Senin, 27 April 2026

Persiapan World Book Day Rumah Dunia 2026

Pesan What's App masuk. Dari Mas Gol A Gong

Rud, Dinama? Pasang instalasi buat panggung WBD besok. Jangan pasang balon kayak acara anak-anak!

Saya jawab

Di RD. ada Adam dan Oja

Tak lama Mas Gol A Gong keluar dari Museum Literasi Gol A Gong. “Angkat sepeda ontel! Bawa ke depan. Mesin tik, manekin, topi caping dan replica tugu 0KM Anyer-Panarukan!”

Saya kemudian membawa beberapa barang yang bisa saya bawa, sisanya dibawa Adam dan Oja. Siang ini, Sabtu, 25 April 2026, langit di atas Rumah Dunia sedang cerah-cerahnya. Suara musik dangdut dari acara hajatan (halaman Rumah Dunia bisa disewakan untuk acara pernikahan) mengiringi kami yang memasang ini-itu sebagai hiasan panggung WBD besok.

Hari ini bukan hari biasa—kami di Rumah Dunia bersiap menyambut World Book Day Rumah Dunia 2026.

“Janga nada backdrop yang menghalangi RB3 (perpustakaan Rumah Dunia), ya!” begitu perintah Mas Gol A Gong. “Hari ini, begitu juga untuk ke depannya. Pasang Backdrop acara di bagian sisi panggung!”

Kami memasang instalasi  sambil bercanda, tapi di balik itu ada keseriusan yang terjaga. Setiap detail diperhatikan. Instalasi bukan sekadar hiasan, tapi symbol. Rumah Dunia adalah wadah bagi kesenian, literasi dan sastra. Panggung harus mencerminkan semangat ketiganya.

Tak lama kemudian, beberapa penasihat Rumah Dunia datang. Salah satunya adalah Firman Venayaksa, yang juga Kepala Perpustakaan Untirta. Lalu ada juga Qizink La Aziva, relawan senior Rumah Dunia. Mereka terus mengamati dan sesekali memberi masukan. Tidak menggurui, tapi membimbing. Mereka seperti penjaga arah, memastikan bahwa semangat yang kami tunjukan di panggung tetap pada jalurnya: seni, literasi dan sastra yang membumi, yang dekat dengan masyarakat. Suasana seperti itu yang selalu membuat Rumah Dunia terasa hidup—bukan sekadar tempat, tapi ruang kebersamaan.

Kami memasang rak beserta bukunya. Sepeda ontel, topi caping, lampu petromak, replika kotak pos, replika 0KM Ayer-Panarukan, lukisan abstrak, manekin, meja, kursi dan lainnya. Silakan kalian interpretasikan sendiri maknanya. Hehehe…

Siang mulai turun ketika instalasi hampir selesai. Panggung yang tadi kosong kini berubah menjadi ruang yang penuh makna. Saya berdiri beberapa langkah menjauh, memandangi hasil kerja kami. Cukup! Menurut saya. Pekerjaan diakhiri, dan dilanjut besok dengan memarkir mobil perpustakaan keliling Rumah Dunia dan beberapa cover buku para penulis yang meluncurkan bukunya di World Book Day Rumah Dunia 2026.

Kami para relawan kemudian berganti baju batik, mencicipi hidangan yang sedang hajatan. Lapar juga setelah bekerja ^_^.   

Capek?

Jangan ditanya!

Saya sudah membuang kata itu dari kamus setiap kali melakukan kegiatan bersama Rumah Dunia.

 

Firman Venayaksa, Adam dan Rudi


Firman Venayaksa dan Gol A Gong







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih untuk komentarnya