Rabu, 18 Mei 2016

CATATAN HARI BUKU NASIONAL



Catatan Hari Buku Nasional
Seminggu tiga kali saya selalu menyempatkan diri berkunjung ke Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD), baik untuk membaca atau meminjam buku. Pada tanggal 17 Mei lalu, saya juga meluangkan waktuuntuk berkunjung. Ada yang berbeda di BPADhari itu, pengunjungnya lebih ramai dari hari-hari biasanya.Rupanya BPAD sedang menggelar acara dalam rangka memperingati hari buku nasional yang jatuh pada setiap tanggal 17 Mei. Kegiatannya berlangsung hingga 23 Mei. Acara itu bertajuk Banten Book Fair 2016 Sebagai Sarana Edukasi, Informasi dan Rekreasi Menuju Banten Gembar Membaca.
Hari itu acara Banten Book Fair dibuka oleh kepala BPAD, Andi Fatmawaty dan Sekretaris Daerah Provinsi Banten, Ranta Soeharta. Keduanya sepakat bahwa kegiatan yang rutin dilaksanakan BPAD setiap tahunnya ini bertujuannya untuk memantik minat baca masyarakat. Hal yang memang semestinya dilakukan, karena setiap harinya BPAD secara langsung bersinggungan dengan buku dan tak lepas dari kegiatan membaca. Perpustakaan dan buku memang dua elemen yang tidak bisa dipisahkan. Di mana ada perpustakaan bisa dipastikan ada buku di sana.
Berbicara tentang memantik minat baca masyarakat, rasa-rasanya akan sulit—bukan bermaksud mengajak pembaca untuk pesimis—jika BPAD hanya memanfaatkan perayaan hari buku nasional yang diperingati setiap satu tahun sekali untuk mendongkrak minat baca masyarakat, mengingat belum kokohnya pondasi budaya membaca di Banten, bahkan di republik ini. Untuk melestarikan minat baca, kiranya diperlukan kegiatan rutin di lingkungan BPAD yang sifatnya periodik dengan jangka waktu yang lebih pendek. Setiap dua minggu sekali atau sebulan sekali misalnya.
Kegiatan itu tentunya tidak boleh lepas dari literasi (budaya membaca-menulis). Sebab literasi menjadi salah satu jalan untuk menumbuhkan cinta masyarakat terhadap membaca, yang kadang terkendala oleh rasa malas baik membacaataumembeli buku.
Padahal manfaat membaca sangatlah krusial.Membaca merupakan instrumen fundamental yang mempu mengubah dan meningkatkan kualitas personal.Sebab membaca merupakan aktivitas memasukkan teks atau fenomena yang kita lihat dan rasakan kedalam alam pikiran yang kemudian diproses hingga menghasilkan suatu penilaian, rasa bahkan ide baru. Shindunata dalam bukunya, Bukuku kakiku (Gramedia Pustaka Utama, 2004) menuliskan, “membaca itu sesungguhnya bukan sekadar memasukkan teks ke dalam dirinya. Lebih dari itu, membaca itu adalah suatu pergulatan yang berat. Sebab sebelum membaca, pembaca sudah membawa bekal dalam dirinya, entah pengalamannya, sejarahnya, perasaannya, keputusasaan atau harapannya, kegagalan atau kesuksesannya. Bekal itu bisa menjadi pendukung yang mengiyakan apa yang dibaca, tapi juga bisa menolak apa yang dibaca....”
Adanya gagasan baru, penolakan ataupun kesepakatan yang muncul setelah kita membaca itulah yang kiranya bisa diakomodir BPAD, misalnya dengan mengadakan lomba menulis resensi dan mendiskusikannya. Sehingga pengunjung lebih partisipatif dengan BPAD, bukan sekadar pinjam-meminjam buku. Pengunjung diberi fasilitas lain, yaitu ruang untuk mendiskusikan atau sharing terkait isi dan pemahaman pembaca atas bacaannya.
Lomaba menulis resensi juga sedikit demi sedikit dapat meningkatkan minat baca masyarakat. Sebab, mau tidak mau untuk menuliskan sebuah resensi penulis harus membaca buku yang akan diresensi. Juga membaca buku-buku yang berkaitan untuk menunjang wawasan saat meresensi.
Agar lebih menarik dan memicu partisipasi dari pengunjung, maka perlu adanya hadiah sebagai pemantik. Tidak perlu hadiah mewah, cukup dengan buku terbitan terbaru. Bukan tidak mungkin juga dengan adanya lomba resensi tidak hanya menjadikan BPAD tempat yang informatif dan edukatif, tapi juga rekreatif, semakin banyak pengunjung yang datang.
Jikapun ada kegiatan selain lomba resensi, yang nantinya dipilih BPAD untuk terus mengawal minta baca masyarakat, kegiatan itu mestilah dengan waktu yang bersifat kontinuitas dengan rentang waktu yang pendek, tidak setahun sekali. Sebab membangun budaya baca tidak bisa dengan langkah sekali gerakdan tempo singkat. Perlu waktu yang lama dengan agenda berkala yang terstruktur dan masif.
Langkah itu bisa kita mulai dari sekarang dengan sama-sama membangun mindset dan menyebarluaskan bahwa perpustakaan bukan hanya sekadar tempat pinjam-baca buku saja.Perpustakaan harus kita jadikan wadah untuk mengeksplorasi diri, berekspresi dan berkretivitas bagi pengunjungnya.
Meski begitu acara gagasan BPAD yang berlangsung satu minggu ini tetaplah harus dan layak mendapatkan acungan jempol dari khalayak. Momentum hari buku nasional tahun 2016 ini dimanfaatkan BPAD dengan melakukan serangkaian acara literasi yang variatif, tidak hanya sekadar bazar buku dan hibah buku, melainkan bedah buku dan aneka kegiatan dan lomba literasi lainnya. Selain itu BPAD juga menghadirkan tokoh literasi lokal Banten, Rully Ferdiansyah dan Eten Sutendi, duta baca, Najwa Shihab hingga sastrawan nasional, Habiburrahman El Shirazy.Acara itu semakin meriah dengan 35 stan yang berjajar rapi mulai dari pintu gerbang hingga pintu masuk, menjajakan buku, galeri komunitas baca, hingga kerajinan tangan stan hibah buku.
Apresiasi lain juga harus kita berikan sebab selama ini BPAD terus berbenah dengan berbagai revolusi dan inovasi, dengan adanya fasilitas freewifi, ruang internet, pemutaran film dan penambahan jam buka di hari Minngu. Kedepannya saya berharap BPAD tidak bosan untuk terus berinovasi, menjadikan perpustakaan lebih partisipatif dengan melibatkan pengunjungnya makin intens lagi. Hal itu diperlukan sebagai warna baru untuk menghilangkan kejenuhan pengunjung BPAD.
Sekali lagi peringatan hari buku nasional tidak akan berdampak maksimal, jika kita hanya memperingatinya sebatas seremonial belaka tanpa adanya gerakan yang masif. Sebab hal yang lebih penting lagi dari peringatan hari buku nasional adalah bagaimana budaya baca dan cinta buku itu dilestarikan. Hari buku nasional ini juga bukan hanya menjadi momentum bagi BPAD untuk melecutkan semangat membaca di Banten, akan tetapi ini juga waktu yang tepat untuk kita semua mengakrabi buku di lingkungan terdekat kita, agar literasi di Indonesia khususnya Banten tumbuh dan berkembang dengan kokoh sebagaimana mestinya!

Rudi Rustiadi, penulis buku Tur Literasi Anyer-Panarukan

Kabar Banten, 30 Mei 2016

Qishas Demi Keamanan dan Kenyamanan


Gambar dari www.aktual.com
Akhir-akhir ini maraknya kasus pembunuhan di negeri ini layaknya sinetron di televisi. Begitu satu kasus tuntas langsung disambung dengan kasus baru. Modusnya beragam dengan bermacam cara membunuh pula. Kita semua pasti masih ingat dengan kasus mulitasi seorang ibu hamil di Cikupa, Tangerang.Yang dimutilasi dalam sebuah kontrakandengan pelaku bernama Kusmayadi alias Agus yang tertangkap di Surabaya.
Masih segar juga dalam ingatan, negeri ini digegerkan dengan YY, remja 14 tahun di Rejang Lebong, Bengkulu yang menjadi korban kebiadaban 14 orang.Kita juga masih belum lupa dengan kasuspembunuhan seorang dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara yang tewas setelah ditikam mahasiswanya. Setelah itu pun masih banyak kasus pembunuhan lainnya, hingga paling anyar yang menyedot perhatian kita adalah kasus seorang gadis karyawati di Tangerang, Banten yang dibunuh dengan sebilah cangkul oleh tiga orang pelaku.
Aksi-aksi kriminalitas di atas tentunya sudah dalam taraf mengkhawatirkan. Maraknya aksi pembunuhan menciptakankewas-wasan dan membuat masyarakat makin merasa tidak aman. Orang makin brutal, buas, sadis dan dengan gampangnya menghilangkan nyawa seseorang. Harga nyawa seolah makin tak berharga.Manusia makin jauh dalam keberadaban. Orang menjadi mudah sekali gelap mata dan dengan entengmembunuh orang lain, motifnya bisa bermacam-macam: dendam, cemburu, iri, masalah lama yang belum kelar, atau hal remeh lainnya. Korbannya pun bisa siapa saja, teman dekat atau bahkan kerabat.
Sungguhmiris lagi dari kasus pembunuhan di atas, kebanyakan pelaku adalah anak muda dengan umur di bawah 30 tahun. Kemerosotan akhlak memang terjadi di setiap lapisan masyarakat, namun pada lapisan remajalah kemerosotan itu nampak lebih nyata. Kian meningkatnya aksi pembunuhan merupakan sebuah fenomena,masyarakat dalam tingkat stressdan emosi yang sangat tinggi hingga mudah tersinggung. Kemudian menghabisi nyawa seseorang dijadikan jalan pintas untuk menghilangkan tekanan dan menuntaskan amarah tersebut. Memang ada yang melatarbelakangi dibalik tindakan seseorang, tapi apapun alasannya, menghilangkan nyawa seseorang tidaklah dibenarkan.
Apa yang terjadi pada YY, meski dilakukan sebagian oleh anak di bawah umur, tapi yang mereka lakukan bukan kenakalan remaja biasa, tapi kriminalitas. Untuk mencegah hal serupa terjadi di kemudian hari, para orangtua mesti memberibekal adab (moral)yang cukup pada anak-anak mereka.Salah satunya dengan kembali menguatkan tripusat pendidikan yang dicanangkan Ki Hajar Dewantara, denganmenguatkan pendidikan dan adab melalui tiga tahapan:
Pertamaditingkatan keluarga, yang menjadi filter awal sekaligus pondasi bagi terbentuknya adab seseorang kedepannya. Pengaruh keluarga terhadap pembentukan adab anak sangatlah krusial.Sebab keluarga menjadi cerminan prilaku seseorang. Dalam keluargamendididik dan membimbing prilaku anak merupakan tanggung jawab orangtua. Mereka menjadi pendidik utama bagi anak-anak mereka. Membangun adab anak bisa dilakukan dalam kegiatan sehari-hari. Orangtua bisa mengajarkan adab terhadap seorang anak dengan peneladanan dan pembiasaan-pembiasaan.
Peran orangtua tidaklah main-main,jika orangtuagagal membentuk adab anaknya, tidak menutup kemungkinan mereka bisa terseret ke neraka di akhirat nanti,sebagai bentuk pertanggungjawabannya terhadap Allah Swt.Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan, (QS: At-Tahrim ayat 6).
Keduaadalah lingkungan sekolah. Saat ini tantangan dunia pendidikan semakin kompleks seiring dengan revolusi besar-besaran dunia informasi dan teknologi. Tidak hanya berdampak positif, perkembangan teknologi juga berpotensi menimbulkan efek negatif dalam mempengaruhi pola prilaku yang bertentangan dengan etika dan adab. Kasus yang sekarang terjadi mayoritassebelumnya dilakukan dengan aksi kekerasan seksual terhadap korbannya,barulah selanjutnya mereka dibunuh. Itu tidak terlepas dari gampang mengakses konten negatif dari kemajuan dunia informasi dan teknologi.
Maka sebagai penopang terbentuknya adab seseorang, dunia pendidikan dituntut mampu berperan menyiapkan sumber daya manusiayang unggul secara akademik dan keadabannya, serta mamapu beradaptasi dengan memiliki daya tahan menghadapi tantangan dan perubahan zaman. Sesuai amanat undang-undangno.20/2003 tentang sistem pendidikan nasional, dengan visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai penata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selau berubah-ubah.
Ketiga adalah menanamkan adab di lingkungan masyarakat. Peranan masyarakat dalam pembentukan adab seseorangtidak bisa diabaikan. Lingkungan masyarakat menjadi bagian dari infrastruktur yang membangun adab seseorang.Di lingkungan masyarakat ulama dan para tokoh masyarakat setempat menajdi sosok sentral dan panutan. Maka ulama dan tokoh masyarakat juga berkewajiban mengawal, menciptakan kultur dan karakteristik masyarakat yang beradabdi lingkungan sekitarnya, dengan meningkatkan aktifitas keremajan yang membentuk adab warga di sekitarnya. Ulama dan tokoh masyarakat menjadi panutan dan tuntunan dalam melaksanakan pendidikan di masyarakat.
Selain merevitalisasi tripusat pendidikan, meredam aksi kriminalitas khususnya pembunuhan bisa dilakukan dengan hukum islam yang menerapkan syariah islam, yaitu qishas (hukum mati). Di negara yang mayoritas masyarakatnya dibangun berlandaskan akidah islam rasanya hanya dengan qishas rasa keadilan bisa diraih. Hukum mati memang masih menjadi pro-kontra baik vonis maupun eksekusinya, kecuali untuk narapidana terorisme dan narkoba. Tapi rasanya hanya dengan qishas-lahrasa aman akan dirasakan oleh seluruh rakyat. Kehormatandan nyawa akan benar-benar terlindungi. “Dan dalam qishas itu ada (jaminan keberlangsungan) hidupmu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa,” (QS: Al-baqarah ayat 179). Sanki qishas diharapkan memberi pelajaran, mencegah orang lain untuk mlakukan pembunuhan. Jika masih ada yang kontra terhadap qishas dengan mengatasnamakanhak asasi manusia, bukankah korban jugapunya hak untuk hidup?
Tulisan singkat ini tidak bermaksud menyalahkan hukuman yang berlaku sekarang. Tapi alangkah baiknya jika undang-undang itu segera direvisi demi terwujudnya kehidupan bernegara yang madani. Pemerintah harus cepat, lebih serius dan tidak boleh abai. Sebab jika tidak segera di atasi dengan memberikan hukuman yang berat, maka akan terus membuat rasa aman bagi masyarakat makin tipis. Korban seperti kasus di atasakan terus betambah dan negra akan gagal melindungi keamanan dan kenyamanan warga negaranya. Dan kita akan lebih jauh lagi dalam keberadaban.Wallahua’lambis shawab.
Rudi Rustiadi, alumni IAIN “SMH” Banten, penulis buku Tur Literasi Anyer-Panarukan


Banten Pos, 25 Mei 2016 

ADA APA DENGAN MARS?



Ada Apa Dengan MARS?

Akhir bulan April lalu para penggemar film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) bersuka cita dengan adanya kelanjutan kisah asmara antara Cinta dan Rangga. Penantian panjang selama 14 tahun terpuaskan dengan tayangnya sequel AADC 2 pada 28 April 2016, serentak di tiga negara, Brunai Darussalam, Malaysia dan Indonesia. Tidak mengherankan jika dalam tiga hari penayangannya, jumlah penontonnya menembus angka 700 ribu penonton. Lalu ada apa setelah AADC?
Memperingati hari pendidikan nasional pada 2 Mei, Multi Buana Kreasindo, Leica Productions merilis film Mimpi Ananda Raih Semesta (MARS). Tanggal 4 Mei juga dipilih menjadi tanggal gala premier film MARS. Saya sangat antusias menonton MARS karena ada yang istimewa dalam film itu. MARS dibesut oleh sineas muda asal Banten! Pemuda itu bernama Sahrul Gibran. Pria asal Bayah yang tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Serang Raya. Saya tahu sutradara film MARS adalah orang Banten, ketika saya me-launching buku saya­—Tur Literasi Anyer-Panarukan—pada acara World Book Day (WBD) di Rumah Dunia pada 23 April lalu. Dalam acara itu Sahrul datang bersama John De Rantau— sutradara Denias, Senandung di Atas Awan—yang juga merupakan guru Sahrul di dunia perfilman.
Di WBD, selama satu jam lebih Sahrul Gibran dan John De Rantau berbincang seputar penggarapan film MARS dalam sesi diskusi film. Acara itu juga disiarkan di Baraya TV pada program Dialog Khusus. Selain berbagi pengalaman menyutradarai MARS, Sahrul juga menceritakan perjuangannya menjadi sutradara.
Proses metamorfosis Sahrul dari seorang mahasiswa menjadi sutradara ternyata tidaklah mudah. Banyak kerikil tajam yang menghalangi langkahnya untuk menggapai impiannya menjadi sutradara. Sahrul yang menggantungkan asa setinggi langit ternyata tidak mendapat dukungan dari kedua orangtuanya. Mereka tidak setuju dengan cita-cita anaknya menjadi sutradara. Diceritakan Sahrul, orangtuanya menganggap cita-cita menjadi seorang sutradara itu terlalu tinggi, cita-cita itu hanya milik orang berduit, untuk anak jendral, anak artis, bukan untuk Sahrul yang notabenenya adalah anak petani di kampung selatan Banten. Namun Sahrul tetap bersikukuh menjadi sutradara, walau sudah puluhan production house menolaknya karena tidak punya pengalaman. Hingga puncaknya ia disisihkan keluarga, bahkan tidak diakui sebagai anak ketika pulang saat lebaran.
Harapan Sahrul menjadi sutradara juga sempat pupus ketika ibu dan ayahnya meninggal. Pada saat itu Sahrul yang ingin membuktikan pada orangtuanya bahwa ia tak salah memilih cita-cita kehilangan motivasi. Beruntung ia mempunyai guru yang mampu membangkitkan kembali semangatnya. Ya, John De Rantau, selain keterlibatannya sebagai scip writer di film MARS, Jhon juga berhasil menjadi motivator untuk Sahrul.
Kembali pada karya Sahrul, film berduarasi 105 menit garapannya ini berkisah tentang kehidupan dan perjuangan keluarga Tupon (Kinaryosih), suaminya (Teuku Rifnu Wikana) dan anak perempuan semata wayangnya bernama Sekar Palupi (Acha Septriasa). Tupon dan suami banting tulang demi  masa depan Sekar khususnya untuk hal pendidikan. Tupon dan suami bekerja keras sebagai buruh batu di kaki Gunung Kidul, namun hal buruk menimpa Tupon, sang suami menjadi korban kecelakaan kerja hingga nyawanya tak dapat ditolong.
Jadilah Tupon yang buta aksara mesti membesarkan Sekar seorang diri. Ia pun terus berjuang demi membesarkan sang anak dan menyekolahkan anaknya hingga jenjang pendidikan tertinggi. Demi pendidikan Sekar apapun ia lalukan. Tupon yang selalu berpegang teguh pada prinsipnya, bahwa semua keinginan itu akan bisa diraih lewat ilmu pengetahuan mendapatkan hasilnya, ketika Sekar lulus dari Oxford Univeristy Inggris dan meraih gelar Master di bidang astronomi. Sedari Sekar kecil Tupon tidak pernah bosan mengingatkan kepada Sekar akan pentingnya sebuah pendidikan. Di satu scene diceritakan Tupon selalu membawa Sekar melihat alam semesta, dan selalu menunjukan lintang lantip (bintang cerdas), planet Mars. Ia selalu bilang bahwa Sekar bisa ke sana dengan ilmu pengetahuan.
 Nuansa pendidikan yang terkandung dalam film MARS ini begitu kental terasa. Namun, selain itu, film bergenre drama yang diadaptasi dari novel Aishworo Ang tahun 2006 ini juga sarat dengan muatan penghormatan akan sosok ibu. Film ini juga mengingatkan kita semua bahwa kita harus senantiasa menghormati ibu. Dalam satu adegan Sekar menyampaikan arti ibu baginya dalam bahasa Inggris, ia mengutip sebuh hadis yang diriwayatkan Bukhori. “Jika ada pertanyaan, siapa yang harus paling kau hormati? Jawabannya adalah ibumu, ibumu, dan ibumu, lalu bapakmu!” Meski bertema pendidikan MARS bukanlah film pengulangan dari film bertemakan pendidikan lainnya seperti Laskar Pelangi dan film lainnya.
Karya dan predikat Sahrul sebagai sutradara film MARS berhasil menggegerkan Banten. Dalam gala premier MARS di Cilegon banyak penonton yang datang untuk menyaksikan karya perdana Sahrul. Saya sempat bertanya pada beberapa penonton seusai pemutaran film; ada yang datang untuk mengapresiasi karyanya, penasaran dengan film MARS, hingga sekadar ingin tahu sosok Sahrul. Maka, saya rasa tidak ada salahnya menjadikan Sahrul Gibran sebagai role model anak muda di Banten dalam berkreativitas dan meraih cita-cita. Banyak hal yang kita bisa ambil dari perjalanan hidup dan karyanya. Sosok Sahrul bisa menjadi contoh bahwa kreativitas dan tekad yang kuat akan menjadi salah satu faktor penentu kesuksesan seseorang.
Bayah kini boleh berbangga karena telah melahirkan seorang sineas. Orang tidak hanya akan mengenal Bayah karena keindahan pantainya, namun akan ada nama Sahrul Gibran setiap kali orang memperbincangkan Bayah. Selain untuk Bayah, hadirnya Sahrul sebagai sutradara bertaraf nasional tentunya menjadi berkah untuk Banten. Secara tidak langsung prestasi yang ditorehkan Sahrul mengikis citra negatif Banten yang selalu menjadi sorotan dari kasus korupsi, politik dinasti hingga yang teranyar yaitu pengerukan besar-besaran pasir Pulau Tunda untuk proyek reklamasi di teluk Jakarta.
Bagi saya pribadi MARS dan Sahrul menjadi sosok pemberi motivasi yang penuh dengan inspirasi. Dan diharapkan para penonton akan dapat mengambil pelajaran berharga setelah menyaksikan film ini. Seperti halnya AADC, saya berharap akan ada sequel film MARS di kemudian hari dan Sahrul akan terus melahirkan karya-karya besar lainnya. Bagi para penulis, kehadiran Sahrul di WBD—April lalu—memberi motivasi kepada para penulis muda di Banten, seperti Ade Ubaidil—penulis novel Kafe Serabi—dan penulis lainnya untuk terus aktif dan kreatif menulis. Bukan tidak mungin satu saat nanti, akan ada sutradara dari Banten akan memproduksi film yang mengadaptasi novel yang ditulis oleh penulis Banten pula. Semoga!

Kabar Banten 17 Mei 2016

Rudi Rustiadi, penulis buku Tur Literasi Anyer-Panarukan.

Ø  Judul Film : Mimpi Ananda Raih Semesta (Mars)
Ø  Genre Film Mars : Drama
Ø  Sutradara Film Mars : Sahrul Gibran
Ø  Penulis Film Mars : John De Rantau
Ø  Produksi Film Mars : Multi Buana Kreasindo, Leica Productions
Ø  Tanggal Rilis Film Mars : 4 Mei 2016,
 
Pemeran Film Mars
 
Film produksi Multi Buana Kreasindo, Leica Production, Harry Global Production dan Silent D Picture ini dibintangi Kinaryosih (Tupon, ibu Sekar), Acha Septriasa (Sekar dewasa), Teuku Rifnu Wikana (Surib, bapak Sekar), Cholidi Asadil Alam (Ustad Ngali), Chelsea Riansy (Sekar kecil), Jajang C Noer (Bu Guru Karsiyem), Krisno Bossa (Juragan Pujo Widodo), Yati Surachman (Mbok Kariyo), Ence Bagus (Pak Guru Nyoto), Egi Fedly (Ki Mangun Pakik), Fuad Idris (Dukuh Saelan), Briliana Desy Dwinawati (Istri Dukuh Saelan), Mien Brodjo (Nenek Rekso)