Membaca antologi cerpen Jejak karya Gol A Gong
|
D |
alam
khazanah kesusastraan, cerpen sering menjadi medium reflektif yang efektif
dalam merekam denyut kehidupan manusia. Melalui buku Jejak (Gong
Publishing: 2026), Gol A Gong sebagai penulis memosisikan dirinya yang setia
pada kondisi realisme sosial. Sepuluh cerpen dalam buku ini bukan sekadar
menghadirkan kisah, melainkan menjadi kesaksian tentang manusia yang bergulat
dengan kemiskinan, kekuasaan, agama, cinta, dan harapan.
Secara tematik, hampir seluruh cerpen Gol A Gong bergerak
dalam wilayah sosial. Tokoh-tokohnya berasal dari lapisan masyarakat marjinal:
pedagang kecil, buruh, tukang becak, pemulung, hingga penyandang disabilitas.
Mereka tidak ditempatkan sebagai objek belas kasihan, tetapi sebagai subjek
yang memiliki martabat. Menjadi tokoh-tokoh yang berjuang menghadapi kerasnya
kehidupan. Perspektif seperti ini mengingatkan pada tradisi realisme yang
berkembang pada karya-karya Pramoedya Ananta Toer atau Ahmad Tohari, yakni
sastra yang berpihak kepada orang-orang kecil.
Membaca Jejak karya Gol A Gong saya seperti diajak
berjalan menyusuri kehidupan sehari-hari. Tokoh-tokohnya bukan pahlawan super
atau orang-orang hebat. Namun, di situlah kekuatan cerita-cerita Gol A Gong.
Pembaca akan merasa dekat dengan setiap cerita karena persoalan yang diangkat
adalah persoalan yang sering kita jumpai di sekitar kita.
Buku Jejak memuat sepuluh cerpen, antara lain: Kidung
Pagi di Pasar Klewer, Pulang dari Haji, Suara Sang Bilal, Secangkir Teh di
Lahore, Api Membara, Gadis Pemulung Masuk Televisi, Sarip, Roda dan Pena, Di
bawah Langit Ka'bah, dan Fajar Sudah Tak Ada Lagi. Masing-masing menghadirkan
tema yang berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: kemanusiaan,
kejujuran, perjuangan hidup, dan harapan.
Pada cerita-ceritanya, Gol A Gong membiarkan tokoh-tokohnya
berbicara melalui tindakan dan pilihan hidup mereka. Dalam Kidung Pagi di Pasar
Klewer, misalnya, pembaca diajak percaya bahwa kebaikan sering hadir tanpa
perlu diketahui siapa pelakunya. Sementara Pulang dari Haji menjadi kritik
halus terhadap orang yang sibuk menjaga citra religius, tetapi lupa menjaga
hati. Cerpen Api Membara bahkan menyentil keserakahan yang mengorbankan rakyat
kecil demi kepentingan bisnis. Semua kritik itu disampaikan lewat cerita yang
mengalir, bukan ceramah panjang.
Bahasa yang digunakan juga mudah dinikmati. Oleh sebab itu
secara estetik, Jejak dituliskan melalui bahasa yang komunikatif.
Cerpen-cerpennya tidak mengejar eksperimen bentuk, melainkan mengutamakan
kekuatan cerita dan kedalaman pesan. Pada beberapa ceritanya Gol A Gong
memasukkan unsur dialek daerah, istilah lokal, atau suasana khas sebuah tempat,
sehingga cerita terasa hidup dan kental dengan citra lokalitasnya. Saat membaca
kita seolah ikut berada di Pasar Klewer, kampung Betawi, Lahore, atau kota-kota
lain yang menjadi latar cerita. Inilah salah satu kekuatan Gol A Gong sebagai
penulis perjalanan sekaligus pencerita.
Pada cerita-cerita dalam Jejak, Gol A Gong berusaha
menghadirkan kehidupan sebagaimana adanya. Namun, Gol A Gong tidak berhenti
pada reproduksi realitas sosial. Ia memilih fakta-fakta sosial yang menggugah:
biaya rumah sakit yang mahal, korupsi pembangunan, kesenjangan ekonomi, eksploitasi
agama, hingga penggusuran rakyat kecil. Fakta tersebut kemudian diolah menjadi
narasi yang emosional tanpa kehilangan daya kritik.
Secara keseluruhan, Jejak bukan sekadar kumpulan
cerpen, tetapi kumpulan potret kehidupan. Ada air mata, tawa, kritik sosial,
cinta, pengkhianatan, pengorbanan, hingga secercah harapan. Setelah selesai
membaca, pembaca tidak hanya menikmati cerita, tetapi juga diajak merenungkan
kembali arti kemanusiaan. Cerita-ceritanya sederhana, tetapi meninggalkan bekas
yang panjang di hati pembacanya. Mungkin itulah alasan mengapa buku ini diberi
judul Jejak—karena setiap cerpen meninggalkan jejak dalam ingatan, sekaligus
jejak dalam nurani.
Kekuatan utama cerpen-cerpen dalam buku ini terletak pada
kemampuan Gol A Gong menyampaikan kritik sosial. Dalam Api Membara misalnya,
kebakaran pasar menjadi metafora penghancuran ruang hidup masyarakat kecil demi
kepentingan kapital. Api bukan hanya unsur fisik, tetapi simbol keserakahan
yang membakar nurani. Dalam Pulang dari Haji, simbol-simbol religius seperti
tasbih, air zamzam, kurma, dan sajadah justru mengalami dekonstruksi. Yang
dipersoalkan bukan agamanya, melainkan kemunafikan manusia yang menjadikan
agama sebagai komoditas sosial. Pendekatan simbolik semacam ini membuat kritik
menjadi lebih tajam dibandingkan jika disampaikan secara langsung.
Hal lain yang menarik adalah setiap cerpen diawali dengan
puisi pendek empat baris. Puisi-puisi itu menjadi pintu masuk sebelum pembaca
menikmati cerita. Selain memperindah buku, puisi tersebut memberi isyarat
tentang tema yang akan dihadapi pembaca.
Jejak yang ditinggalkan buku ini bukan hanya pada ingatan pembaca, tetapi juga pada kesadaran sosialnya. Sastra, dalam pandangan Gol A Gong, nampaknya bukan sekadar hiburan atau permainan bahasa, melainkan kesaksian atas kehidupan manusia—tempat empati, kritik, dan harapan bertemu dalam sebuah cerita.
Rudi Rustiadi
Manajer Gong Publishing
Presiden Rumah Dunia 2025-2030
Relawan Literasi Masyarakat (Relima) 2026
Rumah Dunia, 22 Juni 2026
