Rabu, 21 September 2016

Korupsi Dalam Kacamata Seorang Jurnalis



Judul buku      : Kelomang
Penulis             : Qizink La Aziva
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Pertama, Juni 2016
ISBN               : 978-602-03-2881-2

Saijah dan Adinda, bagi Anda pecinta sastra dua nama tokoh ini pastilah sudah tak asing lagi. Dua tokoh utama dalam novel Max Havelaar, karya penulis Belanda, Eduward Deues Dekker atau yang lebih populer dengan nama Multatuli ini kini kembali terlahir dalam Kelomang. Jika dulu Saijah-Adinda menceritakan pada kita kisah pahit penderitaan rakyat Indonesia di masa penjajahan kolonialisme Belanda, maka kali ini mereka hadir mengungkap kasus suap penambangan pasir di teluk Banten.
Saija dalam novel Kelomang merupakan seorang aktivis lingkungan, yang juga anak seorang wartawan surat kabar Mata Pena bernama Yanto. Bersama sahabatnya, Firman, Deden dan Ibnu, Saija berusaha keras menggagalkan usaha Sakib, pengusaha PT Bintang Laut yang ternama di Banten untuk menyuap Bupati Jamaludin agar memberikan izin penambangan. Penolakan itu bukan tanpa alasan, pasalnya sejumlah pemerhati lingkungan sudah mengkaji jika penambangan tersebut dilegalkan, maka dampaknya akan buruk dan menyebabkan kerusakan lingkungan di sekitar tambang.
Tidak hanya mendapat ganjalan dari Saija, Sakib yang juga ingin mencalonkan diri menjadi kepala daerah direpotkan oleh Yanto, yang selalu memberitakan tentang aktivitas pertambangannya. Tidak ingin citranya menjadi negatif saat pemilihan nanti, Sakib menugaskan Arya yang untuk menyuap Yanto agar menghentikan pemberitaan negatif tentangnya. Beberapa kali Arya berusaha menyakinkan Yanto agar menerima uang dari Sakib, namun berkali-kali juga usahanya mendapat penolakan. Tidak bisa menyuap Yanto sebagai pimpinan redaksi akhirnya Arya menyuap Pak Yudha direktur utama Mata Pena. Dalam rapat kemudian Yanto dipindah tugaskan ke bagian gudang oleh pak Yudha dan tak lagi menjadi jurnalis.
Tidak melulu korupsi dan suap, Kelomang juga menghadirkan kisah cinta antara Saijah-Adina. Mereka pertamakali bertemu di perpustakaan, saat Adinda sedang mencari buku sejarah Banten untuk tugas kuliahnya. Mahasiswi Bandung itu kemudian kagum dengan wawasan sejarah Saija. Benih-benih cinta kemudian tumbuh diantara mereka. Namun cinta Saijah-Adinda ternyata tidak di restui oleh ayah Adinda, yang diam-diam malah sudah menjodohkan Adinda dengan Ardi, anak seorang pejabat yang sudah menghamili Ervina yang tak lain adalah sahabat Adinda.
Kisah cinta Saija-Adinda tak berlangsung hinga jenjang yang mereka cita-citakan. Saat keduanya bersama warga pesisir menghadang kapal pengeruk pasir, Saija tertembak oleh salah seorang anak buah Sakib. Adinda yang berusha menolongnya malah terbawa ombak. Cinta merekapun kemudian musnah oleh ganasnya ombak di laut utara Banten.
Dengan spirit melawan korupsi dan nepotisme, novel terbitan Gramedia yang ditulis oleh seorang jurnalis asal Banten, Qizink La Aziva ini sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh semua kalangan. Dalam karyanya Qizink menggambarkan dengan gamblang bagaimana praktik korupsi terjadi di lembaga pemerintahan. Kelomang adalah kesaksian seorang jurnalis yang juga menyuarakan kegelisahan hatinya terhadap penyakit bernama korupsi.
Tidak hanya menampilkan cinta yang tragis, dengan apik Kelomang juga merangkum kepingan-kepingan sejarah Banten. Surosowan, Watu gilang, Tasikardi, Terakota, Tirtayasa dan situs bersejarah Banten lainnya tidak hanya menjadi puing-puing untuk mempertebal halaman. Kelomang juga lahir dari catatan sejarah penulisnya. Dengan telaten Qizink menuliskan kembali masa lalu yang dialaminya, seperti kejadian nyata markas tentara republik di Banten yang kini berubah menjadi mall.  “Penghancuran gedung bersejarah itu akan membuat generasi muda kehilangan jejak masa lalu yang sangat penting sebagai pijakan menuju masa depan.” (Hal: 112)
Selain kental dengan lokalitas dan sejarah, Kelomang juga Syarat akan kritik sosial. “Pejabat sekarang lucu-lucu, lebih lucu daripada pelawak, lebih pintar bersandiwara dibanding aktor, dan lebih pengecut dibanding kelomang karena selalu bersembunyi di balik kemewahan statusnya  hanya untuk memperthankan kekuasaan.” (Hal:162)

 
  



bisa juga dilihat di 
http://www.koran-jakarta.com/korupsi-dalam-kacamata-seorang-jurnalis/
Koran Jakarta, 19 September 2016.

Diresensi oleh Rudi Rustiadi,anggota kelas menulis Rumah Dunia angkatan 23.

 

Senin, 05 September 2016

Menerangi Kesusatraan di Banten


Dalam dunia kesusastraan dunia nama J.K Rowlilng—penulis buku Harry Potter—menjadi contoh sukses seorang penulis. Harta, popularitas dan semua yang didapatnya saat ini tidak terbantahkan lagi adalah berkat ketekunannya mendalami dunia menulis. J.K Rowling adalah refleksi kejayaan penulis dari luar.
Sejarah kesusastraan Indonesia pun tidak kalah, meski tak setenar J.K Rowling tercatat beberapa penulis telah sukses menunjukkan kualitas karyanya, dengan diterjemahkannya karya mereka ke dalam beberapa bahasa asing, seperti Pramodiya Ananta Toer, Ahmad Tohari, Eka Kurniawan, Habiburrahman El-shirazy atau Andrea  Hirata.
Selain mendatangkan pundi-pundi materi dan popularitas, menulis adalah cara ampuh menghindari seseorang dari kepikunan di usia senja. Dengan menulis kita bisa mentransfer berbagai ilmu pengetahuan dan gagasan dalam pikiran kita. Dunia tulis-menulis itu unik, tidak hanya bermanfaat untuk penulisnya, melainkan juga untuk pembacanya. Dengan sebuah tulisan seseorang bisa patah semangat, tapi dengan tulisan pula seseorang yang sedang terpuruk akan kembali bergairah dan menggebu-begu ketika membaca bacaan yang tepat. Karena tulisan memang mempunyai daya magis yang mampu mempengaruhi pembacanya.
Keistimewaan lainnya dalam menulis adalah profesi penulis tidak diskriminatif. Menjadi penulis tidak ditentukan dari tinggi badan, kesempurnaan fisik maupun kekuatan. Menulis bisa dilakukan oleh orang-orang dengan pelbagai latar belakang sosial. Menjadi penulis tidak pula harus menyerahkan surat lamaran dengan portofolio bermacam-macam gelar akademisi, cukup dengan karya. Dalam sebuah seminar, Gol A Gong—sastrawan senior di Banten—pernah mengatakan bahwa, menjadi penulis sastra tidak kalah gengsinya dengan ilmuwan atau akademisi. Penulis sastra sama terhormatnya dengan ilmuwan yang menulis karya-karya ilmiah. Mereka sama-sama melakukan riset dan banyak membaca buku. Karya sastra yang baik dan bagus tidak dibuat dengan hanya duduk di depan komputer lalu berkhayal, melainkan dengan riset. Latar belakang tokoh, sosiologi dan kebudayaan pada setting lokasi dan lainnya mestilah diteliti dengan cermat, kemudian barulah ditambah dengan imajinasi penulisnya. Yang membedakan penulis sastra dan ilmuwan hanyalah dalam hal teknis menulisnya saja.
Bagi umat islam urgensinya menulis bahkan dituliskan dalam beberapa ayat Al-Quran. Diantaranya, Allah Swt berfirman: “Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajarkan manusia dengan pena (menulis), mengajarkan manusia apa yang belum diketahuinya.” (QS: Al-alaq 3-5). Imam Al-Ghazali juga pernah mengingatkan kita, “jika kamu bukan anak raja atau bukan anak ulama, maka menulislah!” Banten sebagai salah satu provinsi religius dengan mayoritas pemeluk agama islam seharusnya menanamkan rasa cinta terhadap menulis. Dan pemerintah mestinya menjadi pemeran utama dalam menggawangi terbentuknya budaya menulis di Banten.
Peran pemerintah saat ini dibutuhkan untuk mendorong media massa menghadirkan kembali ruang bagi penulis. Hilangnya kolom sastra di media massa Banten pada dua-tiga tahun terakhir ini sedikit mempengaruhi kesusastraan di Banten. Para penulis kehilangan gairah karena tidak adanya ruang eksistensi bagi mereka untuk berkarya. Padahal peran kolom sastra—terutama bagi para penulis pemula—sangatlah krusial. Penulis pemula butuh kolom sastra di media massa lokal sebagai media pembentukan jati diri dan berlatih untuk senajutnya ke tahap yang lebih tinggi yaitu di media massa nasional dan media penerbitan. Maka bisa dikatakan bahwa Keberadaan kolom sastra di media massa sangatlah urgen.
Selain krusial kolom sastra tentunya juga esensial sebab kehadirannya di media massa turut membantu program pemerintah dalam meningkatkan minat baca. Media massa sangat potensial untuk memantik minat baca karena sifatnya yang informatif dan selalu up to date.
Dengan membaca sastra mungkin kita tidak akan pintar secara akademik, tapi melalui sastra kita bisa belajar cara menyikapi kehidupan. Selain memberi motivasi, sastra juga mampu menumbuhkan budi pekerti, memberikan pelajaran pada realita kehidupan untuk lebih bijak menyelesaikan masalah melalui kisah-kisah tokoh dalam novel atau cerpen. Pembaca dilatih untuk memperhalus perasaan, lebih peka dan responsif terhadap dinamika dalam kehidupan. Selain itu, karya sastra pun memberikan kegembiraan dan kepuasan batin, jadi hiburan penghilang stress. Tidak mengherankan jika Christopher Morley—penulis dari Amerika Serikat—mengatakan “ketika Anda menjaual sebuah buku (sastra) pada seseorang, Anda tidak hanya menjual sebuah benda seberat 12 ons yang terdiri atas kertas, tinta dan lem. Tapi Anda telah menjual kehidupan baru untuknya.” Jadi, para pemilik media jangan takut akan kehilangan pembacanya dengan menyediakan kolom sastra.
Pemerintah dan pemilik media harus berupaya menyediakan kolom sastra di media massa, agar ruang berekspresi dan berkreativitas makin beragam, juga makin terangnya kesusastraan di Banten. Sekali lagi, itu karena media massa mempunyai peranan penting sebagai fasilitator dalam mendukung perkembangan karya sastra. Melalui media massa karya sastra dapat dinikmati, diapresiasi dan dikritik oleh khalayak pembaca. Itu adalah salah satu langkah agar terus bisa menerangi kesusastraan di Banten. Bukan tidak mungkin kelak akan bermunculan sastrawan dari Banten yang mampu menyamai bahkan melampaui pencapaian yang sudah di torehkan Pramodiya Ananta Toer, Ahmad Tohari, Eka Kurniawan, Habiburrahman El-shirazy, Andrea Hirata atau bahkan J.K Rowling. Semoga! 

Kabar Banten, 03 September 2016