah Dunia.

Meski acara dimulai pukul 16.00 sore menjelang senja, tapi pembahasan tentang puisi Timur dari Masa Lalu (Langgam Pustaka:2026) begitu hangat disampaikan oleh pemantik diskusi Wahyu Arya, penyair yang juga jurnalis bantennews.co.id

Alhamdulillah dalam waktu 30 menit Dipta tenang tidak rewel. Dia duduk santai di pangkuan sesekali juga tidur-tiduran. Berbekal buku bacaan bermutu bantuan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. 

Timur dari Masa Lalu diinterpretasikan oleh Wahyu Arya sebagai bentuk keresahan seseorang (dalam hal ini aku liris dalam puisi) yang mencari atau mempertanyakan tentang eksistensial dirinya. Si Aku sangat gelisah tentang siapa dirinya, dari mana dia berasal, di mana dia tinggal dan akan ke mana tujuannya?

"Pertanyaan-pertanyaan itulah yang ingin dicari Si Aku dalam buku puisi Timur dari Masa Lalu. Kenapa semua itu ingin dicari? Karena Si Aku gelisah tentang kesejatian eksistensinya. Keresahan dan kegelisahan eksistensial Si Aku disampaikan melalui bahasa puisi," jelas Wahyu.

Namun pada akhirnya. Hingga kita sudah habis melahap 40 (untuk jumlah puisi penulis fleksibel bole dikatakan 40 atau 1, sebab sejatinya itu 1 kesatuan utuh) puisi yang ada dalam buku ini, kita tidak pernah menemukannya. Bahkan Si Aku juga tidak pernah final menjawab siapa dari mana dan ke mana tujuan Si Aku ini. Kita tidak bisa menemukan dengan pasti jawabannya.

Wahyu juga menjelaskan bahwa “timur” dalam puisi-puisi Toto ST Radik bukanlah timur geografis, tapi filosofis. Itulah salah satu yang membuat buku puisi Timur dari Masa Lalu itu menarik. Banyak hal yang harus digali satu demi satu untuk mengungkap makna puisinya.

Menurut Wahyu, Timur dari Masa Lalu merupakan puisi yang sangat reaktif terhadap isu-isu sosial yang terjadi. Penulis berusaha merespons peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan lirik-lirik melankolis, jauh dari optimisme, tapi tetap reflektif.  Wahyu mengatakan bisa jadi Si Aku dalam puisi itu adalah kita.    

Acara selesai menjelang azan Magrib berkumandang. Para peserta diskusi saya yakin mendapatkan wawasan yang banyak dari diskusi sore ini. Saya bersama Dipta kemudian pulang menuju utara Kota Serang. 








 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih untuk komentarnya