Senin, 06 Juli 2026

Merekam Jejak Kehidupan Melalui Sastra

Membaca antologi cerpen Jejak karya Gol A Gong


D

alam khazanah kesusastraan, cerpen sering menjadi medium reflektif yang efektif dalam merekam denyut kehidupan manusia. Melalui buku Jejak (Gong Publishing: 2026), Gol A Gong sebagai penulis memosisikan dirinya yang setia pada kondisi realisme sosial. Sepuluh cerpen dalam buku ini bukan sekadar menghadirkan kisah, melainkan menjadi kesaksian tentang manusia yang bergulat dengan kemiskinan, kekuasaan, agama, cinta, dan harapan.

Secara tematik, hampir seluruh cerpen Gol A Gong bergerak dalam wilayah sosial. Tokoh-tokohnya berasal dari lapisan masyarakat marjinal: pedagang kecil, buruh, tukang becak, pemulung, hingga penyandang disabilitas. Mereka tidak ditempatkan sebagai objek belas kasihan, tetapi sebagai subjek yang memiliki martabat. Menjadi tokoh-tokoh yang berjuang menghadapi kerasnya kehidupan. Perspektif seperti ini mengingatkan pada tradisi realisme yang berkembang pada karya-karya Pramoedya Ananta Toer atau Ahmad Tohari, yakni sastra yang berpihak kepada orang-orang kecil.

Membaca Jejak karya Gol A Gong saya seperti diajak berjalan menyusuri kehidupan sehari-hari. Tokoh-tokohnya bukan pahlawan super atau orang-orang hebat. Namun, di situlah kekuatan cerita-cerita Gol A Gong. Pembaca akan merasa dekat dengan setiap cerita karena persoalan yang diangkat adalah persoalan yang sering kita jumpai di sekitar kita.

Buku Jejak memuat sepuluh cerpen, antara lain: Kidung Pagi di Pasar Klewer, Pulang dari Haji, Suara Sang Bilal, Secangkir Teh di Lahore, Api Membara, Gadis Pemulung Masuk Televisi, Sarip, Roda dan Pena, Di bawah Langit Ka'bah, dan Fajar Sudah Tak Ada Lagi. Masing-masing menghadirkan tema yang berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: kemanusiaan, kejujuran, perjuangan hidup, dan harapan.

Pada cerita-ceritanya, Gol A Gong membiarkan tokoh-tokohnya berbicara melalui tindakan dan pilihan hidup mereka. Dalam Kidung Pagi di Pasar Klewer, misalnya, pembaca diajak percaya bahwa kebaikan sering hadir tanpa perlu diketahui siapa pelakunya. Sementara Pulang dari Haji menjadi kritik halus terhadap orang yang sibuk menjaga citra religius, tetapi lupa menjaga hati. Cerpen Api Membara bahkan menyentil keserakahan yang mengorbankan rakyat kecil demi kepentingan bisnis. Semua kritik itu disampaikan lewat cerita yang mengalir, bukan ceramah panjang.

Bahasa yang digunakan juga mudah dinikmati. Oleh sebab itu secara estetik, Jejak dituliskan melalui bahasa yang komunikatif. Cerpen-cerpennya tidak mengejar eksperimen bentuk, melainkan mengutamakan kekuatan cerita dan kedalaman pesan. Pada beberapa ceritanya Gol A Gong memasukkan unsur dialek daerah, istilah lokal, atau suasana khas sebuah tempat, sehingga cerita terasa hidup dan kental dengan citra lokalitasnya. Saat membaca kita seolah ikut berada di Pasar Klewer, kampung Betawi, Lahore, atau kota-kota lain yang menjadi latar cerita. Inilah salah satu kekuatan Gol A Gong sebagai penulis perjalanan sekaligus pencerita.

Pada cerita-cerita dalam Jejak, Gol A Gong berusaha menghadirkan kehidupan sebagaimana adanya. Namun, Gol A Gong tidak berhenti pada reproduksi realitas sosial. Ia memilih fakta-fakta sosial yang menggugah: biaya rumah sakit yang mahal, korupsi pembangunan, kesenjangan ekonomi, eksploitasi agama, hingga penggusuran rakyat kecil. Fakta tersebut kemudian diolah menjadi narasi yang emosional tanpa kehilangan daya kritik.

Secara keseluruhan, Jejak bukan sekadar kumpulan cerpen, tetapi kumpulan potret kehidupan. Ada air mata, tawa, kritik sosial, cinta, pengkhianatan, pengorbanan, hingga secercah harapan. Setelah selesai membaca, pembaca tidak hanya menikmati cerita, tetapi juga diajak merenungkan kembali arti kemanusiaan. Cerita-ceritanya sederhana, tetapi meninggalkan bekas yang panjang di hati pembacanya. Mungkin itulah alasan mengapa buku ini diberi judul Jejak—karena setiap cerpen meninggalkan jejak dalam ingatan, sekaligus jejak dalam nurani.

Kekuatan utama cerpen-cerpen dalam buku ini terletak pada kemampuan Gol A Gong menyampaikan kritik sosial. Dalam Api Membara misalnya, kebakaran pasar menjadi metafora penghancuran ruang hidup masyarakat kecil demi kepentingan kapital. Api bukan hanya unsur fisik, tetapi simbol keserakahan yang membakar nurani. Dalam Pulang dari Haji, simbol-simbol religius seperti tasbih, air zamzam, kurma, dan sajadah justru mengalami dekonstruksi. Yang dipersoalkan bukan agamanya, melainkan kemunafikan manusia yang menjadikan agama sebagai komoditas sosial. Pendekatan simbolik semacam ini membuat kritik menjadi lebih tajam dibandingkan jika disampaikan secara langsung.

Hal lain yang menarik adalah setiap cerpen diawali dengan puisi pendek empat baris. Puisi-puisi itu menjadi pintu masuk sebelum pembaca menikmati cerita. Selain memperindah buku, puisi tersebut memberi isyarat tentang tema yang akan dihadapi pembaca.

Jejak yang ditinggalkan buku ini bukan hanya pada ingatan pembaca, tetapi juga pada kesadaran sosialnya. Sastra, dalam pandangan Gol A Gong, nampaknya bukan sekadar hiburan atau permainan bahasa, melainkan kesaksian atas kehidupan manusia—tempat empati, kritik, dan harapan bertemu dalam sebuah cerita.

Rudi Rustiadi

Manajer Gong Publishing

Presiden Rumah Dunia 2025-2030

Relawan Literasi Masyarakat (Relima) 2026 

 

Rumah Dunia, 22 Juni 2026