Senin, 15 September 2014

Cerpen Keduaku yang Nongol di Koran


Aku Mati Di Pasar 
Cerpen Rudi Rustiadi



Didingkrik, tubuh kering keronta Kurdi masih setia duduk di atasnya. Memakai kaos oblong merah pudar yang lusuh dan kebesaran. Kulit hitamnya dekil berlumurkan keringat bercampur debu. Maklum, matahari tepat di atas kiosnya yang asbes, panas memaksa pori-pori untuk mengeluarkan lebih banyak keringat. Dulu Kurdi petani gagal, penjual bubur ayam juga gagal, tukang ojek tapi gagal juga. Kini ia di pasar.

Kedua bola mata Kurdi sayu melihat sayur dan ikan di hadapannya. Namun, matanya bisa seketika nanar, darahnya mengalir deras ke ubun-ubun, jika melihat bangunan megah berdiri kokoh di sebrang jalan, di depan pasar tempat Kurdi berjualan. Bagian depan, sisi kanan dan kiri bangunan gedung di lapisi kaca-kaca yang membuatnya seperti akuarium besar. Temboknya di lapisi cat krem dengan aksen garis merah, biru dan kuning menyala. Bagunan itu berhasil menarik perhatian mata beberapa ibu-ibu yang ingin belanja ke pasar.

Bukan! Bukan padanan warnanya yang serasi atau megahnya bangunan. Tapi banner besar yang terpampang di muka gedung bagian atas, terlihat gambar minyak goreng, detergen, sabun mandi hingga ikan segar. Gambar-gambar tersebut berhasil memonopoli perhatian ibu-ibu, apalagi ditambah dengan huruf-huruf besar merah menyala bertuliskan “Diskon Hingga 50+20 %”.

 Itu minimarket! Ya, toko modern yang saat ini sudah menjamur hingga pelosok negeri, bahkan di depan pasar tempat Kurdi berjualan. Lokasi yang harusnya steril dari toko semacam itu. Terlebih lagi di bulan puasa dan menjelang lebaran. Minimarket seperti itu berlomba-lomba menurunkan harga, menawarkan berbelanja paket hemat hingga sembako murah. Situasi yang semakin membuat kios Kurdi lebih jarang lagi dikunjungi pembeli.

Dari kiosnya, Kurdi bisa melihat dari balik kaca minimarket pramuniaga tersenyum ketika ada pembeli yang datang, seketika itu juga Kurdi merasa orang itu sedang menertawakan nasibnya. Tak henti-hentinya ia berjibaku dengan pikirannya sendiri setiap kali melihat hal itu. Rasa iri, dengki serta amarah bergejolak.

Ikan Bandeng dan sayur di hadapan Kurdi masih sangat segar. Tidak ada satu orang pun sudi menjamahnya sejak pagi tadi hingga beduk Asar terdengar. Tongkat kecil denga lilitan tali rafia ia putar pelan pelan mengusir lalat yang menghinggapi daganganya ketika seseorang lewat di depannya. Berharap orang itu mau mampir, membeli ikan atau sayurnya.

Seketika Kurdi teringat masa kecilnya, sewaktu menemani bapaknya berdagang ikan dan sayur di pasar. Kiosnya selalalu ramai dikunjungi pembeli, bahkan sebagian sudah menjadi pelanggan tetap. Dagangannya selalu habis tak tersisa. Dengan hasil dagangannya itu bisa memberangkatkannya ke Mekah, menunaikan rukun Islam kelima bersam Aminah, ibu Kurdi. Bayangan indah masa kecil itu lah yang membawa Kurdi ke pasar, setelah beberapa kali bergonta-ganti profesi. Namun kehidupannya hari ini, tidak sesederhana bayangannya ketika masih kecil.

Angan-angan itu hanya menjadi oase. Kehidupannya berbanding terbalik dengan bapaknya. Kesuksesan orangtuanya dulu tak tertular kepadanya. Terkadang Kurdi malu karena mersa tidak becus mengurus seorang istri dan satu anak, padahal dulu bapaknya mampu memberi penghidupan layak bagi kelima anaknya dan seorang istri. Bahkan, menyekolahkan semua anak-anaknya hingga lulus SMA, dengan berjualan di pasar seperti dirinya saat ini. Tapi lihat Kurdi sekang! untuk bisa membeli sergam merah-putih saja terkadang ia harus menghutang beras beberapa hari, karena uang yang semestinya dibelikan beras harus ia belikan segam merah putih untuk Dido. Potret kehidupan jauh berbeda.

Padahal dulu bapaknya sudah memberi resep kepada Kurdi, agar laku berjualan yakni jujur dan ramah. Itu sudah ia lakoni. Namun tetap saja, pembeli di kiosnya sedikit demi sedikit berkurang semenjak ada minimarket di depan pasar.

Seperti hari-hari biasanya, Kurdi selalu pulang ketika azan Asar selesai dikumandangkan. Ikan dan sayur ia kembali bawa ke rumah, untuk disimpan di lemari es supaya tidak busuk dan bau. Kurdi melangkahkan kakinya melewati jalanan becek. Cipratan lumpur hitam yang beraroma tidak sedap menempel di betis dan mata kakinya.

Beberapa pedagang sudah menutup kiosnya. Termasuk kios milik teman Kurdi, yang ia jadikan tempat berkeluh kesah ke beberapa teman seprofesinya, ke penjual buah, penjual beras atau penjual kelontong. Ternyata mereka pun mengalami hal yang serupa. Keadaan itu justru semakin menambah amarah dan rasa dengkinya kepada orang yang membangun minimarket atau memberi izin mendirikannya di dekat pasar. Padahal, jelas-jelas ada larangannya. Tepatnya di bagian depan pasar. Masih kokoh berdiri plang besi bertuliskan “Pasal 4 ayat (1) Perpres 112/2007” berisi tentang larangan mendirikan minimarket dekat pasar tradisonal. Meski plang itu sudah berkarat dimakan usia namun tulisannya masih bisa terlihat dengan jelas. Sempat terlintas dalam pikiran Kurdi untuk memindahkan plang besi itu dan menancapkanya tepat di depan minimarket. Agar mereka bisa membacanya dan segera menjauh dari pasar.

Tidak jauh dari pangkalan ojek, ternyata masih ada kios kelontong yang menjajakan dagangannya. Dengan luas kios lima kali tiga meter, rasanya kios tersebut terlalu penuh. Barang-barang dagangan bertumpuk. Berkarung-karung beras ada di pojok kios. Seakan tak mau kalah, dirigen-dirigen yang berisi minyak goreng curah juga menumpuk di dekat situ. Di langit-langit toko, tersampir berbagai bumbu masak, kopi, shampoo dan bahkan pembalut.

Di dalam kios yang sempit itu, Sanusi sang pemilik kios terlihat sedang merapikan kiosnya seorang diri. Dengan mengenakan singlet putih bolong-bolongnya, ia menyusun barang-barang dagangannya satu per satu, menata dan memilah sesuai jenisnya. Telaten dan teliti, meski barang-barang tersebut tidak akan bisa rapi layaknya barang dagangan di minimarket yang jaraknya hanya 10 meter dari kiosnya.

“Kurdi, bagaimana daganganmu hari ini?”

“Semakin mengenaskan saja, Kang!”

“Toko itu seharusnya tidak ada di sini!” Sanusi menunjuk minimarket di depan kiosnya.

“Sekarang toko itu, mungkin besok mall yang akan dibangun di sini,” Kurdi berkelakar.

“hahaha... Semakin susah saja hidup kita, Kur,”

***

Seorang perempuan berkerudung putih muncul dari balik pintu, menyambut Kurdi. Kemudian langsung mencium tangannya. Senyum kecil terlukis di bibir mungilnya. Sejenak memberi keteduhan di hati Kurdi, sebelum rasa malu dan sesal harus ia tanggung, karena pulang dengan tangan hampa. Rasa itu jadi bertambah, jika mengingat Kurdi bukan menikahi perempuan biasa, yang ia persunting adalah Marni, anak seorang saudagar bebek yang kaya raya. Sejak kecil terbiasa hidup berkecukupan. Namun, demi hidup bersama orang yang dicintainya ia rela meninggalkan semua itu, dan memilih hidup bersama kurdi dengan segala keterbatasan.

Marni menatap plastik merah besar yang di jinjing suaminya. Mata Kurdi refleks ikut melakukannya.

“Hari ini pembeli sepi lagi,”

“Tidak apa-apa, yang penting siapkan saja sedikit uang! Untuk jajan Dido di sekolah.” Keduanya menatap sebuah foto yang tergantung di dinding, gambar mereka barsama Dido sedang tersenyum di depan halaman rumah.

Beruntung Kurdi memiliki Marni, istri yang solehah. Jika tidak mungkin ia sudah gila menghadapi realitas hidup. Meski hidup berkecukupan sejak kecil tapi Marni sangat memahami kondisi suaminya, ia tidak pernah menuntut apapun.

Kurdi termenung, meratapi nasibnya. Pasar yang seharusnya memberi penghidupan kepada orang sepertinya malah menjadi kuburan untuknya, setelah orang berduit membangun minimarket dekat pasar. “Mereka sepertinya mau membunuhku pelan-pelan,” keluhnya dalam hati. “Mereka ingin aku mati di pasar!”



 Pasar Baros, 05 Ramadhan 1435
Radar Banten, 14 September 2014






Ini dia buktinya. Hehehe... Radar Banten, 14 September 2014









Sabtu, 13 September 2014

UNTUK PALESTINA



BEBASKAN DIA!*

Bebaskan dia!
Seorang anak yang lahir dari dentuman bom
Berdiri dan berlari di atas tulang belulang bapaknya

Di tangannya sebongkah batu
Ia adukan dengan bom dan peluru
Nyawanya serupa debu
Disapu, hilang dan berlalu

Satu waktu ia bersembunyi
Berlindung dalam rumah Tuhan, mencari damai
Berdialog berselimut luka, membunuh sepi

Baginya, kebebasan hanya obrolan di kedai kopi
Sebab diplomasi serupa lautan tak bertepi
berapa anak lagi harus terpaku
kehilangan kasih ayah dan ibu

Biarkan ia berlari di atas tulang bapaknya
Lepas dari belenggu yang mengepungnya



Banten, 31 Juli 2014

Kamis, 04 September 2014

Cerpen Gagal, Absurd!



Beginilah jadinya jika menulis cerpen ditentukan temanya dan di kejar deadline!
Saya termasuk orang yang lambat dalam membuat satu cerpen (tulisan). Tapi tidak kali ini, cerpen yang akan kalian baca ini di ciptakan dalam waktu empat jam. Biasanya saya membuat cerpen dalam waktu 2 sampai 4 hari. Hal ini disebabkan karena cerpen ini diikut sertakan dalam sebuah perlombaan. Beri waktu 12 jam dengan tema yang ditentukan, harus Flash Fiction-lah, harus itulah! Ya, hasilnya seperti ini. Saya saja malas membacanya! Jadi mending Tidak Usah Dibaca!!!

Cinta Tanpa Syarat
Kita tersiksa bukan karena cinta,
Tapi karena kesalahan kita memaknai cinta.  
(Emile Zola)
Saat itu aku menatap langit malam di teras rumahku. Jutaan bintang bertaburan dalam bentangan langit luas. Meski sinarnya tak sanggup menerangi bumi, tapi kerlipnya mampu memberikan keindahan di kelamnya malam. Sambil mendengarkan lagu Sempurna milik Andra And The Backbone, aku merenungkan kisah cinta yang mengampiri diriku. Memikirkan nasib cintaku kepada dia, seorang gadis yang kutemui di perpustakaan kampus ketika mengantar sahabatku meminjam sebuah buku. Dia yang terlihat manis ketika melepas senyum dari dua belah bibirnya, ketika kuajak dia berkenalan. Malam itu aku belum sepenuhnya yakin, masih bertanya-tanya apakah dia benar-benar mencintaiku, seperti aku yang sangat mencintainya?
Keraguan itu muncul karena saat pertama kali aku menyatakan cinta kepadanya, sejurus kemudian dia mengajukan banyak syarat. “Jangan sentuh aku! Jangan perlakukan aku  seperti mantan-mantanmu! Jangan ini! Jangan itu! Tidak boleh ini! Tidak boleh itu!” Pintanya.
Cinta memang serupa penyakit, membuat seseorang lemah di hadapan orang yang dicintainya. Beigitu pun diriku, aku mengamini semua permintaannya. Meski di hari-hari berikutnya aku mulai berpikir untuk menolaknya. Kepalaku terasa penat dipenuhi sederet syarat yang ia ajukan dulu. Aku mencoba menanyakan kepada diriku sendiri, “Jika dia mencintaiku mengapa harus ada syarat? Cinta seharusnya tanpa syarat, kan?”
Ketika cinta seperti bertepuk sebelah tangan atau memang begitu adanya, maka dalam waktu singkat kebencian akan segera memenuhi ruang-ruang dalam pikiran seseorang. Itu sempat kurasakan. Sungguh, batas antara cinta dan benci sangatlah tipis. Dan hal itu sungguh menyiksa batinku. Seketika itu juga aku membenci syarat yang ia beri. Tapi di sisi lain, dia sungguh wanita yang spesial. Berdeda dengan mantan-mantan pacarku. 
Sebelumnya aku memang sudah perhan berpacara dua kali, pertama semasa di SMA dan yang kedua setelah aku duduk di bangku perkuliahan. Kedua mantanku kuperlakukan sama seperti sebagian orang lakukan ketika menjalin hubungan. Berpegangan tangan, sesekali mencium, hal yang bagi sebagian orang itu biasa. Tapi kali ini berbeda, jangankan berpegangan tangan, bersentuhan ketika bersalaman saja tidak pernah! “Apa dia tidak mencintaiku?” Keraguan menyerangku. Apakah aku harus bertahan demi cinta yang aku sendiri meragukannya? Sempat terpikirkan olehku untuk menghianati janjiku, menunggunya sampai lulus kuliah dan menikah. Namun hati kecilku menonaknya itu sama saja aku berbuat curang.
Curang hanya sekelebat ide yang terlintas dipikiran para pecundang, itu prinsipku. Maka, semenjak itu aku terus meyakinkan diriku, bahwa cinta yang hadir kali ini adalah cinta yang sesungguhnya. Aku berusaha keras, bergulat dengan batinku sendiri, bertekad untuk menepis semua keraguan yang datang.
Kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas orang lain. tapi, kemenangan atas diri sendiri. Itu motoku untuk mempertahankan cintaku. Sejak itu aku tidak pernah berhenti berusaha mengendalikan diriku. Aku menemukan cara terbaik untuk mengalahkan keraguanku terhadap cintanya. Yaitu dengan menghancurkan semua kebimbangan yang membelenggu hatiku selama ini tanpa memikirkan syarat darinya. Mampukan aku bertahan dan terus berusaha mengalahkan diriku sendiri untuk cinta?
Akhirnya keraguan yang mengelayuti kepalaku dikalahkan oleh hatiku kecilku sendiri. Lambat laun hati juga lah yang menyadarkanku, bahwa cinta tanpa syarat hanya milih Allah kepada umat manusia. Sedangkan aku dan dirinya hanya manusia biasa. Jadi, jika ada cinta yang hadir di antara kami, maka harus ada pengorbana juga perjuangan untuk mendapatkannya.
***
Hari ini aku membuka daun pintu rumahku. Matahari baru saja lahir dari rahim sang malam, gelap yang baru saja lenyap menyisakan embun pagi yang akan segera hilang tertelan hangatnya mentari. Kicauan burung terdengar mengalun di ranting pohon pinus depan rumahku. Suasana begitu damai kurasakan. Sekarang aku sangat bersyukur dengan keputusanku, bertahan demi cinta. Karena Keputusanku untuk mempertahankan cintaku selama ini membuahkan hasil. Wanita yang dulu kupertahankan cintanya sekarang menjadi pendamping hidupku. Cinta yang dia hadirkan diantara kami juga semakin mendekatkanku kepada Allah. Dari perjalanan kisah cintaku aku belajar satu hal. Cinta memang butuh pengorbanan dan dipertahankan, tapi demi cinta kenapa harus keberatan untuk melakukan semua itu?