Pesan What's
App masuk. Dari Mas Gol A Gong
Rud,
Dinama? Pasang instalasi buat panggung WBD besok. Jangan pasang balon kayak
acara anak-anak!
Saya jawab
Di RD. ada Adam
dan Oja
Tak lama Mas
Gol A Gong keluar dari Museum Literasi Gol A Gong. “Angkat sepeda ontel! Bawa
ke depan. Mesin tik, manekin, topi caping dan replica tugu 0KM Anyer-Panarukan!”
Saya kemudian
membawa beberapa barang yang bisa saya bawa, sisanya dibawa Adam dan Oja. Siang
ini, Sabtu, 25 April 2026, langit di atas Rumah Dunia sedang cerah-cerahnya.
Suara musik dangdut dari acara hajatan (halaman Rumah Dunia bisa disewakan
untuk acara pernikahan) mengiringi kami yang memasang ini-itu sebagai hiasan
panggung WBD besok.
Hari ini bukan
hari biasa—kami di Rumah Dunia bersiap menyambut World Book Day Rumah Dunia
2026.
“Janga nada backdrop
yang menghalangi RB3 (perpustakaan Rumah Dunia), ya!” begitu perintah Mas Gol A
Gong. “Hari ini, begitu juga untuk ke depannya. Pasang Backdrop acara di bagian
sisi panggung!”
Kami memasang
instalasi sambil bercanda, tapi di balik
itu ada keseriusan yang terjaga. Setiap detail diperhatikan. Instalasi bukan
sekadar hiasan, tapi symbol. Rumah Dunia adalah wadah bagi kesenian, literasi
dan sastra. Panggung harus mencerminkan semangat ketiganya.
Tak lama
kemudian, beberapa penasihat Rumah Dunia datang. Salah satunya adalah Firman
Venayaksa, yang juga Kepala Perpustakaan Untirta. Lalu ada juga Qizink La Aziva,
relawan senior Rumah Dunia. Mereka terus mengamati dan sesekali memberi
masukan. Tidak menggurui, tapi membimbing. Mereka seperti penjaga arah,
memastikan bahwa semangat yang kami tunjukan di panggung tetap pada jalurnya: seni,
literasi dan sastra yang membumi, yang dekat dengan masyarakat. Suasana seperti
itu yang selalu membuat Rumah Dunia terasa hidup—bukan sekadar tempat, tapi
ruang kebersamaan.
Kami memasang
rak beserta bukunya. Sepeda ontel, topi caping, lampu petromak, replika kotak
pos, replika 0KM Ayer-Panarukan, lukisan abstrak, manekin, meja, kursi dan
lainnya. Silakan kalian interpretasikan sendiri maknanya. Hehehe…
Siang mulai
turun ketika instalasi hampir selesai. Panggung yang tadi kosong kini berubah
menjadi ruang yang penuh makna. Saya berdiri beberapa langkah menjauh,
memandangi hasil kerja kami. Cukup! Menurut saya. Pekerjaan diakhiri, dan
dilanjut besok dengan memarkir mobil perpustakaan keliling Rumah Dunia dan
beberapa cover buku para penulis yang meluncurkan bukunya di World Book Day
Rumah Dunia 2026.
Kami para
relawan kemudian berganti baju batik, mencicipi hidangan yang sedang hajatan.
Lapar juga setelah bekerja ^_^.
Capek?
Jangan
ditanya!
Saya sudah
membuang kata itu dari kamus setiap kali melakukan kegiatan bersama Rumah
Dunia.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih untuk komentarnya