Kamis 23 April
2026, bertepatan dengan Hari Buku Sedunia (World Book Day) 2026, saya diajak
Mas Gol A Gong ikut ke gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kami
berangkat dari Rumah Dunia pukul 09.00 WIB dengan mobil Wuling Mas Gol A Gong.
Tidak hanya saya yang diajak, ada Daru (alumni Kelas Menulis Rumah Dunia
angkatan 23 yang sekarang menjadi dosen dan jurnalis Radar Banten), Pak Agus
Helfi Rahman dan Pak Encep atau Jawaralangit (keduanya guru SKH Kota
Serang).

Saya menjadi pengemudi. Alhamdulillah perjalanan menuju Jakarta lancar. Tidak ada kemacetan yang panjang seperti biasanya. Hanya padat merayap. Di sepanjang perjalanan kami berdiskusi tentang apa saja, tentang korupsi, tentang politik di Indonesia, tentang Makan Bergizi Gratis, tentang pemerintahan Banten dan sebagainya.
Setelah
beberapa kali berputar putar di jalan Rasuna Said, Casablanca dan Kuningan
akhirnya kami sampai tepat pukul 12.00. Begitu masuk Mas Gol A Gong langsung
diserbu oleh para peserta pemecahan rekor MURI, menulis cerpen anti korupsi
yang digagas SIP Publishing, untuk berfoto. Ya kami kami datang untuk
menghadiri acara tersebut. Mas Gol A Gong sebagai mentor dan narasumber
sedangkan kami bertiga penulis cerpen anti korupsi. Setelah melayani para
peserta yang ingin berfoto dan membuat video kami makan nasi padang Sederhana
yang sudah disiapkan panitia.
Acara itu
berlangsung meriah diikuti oleh antusiasme para penulis yang luar biasa. Mereka
datang dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka tidak mau melewatkan peristiwa
berharga ini begitu saja. Bagi saya ini adalah acara pemecahan rekor MURI yang
kedua, setelah pada tahun lalu, tepatnya 15 September 2025 di Perpustakaan
Nasional RI, yang memecahkan rekor MURI dengan penulisan fiksi mini terbanyak
oleh SIP Publishing. Saya merasa senang bisa ikut ambil bagian dari peristiwa
literasi ini. Sebagai presiden Rumah Dunia saya harus terus menulis, memberikan
contoh kepada relawan yang ada saat ini.
Hari
ini sebanyak 1.636 penulis dari 21 provinsi di Indonesia memecahkan rekor
MURI di KPK. Bagi KPK ini sebuah capaian yang kini diposisikan sebagai
strategi baru memperluas gerakan antikorupsi berbasis literasi. Rekor ini
bukan sekadar prestasi simbolik. KPK menilai, capaian ini menandai pergeseran
pendekatan pemberantasan korupsi yang selama ini identik dengan penindakan,
menuju penguatan budaya integritas melalui partisipasi publik yang masif dan
kreatif. Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua KPK, Ibnu Basuki Widodo
dalam ‘Peluncuran Buku dan Pemecahan Rekor Menulis Cerpen Antikorupsi di Gedung
Pusat Edukasi Antikorupsi (ACLC) KPK, Jakarta.
Saya
mengarahkan camera DSLR Cannon 800D yang saya bawa. Beberapa angel Wakil
Ketua KPK, Ibnu Basuki Widodo saya dapatkan. Tapi di sini saya post satu saja
ya ^_^.
Pada
kesempatan itu hadir juga Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya
Perpustakaan pada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Adin
Bondar yang memberikan apresiasi terhadap acara tersebut. Ia menilai pendekatan
literasi memiliki peran strategis dalam membangun karakter integritas, termasuk
melalui karya sastra sebagai refleksi nilai dan sikap individu. Ia
menilai kolaborasi KPK dengan SIP Publishing dan Yayasan Rumah Indonesia
Menulis menjadikan karya sastra sebagai medium edukasi yang lebih dekat dan
mudah dipahami oleh publik. Pencatatan rekor oleh MURI pun memiliki nilai
strategis karena tidak sekadar bersifat seremonial, tetapi menjadi bagian dari
perjalanan gerakan literasi nasional yang mengusung nilai-nilai antikorupsi.
Nah, ini dia foto Pak Adin.
Kalau yang ini
foto-foto kebahagiaan kami saat peluncuran buku Cerpen Antikorupsi di
Gedung Pusat Edukasi Antikorupsi (ACLC) KPK, Jakarta.

.jpeg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih untuk komentarnya