Sabtu, 02 Mei 2026

Rekomendasi Buku Untuk Bupati Lebak

Oleh Rudi Rustiadi

Presiden komunitas Rumah Dunia 2025-2030.

Selasa (31/3) lalu saya berkunjung ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten. Kunjungan ini tidak saya rencanakan sebelumnya, hanya iseng untuk mencari hiburan di ruang yang sejuk. Sambil berharap menemukan buku penghilang penat setelah bermacet-macetan saat pulang mudik lebaran dari Kabupaten Kuningan. Awalnya saya mencari buku yang ringan seperti novel atau kumpulan cerpen. Tapi nyatanya saya malah tertarik pada rak buku 100-199 yang dipenuhi buku-buku epistemologi, psikologi, etika, logika dan sejenisnya.

Setelah melihat-lihat, akhirnya saya mengambil buku Bicara Itu Ada Seninya (BIP: 2019) karya Oh Su Hyang. Dalam buku ini dijelaskan bahwa kata-kata punya kekuatan besar. Ucapan bisa menyembuhkan juga bisa melukai. Cara bicara menentukan hubungan seseorang dengan orang lain. Oh juga menuliskan bahwa ucapan adalah sarana penting untuk menilai seseorang secara keseluruhan. Seperti yang dituliskan Oh di halaman 7 bukunya: Dari ucapan kita menerima kesan baik dari lawan bicara.... Jadi, berbicara bukan hanya yang seseorang katakan tapi, bagaimana seseorang tersebut mengatakannya.

Dari buku ini, saya juga mendapatkan pembelajaran bahwa nilai seseorang dinilai ketika berbicara. Selain itu juga empati dalam berbicara, dengan  memahami perasaan lawan bicara. Intinya buku ini menyampaikan jangan asal bicara tanpa memikirkan dampaknya. Berbicara bukan sekadar benar tapi harus bijak dan tepat.

Maka, mengontrol emosi saat bicara menjadi bagian penting. Jangan bicara saat marah dan hindari kata-kata yang menyakiti, sebab sekali kata-kata menyakiti terucap sulit ditarik kembali dari hati. Tiga detik di bibir sama dengan tiga puluh tahun di hati, begitu tulis Oh di halaman 143 bukunya. Membaca buku ini mengajarkan saya bahwa berbicara bukan sekedar keterampilan, tapi seni mengelola hati, emosi dan hubungan.

Saya kemudian membaca buku lain di rak 300-399 yang memuat buku-buku statistik, ilmu politik, hukum, komunikasi, etiket dan sejenisnya. Saya memilih buku Etika Komunikasi (Kencana: 2023) yang ditulis oleh Hafied Cangara. Dalam buku tersebut dituliskan bahwa berbicara itu tidak asal mengeluarkan bunyi, tapi harus memahami beberapa elemen-elemen penting pendukungnya. Lebih spesifik lagi buku tersebut memuat tentang dasar-dasar komunikasi.

Salah satu bagian penting yang juga menjadi pembahasan buku ini adalah etika komunikasi, baik ketika terlibat dalam pembicaraan biasa sehari-hari maupun dalam komunikasi publik. Hafied menuliskan bahwa seseorang yang sedang berbicara harus jujur, menjaga hubungan baik, tidak menyesatkan audience, menghargai perbedaan, tidak melanggar privasi, tidak menciptakan kebencian dan seterusnya. Intinya adalah menghormati audience atau lawan bicara. Mereka (lawan bicara) adalah seseorang yang punya pikiran, perasaan dan latar belakang serta hak untuk diperlakukan dengan baik. Menghormati audience adalah menganggap mereka sebagai “manusia”.

Ketika berbicara khususnya di depan publik, maka anggaplah para pendengar itu heterogen, berbeda budaya, pendidikan, agama serta pengalaman hidup. Sehingga pembicara harus berhati-hati. Hindari candaan yang sensitif tentang, ras, fisik, ekonomi, agama hingga empirik pribadi seseorang. Saat berbicara seseorang dianjurkan tidak membuat contoh, sindiran juga humor yang menyinggung individu atau kelompok tertentu. Kecuali jika itu memang disengaja.

Pada bagian tertentu Hafied juga menuliskan di halaman 246, seseorang harus memiliki rasa empati saat berkomunikasi, kemampuan seseorang untuk mengetahui apa yang sedang dialami orang lain pada satu saat tertentu, dari sudut pandang orang lain tersebut. Pentingnya empati tersebut agar tujuan dari komunikasi berjalan dengan baik yaitu membentuk pribadi yang asertif, menjaga hubungan, saling pengertian serta bertanggung jawab. Maka Berbicaralah dengan integritas, empati dan kesadaran sosial. Sebab bicara bukan hanya bunyi, tapi juga terikat dengan elemen lain: niat, sikap dan tanggung jawab.

Berbicara tentang komunikasi publik, minggu ini sedang hangat pemberitaan juga pembicaraan netizen di media sosial tentang pidato atau sambutan Bupati Lebak,  Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya dalam acara halal bihalal Idulfitri 1447 H. Momen yang seharusnya menjadi ajang silaturahmi berubah menjadi ketegangan ketika Bupati Lebak “menyenggol” status sosial wakilnya, Amir Hamzah di hadapan para pejabat Aparatur Sipil Negara Pemerintah Kabupaten Lebak.

Uyuhan mantan napi jadi Wakil Bupati,” kata Hasbi dalam Bahasa Sunda, seperti yang diberitakan Harian Kabar Banten pada Selasa (31/3). Kata-kata yang keluar dari mulut Hasbi seperti petasan yang meledak begitu nyaring dan menyisakan pengang di telinga Amir Hamzah. Diberitakan juga Amir Hamzah sampai walk out dari tempat acara.

Peristiwa Bupati Lebak ini menjadi pengingat bahwa ruang publik bukan hanya tempat berbicara, tapi juga ruang menjaga perasaan banyak orang. Apa yang dianggap ringan oleh satu pihak, bisa menjadi berat bagi pihak lain. Hasbi beruntung, reaksi Amir Hamzah tidak seperti Will Smith saat dipermalukan Chris Rock di atas panggung Oscar tahun 2022 lalu.

Menurut sepuluh aturan komunikasi yang ditulis Oh Su Hyang di buku pertama yang saya baca, Hasbi melanggar setidaknya empat  aturan: (aturan ke-4) Berkata yang menenangkan hati, bukan sekadar enak di dengar. (Aturan ke-5) Katakan yang ingin didengar lawan bicara, bukan yang ingin diutarakan. (Aturan ke-6) Berbicara dengan menutupi aib dan sering memuji. (Aturan ke-7) berbicara hal-hal yang menyenangkan bukan yang menyebalkan.

Jika dinilai dari buku Oh Su Hyang Hasbi bisa dikategorikan tidak menghargai audience saat di atas podium. Hal ini sangat disayangkan, pasalnya Hasbi adalah seorang public figure juga kepala daerah. Apa yang dilontarkan Hasbi juga bertolak belakang dengan maksud dan tujuan diselenggarakannya acara. Pesan dari seorang pemimpin yang seharusnya membuat sejuk dan mempererat silaturahmi justru dirasakan sebaiknya.

Saya rasa penting rasanya kepala daerah atau public figure lainnya seperti Hasbi—ataupun pejabat publik lainya seperti Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia yang juga ramai diperbincangkan akibat ucapannya—memiliki  kecerdasan humaniora. Agar ketika berbicara di depan publik lebih mengedepankan substansi daripada sindiran atau hal yang tidak perlu. Dalam buku Bicara Itu Ada Seninya, Oh mengingatkan, ucapan yang tidak dilandasi dengan ilmu humaniora akan seperti tanah kosong. Isilah dengan ilmu-ilmu humaniora agar tanah itu berubah menjadi hutan yang subur, yang membuat inspirasi, kearifan, dan wawasan menari-nari di dalamnya. Ilmu humaniora tidaklah sulit. Anda hanya perlu punya hobi membaca, tulis Oh.

Maka dalam tulisan sederhana ini, untuk Bupati Lebak, Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya saya merekomendasikan dua buku ini untuk dibaca saat waktu senggang. Sebagai langkah awal untuk kemudian punya hobi membaca.[]

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih untuk komentarnya