Ini kali
kesekian saya mengikuti acara World Book Day (Hari Buku Sedunia) di Rumah
Dunia. Acara ini program rutin, jadi setiap tahun pasti terselenggara. Entah
dengan gegap gempita ala perayaan besar atau intimate diskusi buku atau gerakan
literasi. Tahun lalu diperingati dengan diskusi berasa Lidia, Duta Baca Kota
Serang dan RG Kedung Kaban, Ketua Forum TBM Provinsi Banten. Tahun sebelumnya
lagi Rumah Dunia berkolaborasi dengan Perpustakaan Nasional RI, melalui
Perpusnas Press meluncurkan 114 buku. Jauh lagi tahun-tahun yang sudah Rumah
Dunia pernah meluncurkan buku yang lebih banyak.
Itu dulu saat
relawan di Rumah Dunia banyak. Hari ini 26 April 2026 Rumah
Dunia kembali merayakan Hari Buku Sedunia (World Book Day). Saya sebagai
presiden Rumah Dunia 2025-2030 hanya baru bisa meluncurkan 28 buku karya
penulis Banten. Bukan bermaksud disclaimer, tapi saat ini kondisinya berbeda.
Relawan sedikit dan waktu persiapan sebentar karena ada libur Hari Raya Idul
Fitri 1447 H.
Namun dengan
kondisi yang ada acara World Book Day Ruamh Dunia 2026 tetap
berjalan. Kegiatan digelar di Teater Terbuka Rumah Dunia. Diisi
juga dengan orasi literasi oleh Kepala Perpustakaan Nasional RI, Prof. E.
Aminudin Aziz, M.A., Ph.D. Perayaan bertajuk “Dari Banten untuk
Dunia” tersebut dihadiri pegiat literasi, pelajar, mahasiswa, serta
masyarakat umum. Saya mengucap syukur berkali-kali karena acara ini
berlangsung, meski banyak catatan.
Dalam
orasinya, Prof. Aminudin Aziz menegaskan pentingnya penguatan budaya literasi
sebagai fondasi pembangunan bangsa. Ia menyebutkan bahwa literasi tidak hanya
berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan berpikir
kritis dan memahami informasi secara mendalam. “Buku adalah instrumen utama
dalam membangun peradaban. Melalui buku, kita tidak hanya mewariskan
pengetahuan, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan,” pesan Prof.
Amin di hadapan peserta.
Saya mengucapkan
terima kasih kepada para relawan yang sudah membangu terselenggaranya kegiatan ini.
Kepada para penulis juga kepada Perpustakaan Nasional RI. Oh iya tentu kepada
Rumah Dunia dan para penasihatnya, Mas Gol A Gong, Mbak Tias Tatanka dan Mas
Toto ST Radik. Ini pengalaman berharga
buat saya.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih untuk komentarnya