Tampilkan postingan dengan label Tugas KMRD 23. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas KMRD 23. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Mei 2014

Inspirasi Menulis



Terinspirasi Aoyama Gosho
Oleh : Rudi Rustiadi
Ini foto gue pas lagi nyari inspirasi

“Kalau sudah besar mau jadi apa anak-anak?” Tanya guru SD saya waktu di kelas. Sebagian besar siswa-siswi menjawab mereka ingin menjadi seorang dokter, polisi atau pilot. Tidak pernah ada seorang anak yang bercita-cita menjadi seorang  penulis. Itu juga terjadi kepada saya, tak terpikirkan oleh saya untuk menjadi seorang penulis ketika masih duduk di sekolah dasar, namun hal itu berubah ketika saya mulai duduk madrasah tsanawiah, menjadi santri di pondok pesantren Daar El-Qolam. Menjadikan penulis sebagai profesi dulu dipandang sebelah mata, padahal profesi sebagai penulis juga sama dengan profesi-profesi lainnya, jika kita tekuni maka kita akan mendapatkan hasilnya, materi dan kebahagiaan jiwa.
Keinginan saya menjadi seorang penulis berawal ketika saya menjadi seorang santri di pondok pesantren moderen, Daar El-Qolam. Menjalani kehidupan sebagai seorang santri banyak dihabiskan untuk belajar dan mengaji. Kehidupan di pondok sangat terbatas, apalagi dari segi hiburan, tidak ada TV, tidak bisa menonton konser musik atau pergi ke bioskop, yang ada hanya radio yang di putar oleh ustadz. Acaranya pun terbatas hanya berita dan acara musik islami, kosidah atau marawis. Kegiatan yang monoton setip harinnya menjadikan saya mengalami kebosanan. Karena para santri dilarang untuk keluar dari komplek pondok pesantren. Untuk menghilangkan kebosanan tersebut bisanya disalurkan ke kegiatan olahraga, salah satunya dengan bermain bola. Saat bermain bola saya bisa menghilangkan kebosanan tersebut. Sampai akhirnya salah satu teman meminjami saya sebuah komik karangan Aoyama Gosho, Detective Conan. 
Pada saat sekolah dulu saya adalah orang yang sangat malas membaca. Namun perlahan semuanya berubah ketika saya pertama kali membaca komik Detective conan. Cerita yang menarik dan tidak mudah menebak jalan ceritanya menjadi pemicu adrenalin membaca saya terpacu. Komik Detective Conan ketika itu menjadi candu untuk saya. Ketika selesai membaca satu episode, timbul hasrat untuk segera melanjutkan membaca episode-episode selanjutnya. tokoh ciptaan Aoyama Gosho ini sukses membuat saya terbius dengan cerita, animasi, dan pastinya terpukau dengan ketegangan di setiap adegannya.
Namun untuk membaca sebuah komik atau buku fiksi lainnya di pondok pesantren tidak semudah membalik telapak tangan. Karena komik atau buku fiksi lainnya merupakan salh satu barang yang ‘diharamkan’. Alasannya dapat menggangu konsentrasi belajar santri sehingga dikhawatirkan santri tidak fokus dalam belajar. Tidak hanya itu tantangan lain yang juga menghadang dari proses mendapatkannya, untuk mendapatkanya bisa diibaratkan seperti pribahasa, mencari jarum di tumpukan jerami. Karena komik adalah barang ‘terlarang’ maka tidak semua santri memilikinya, hanya santri yang mempunyai keberanian lebih yang memilikinya, santri yang sering melangar peraturan atau bisa dibilang santri nakal. Namun untuk melampiaskan hasrat saya kepada komik. Maka terpaksa saya berteman dengan santri nakal tersebut untuk bertukar atau meminjam komik.
Kecanduan saya terhadap komik Detective Conan perlahan merambat kesegala jenis komik dan terus merambat hingga buku fiksi tidak bergambar, novel atau cerpen. Membaca novel ternyata lebih menarik saya harus berimajinasi menggambarkan adegan per adengan yang sedang saya baca. Dan itu menjadi kenikmatan tersendiri untuk saya, masuk dan menyelami karakter yang ada di sebuah novel yang sedang saya baca.
Kecanduan saya terhadap buku fiksi semakin akut. Hingga saya membacanya di kelas, ketika jam pelajaran sekolah. Di masjid, ketika membaca Al-Qur’an. Hingga sempat beberapa kali dihukum oleh ustadz, meminta tanda tangan seluruh ustadz, dijemur hingga dibotak. Namun semua itu tidak menyurutkan kegemaran saya membaca buku fiksi, hingga saat menjelang Ujian Akhir Nasional (UAN) dikarenakan harus fokus belajar, saya harus berhenti dari rutinitas saya membaca buku fiksi. Dalam masa rehat membaca itulah timbul keinginan untuk menjadi seorang penulis buku fiksi.      
Gendre yang paling saya gemari dalam membaca adalah gendre detektiv / misteri, seperti karya-karya Gosho Aoyama dan Sir Arthur Conan Doyle. Saya terpukau oleh kecerdasan seorang yang dapat  menciptakan cerita serumit dan mungkin bagi sebagian orang tidak mungkin terpikirkan. Dengan imajinasi ‘gila’ yang dia tumpahkan kedalam tulisan berhasil menginspirasi saya untuk mengikuti jejaknya menjadi seorang penulis fiksi. Karyanya bukan hanya menjadi bacaan dikala senggang namun telah menjadi legenda di Jepang.
Motivasi saya menjadi seorang penulis jugalah yang akhirnya menjadi alasan saya bergabung dengan Rumah Dunia dengan mengikuti Kelas Menulis Rumah Dunia pada angkatan ke-23. Berguru kepada seorang yang juga seorang penulis hebat, Gol A Gong. Entah berapa banyak novel, puisi dan buku yang telah ia ciptakan. Salah satu novel yang terkenal yang juga menjadi master piece, Balada si Roy, adalah salah satu novel yang pernah saya baca. Dengan inspirasi yang di tularkan Aoyama Gosho dan bimbingan dari Gol A Gong semakin memantapkan niat saya menjadi seorang penulis. Dengan pena setiap celotehan menjadi bermakna, Jika awalnya saya hanya berperan sebagai penikmat tulisan orang, maka sekarang saya ingin menjadi penghasil karya yang dinikmati banyak orang.
Gol A Gong memberikan banyak ilmu dan motivasi dalam menulis. Menjadi seorang penulis berarti belajar menjadi orang yang sabar. Tak jarang naskah yang kita ajukan ke sebuah penerbitan mendapatkan penolakan. Namun, penolakan itu ia jadikan pelajaran bahwa ia harus lebih bisa menghargai pilihan orang lain. Menurutnya, jika naskah kita ditolak, itu bukan semata karena tulisan kita jelek. Terkadang, bisa terjadi karena tidak sesuai dengan selera editornya. Namun penolakan bukan akhir dari segalanya. Sebaliknya, ia menganggap penolakan itu adalah cara Tuhan menguatkan mentalnya sebagai seorang penulis. Hal itu mengasah komitmennya dalam dirinya untuk menjadi seorang penulis. Jadi, penolakan jangan membuat mental kita down. Kita bisa mencari segera mencari penerbit lain yang kira-kira cocok dengan naskah yang sudah ditolak. Gol A Gong juga menyarankan agar calon penulis atau para penulis muda jangan ragu untuk mengirimkan karyanya kepada penerbit mayor. Dan, jangan merasa dihantui dengan status sebagai ‘penulis pemula’. Karena semua penulis terkenal di luar sana, suatu hari dulu pun pernah menjadi seorang pemula.
Yup, menjadi penulis itu memang bukan pekerjaan mudah. Setidaknya menurut seorang Gol A Gong. Butuh mental sekeras baja, semangat yang pantang menyerah, komitmen yang kuat, disiplin yang tinggi, dan kesabaran luar biasa. Itulah yang dia tekankan pada orang-orang yang ingin terjun ke dunia kepenulisan seperti dirinya.



Penulis, Rudi Rustiadi lahir di Serang 1989 pada bulan Juli (Cancer), merupakan alumni pondok pesantren  Daar El-Qolam angkatan 32 (Green Generation). Sekarang aktif mengikuti kelas menulis Rumah Dunia angkatan ke-23. Ingin lebih intim bisa berinteraksi di : 08777-10-7373-0 | rudirustiadi_mu@yahoo.com | @rudirustiadi (twitter) | Bukan Rudi Rustiadi (facebook).


Tebak-tebakan profesi?





Bahaya lazimnya merupakan sesuatu yang harus hindari.           
Namun tidak untuk pemuda ini.
Bahaya justru menjadi jalan yang dia pilih untuk berthan hidup.

Seorang pemuda sedang bercermin merapihkan pakaiannya, pakaian serba hijau army dengan lengan panjang nampak pas membungkus tubuhnya, celana berkantong besar di samping lutut menutupi kakinya yang tidak jenjang, sebuah boot setinggi lutut melengkapi penampilannya hari itu, tidak ketinggalan sebuah topi menutupi kepalanya yang ditumbuhi rambut gondrongnya. Sebuah tongkat sudah dia siapkan. Itu akan menjadi senjatanya untuk menaklukan bahaya yang akan dia hadapi. Hari ini dia telah siap untuk pergi ke hutan, mencari dan membawa pulang sesuatu yang bagi sebagian orang dapat membahayakan dirinya.
Hutan yang lebat dan tidak banyak terjamah oleh manusia merupakan sumber mata pencahariannya, karena disanalah dia bisa menenukan bahaya yang akan menjadi penopang hidupnya. Matanya harus jeli melihat pergerakan sekecil apapun, karena mungkin itulah yang dicarinya. Jika dia tak melihatnya, maka dia akan mencarinya ke rimbunya semak-semak di tengah hutan, bahkan tak jarang tangannya yang kurus harus mengali tanah untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
Jika dia telah menemukan apa yang dia cari, maka perlahan dia akan mengendap-endap agar kehadirannya tidak di ketahui dan memudahkannya menangkap bahayanya. Namun jika kehadirannya di ketahui maka dia harus lebih waspada. Sebuah tongkat bercagak yang telah dia siapkan akan menjadi senjata.
Setelah mendapatkan bahaya itu dia akan membawanya pulang. Kemudian bahaya itu dia latih untuk menjadi sahabatnya, menemaninya beratraksi, ditonton oleh orang yang kemudian akan memberikan uang saweran dari hiburan yang dia suguhkan. Dari saweran itulah  dia mendapatakan rupiah untuk mengisi perutnya dan memenuhi kebutuhan lainnya.

Kamis, 01 Mei 2014

Membaca Gestur Gol A Gong




Gol A Gong

Oleh : @rudirustiadi
Kelas menulis Rumah Dunia
angkatan-23


Minggu 09 Maret 2014, menjadi rutinitas saya di setiap hari Minggu mengikuti kelas menulis Rumah Dunia, namun kali ini berbeda dari biasanya, saya terlambat datang, ketika bergabung dengan teman-teman yang sudah datang sedari tadi, saya mersakan kejanggalan, suasana terasa hening,  gestur peserta  kelas menulis menunjukan rasa ketakutan dan bersalah. “Takut kenapa?, meresa bersalah kenapa?,” pertanyaan itu terus hadir dalam pikiran saya selama proses belajar kelas menulis berlangsung.
Hal yang berbeda dari biasanya juga di tunjukan Gol A Gong, gestur dan raut wajahnya saat itu terlihat tidak seperti  biasanya, yang penuh dengan semangat dan guyonan ketika mengisi kelas menulis, ini menjadi sesuatu hal yang aneh dan membingungkan bagikku, tidak banyak kata yang keluar dari mulutnya, seperti kebiasaanya mengajar, menceritakan pengalaman-pengalaman inspiratifnya saat menjadi wartawan atau bekerja di RCTI kepada peserta kelas menulis.
Proses belajar berjalan tersa canggung, kemudian Gol A Gong bertanya “ada yang mau di sampaikan?,” lagi “ada yang mau di sampaikan?,” pertanyaan itu sampai beberapa kali di sampaikan, bahkan terkesan seperti memaksa, memaksa peserta kelas menulis berkata-kata untuk menyampaikan sesuatu, namun saat itu tidak ada  satupun dari peserta kelas menulis yang berani untuk berkata-kata, ketika itu saya dapat merasakan bahwa ada sesuatu dari mulut peserta yang ingin di sampaikan, namun terasa berat untuk di ucapkan, kepala mereka tertunduk tidak berani menatap wajah Gol A Gong, sebagian dari mereka saling tunjuk untuk menyampaikan sesuatu.
Kelas menulis akhirnya selesai pukul 17.30, saya dan teman saya Haidaroh berjalan ke masjid untuk menunaikan sholat Ashar, ketika itu saya langsung menyampaikan apa yang saya rasakan semala proses belajar kelas menulis, Haidaroh kemudian menjelaskannya. “dia (Gol A Gong) kecewa” kata Daru sapaan akrab Haidaroh. Kata “kecewa” menunjukan ada rasa ketidak puasan, rasa kesal dan sesal dalam diri seseorang, mungkin itulah yang Gol A Gong rasakan ketika itu, dan saya baru memahami kenapa gestur Gol A Gong berubah di hari itu.
Gestur yang dilakukan oleh seseorang terkadang memang tanpa disadari keluar mendahului bahasa verbalnya. Dan gesture sangat mendukung dan berpengaruh dalam proses komunikasi. Jika berlawanan dengan bahasa verbal akan mengurangi kekuatan komunikasi, sedangkan kalau selaras dengan bahasa verbal akan menguatkan proses komunikasi. Lalu apakah gesture Gol A Gong ketika itu menunjukan ada masalah dalam dirinya ???. saya beranggapan demikian, karena Gol A Gong mengamininya dengan mengatakan “saya kecewa”.
Semoga semua ini hanya perasaan saya saja, saya hanya menulis apa yang saya lihat dan apa yang saya rasakan dari gestur Gol A Gong dan bahasa verbalnya ketika kami berinteraksi, orang lain bisa saja berpendapat atau mengartikan  gestur Gol A Gong berbeda dengan yang saya rasakan, karena tidak semua orang mempunyai kepekaan yang sama, karena menurut wikipedia, gestur merupakan suatu bentuk komunikasi non-verbal dengan aksi tubuh yang terlihat mengkomunikasikan pesan-pesan tertentu, baik sebagai pengganti wicara atau bersamaan dan paralel dengan kata-kata. Gestur mengikutkan pergerakan dari tangan, wajah, atau bagian lain dari tubuh.
Gestur Gol A Gong menjadi anomali di hari itu karena dari sekian banyak peserta kelas menulis, hanya beberapa orang saja yang mengerjakan tugas, kemudian saya juga mencoba membaca gestur peserta kelas menulis. Dari sekian banyak peserta kelas menulis kenap hanya beberapa orang saja yang membuat tugas?. Dari beberapa pertemuan Gol A Gong selalu memberikan tugas, namun tugas itu berlalu begitu saja tanpa ada koreksi langsung (kecuali tugas tabloid), mungkin itu lah yang membuat peserta  kelas menulis “lalai” menegrjakan tugas-tugas berikutnya. 
Sekali lagi semoga ini hanya perasaan saya saja, namun jika benar seperti itu, semoga menjadi pembelajaran untuk peserta kelas menulis Runah Dunia angkatan-23. Dan untuk Gol A Gong semoga kembali ceria, ikhlas membimbing kami dengan segala kelebihanmu, menjadi sumber inspirasi kami. Dan untuk pertanyaan “ada yang mau di sampaikan?,” pertanyaan itu sepertinya umpan untuk kami, untuk menyampaikan rasa bersalah kami dan meminta maaf, agar Gol A Gong “terhibur” dan kembali bersemangat membimbing kami saat itu, namun sayang tidak ada satu orangpun yang berani menyampaikannya, untuk itu dalam kesempatan ini kami meminta maaf atas “kelalaian” kami kemarin.
“Sekai lagi” saya hanya menulis apa yang saya lihat dan apa yang saya rasakan, jika ada yang kurang berkenan jangan sampai di masukan kedalam hati !, PEACE !!! hehehe....

12th Rumah Dunia Anniversary “Small Library for Children”


Bulan maret tahun ini merupakan bulan berdirinya Rumah Dunia yang ke-12, rencananya Minggu 16 Maret 2014, Rumah Dunia akan mengelar acara hari jadinya tersebut, dengan anak-anak dan masyarakat Kampung Ciloang dimana Rumah Dunia berdiri, serangkayan acara telah di persiapkan dari acara nonton bareng, aneka lomba hingga diskusi, semua kegiatan tersebut tidak dipungut biaya sepeserpun alias gratis. Momen ini di harapkan panitia di jadikan momen untuk masyarakat Ciloang untuk terus berkarya dan berprestasi dengan mengikuti seluruh kegiatan tersebut. Semua acra ini di selenggarakan di Taman Budaya Rumah Dunia komplek Hegar Alam No.40 kp. Ciloang Serang-Banten.
Selain untuk merayakan hari jadinya yang ke-12, acra ini juga bertujuan untuk membentuk karaker anak yang gemar membaca. Hal ini selaras dengan tema ulang tahun kali ini, “Small Library for Children”. Dalam acara kali ini rencananya Rumah Dunia akan membagi-bagikan buku kepada setiap anak yang meraih prestasi dalam lomba. Acara ini juga di support oleh Asia Foundation, salah satunya dengan memberikan 150 buku paket, Harapannya “agar  anak-anak lebih mencintai buku, dengan cara memberikan buku tersebut, sehingga nantinya anak-anak memiliki pojok perpustakaan sendiri di rumah mereka masing-masing,” jelas Jack Alawi, ketua panitia ulang tahun Runah Dunia ke-12. Hal ini juga sesuai dengan spirit berdirinya Rumah Dunia, yaitu untuk menghadirkan dunia ke dalam rumah lewat membaca buku.
Acara dimulai dari sabtu malam dengan menggelar acara nonton bareng untuk anak-anak, di halaman komplek Rumah Dunia. Pagi harinya di lanjutkan dengan mengelar aneka lomba, Aneka lomba tersebut adalah lomba menggambar, mewarnai, baca puisi, teater dan lomba bernyanyi. Semuanya khusus anak-anak. Setelah itu di lanjutkan dengan diskusi “manfaat Rumah Dunia untuk masyarakat kampung Ciloang,” selepas sholat Dzuhur, dalam diskusi ini akan menampilkan pembicara dari masyarakat Kampung Ciloang : Suni Ahwa, Harir Baldan dan Muhzen Den. Puncak acara kali ini akan di tutup dengan di menyematkan penghargaan kepada duta anak Rumah Dunia.
Hari jadi Rumah Dunia sejatinya di gelar pada tanggal 3 Maret, namun karena kendala teknis, acara sakral ini harus di undur beberapa pekan, hal ini di karenakan pada bulan Februari lalu Rumah Dunia baru saja mengelar acara bersekala nasional. Jambore TBM 2014 “Karena waktunya berdekatan dengan jambore TBM 2014, dan saat itu kondisi relawan Rumah Dunia tidak memungkinkan untuk melaksanakan acara ulang tahun rumah dunia sesuai jadwal, maka kami sepakat untuk mengundurnya,” ujar pria yang akrab di panggil Bang Jack ini.