Tangisan
Gangga
Oleh : Rudi Rustiadi
Seorang anak perempuan berjalan
tergesa-gesa di lorong rumah sakit. Ibu, hanya sosok itu yang ingin ia temui.
Di
ruangana serba putih, seorang wanita tua terbaring di atas kasur. Selang masker
oksigen menempel di lubang hidungnya, selang infus juga terjancap di lengan
kiri. Sudah tiga bulan ia tidak sadarkan diri. Anak permpuan itu menggenggam
tangan ibunya penuh harap. “Ibu, kapan sembuh,” suara gadis 12 tahun itu
bergetar.
Ayah
yang seharusnya menjaga, meninggalkan rumah setelah semingu ibu masuk rumah
sakit. Sekarang ia tinggal sendiri, tidak ada yang melindungi. Ia pun harus
berjuang membiayai pengobatan ibunya.
Dia
kehilangan masa kanak-kanaknya hanya untuk mencari uang biaya pengobatan
ibunya. Ia tak mempunyai keahlian apa-apa, selain berjualan kue dan kantong
pelastik di pasar.
“Ibu, ayo cepat bangun!” Isaknya membuat gaduh
ruangan pasien yang dihuni enam orang tersebut. Seorang perempuan berpakaian
serba putih menarik tangannya dengan paksa dan menyeretnya hingga keluar
ruangan.
“Gangga,
ayo keluar!” bentak perempuan tersebut. “Kamu sudah mengganggu pasien lain.”
“Iya,
suster,” kata Gangga takut sambil memegangi pergelangan tangannya yang memerah,
karena di tarik paksa oleh suster tersebut.
“Sebaiknya
kamu pulang saja! Lihat! Pakaianmu kotor sekali, badanmu juga bau, kamu bisa
membuat penyakit ibumu semakin parah,” bentak suster. Wajahnya terlihat
menakutkan jika sedang marah.
Gangga
berjalan tertunduk sambil terisak-isak. Air matanya terus mengalir di kedua
matanya. Badannya terasa lemas. Langkah kakinya berat. Gadis kecil itu tak bisa
menahan rasa sedihnya. Gangga berjalan tak tentu arah, hingga akhirnya berhenti
di depan loket administrasi. Dengan persaan takut Gangga bertanya kepada
petugas administrasi. Berapa biaya yang harus Gangga keluarkan untuk pengobatan
ibunya?
Gangga
terbelalak, saat melihat jumlah rupiah yang tertera di kertas yang baru saja
diberikan petugas administrasi kepadanya. Harus kemana lagi ia mencari uang
sebanyak itu?
“Totoalnya
lima juta, Dik. Itu sudah di potong dari BPJS. Kamu baru membayar tiga ratus
ribu. Jika minggu ini kamu tidak bisa bayar, ibumu tidak akan mendapatkan
perawatan lagi.” Jelas pegawai admnistrasi dengan malas-malasan, wajahnya
terlihat tidak ramah karena harus melayani gadis kecil yang miskin.
Tangan
mungil Gangga merogoh saku celananya. Mencari lembaran uang yang tadi ia
peroleh dari jualan kue dan kantong pelastik di pasar. Kakinya berjinjit, meja
loket terlalu tinggi untuk anak seusianya. Dari
genggaman tangan kanan uang lembaran lima ribu dan dua ribu lecek.
Sedangkan di tangan kirinya uang koin receh lima ratus dan seribuan ia
keluarkan. Gangga menaruhnya di atas
meja loket bergantian.
“Hari
ini aku cuma punya ini. Ibuku tidak boleh keluar dari rumah sakit sebelum ia
sembuh, aku akan melunasi sisanya,” ucap Gangga dengan suara terbata-bata.
Biaya pengobatan ibunya terasa semakin mencekik lehaernya.
Gangga
kembali lagi ke pasar. tatapan matanya kosong. Berjalan sendirian di tengah
keramain. Tidak ada seorang pun yang menganggap dirinya ada. Limbung.
Terkucilkan. Sendirian.
Tiba-tiba
matanya tertuju kepada seorang wanita agak tua yang sedang membeli ikan.
Samar-samar terdengar suara wanita tersebut sedang menawar harga ikan. Kemudian
mengeluarkan uang seratus ribu dari dompetnya. Wanita tersebut berjalan
menuju penjual sayuran. Mata Gangga
tidak pernah lepas dari wanita tersebut, tepatnya dari domper wanita itu. Entah
apa yang ada dipikirannya namun hal yang seharusnya tidak ia lakukan, akhirnya
ia lakoni.
“Copeeet!”
wanita itu berteriak histeris.
Gangga
berlari sekuat tenaganya menghindari orang-orang yang ingin menangkapnya. Ia
berlari sambil menangis. Nafasnya terengah-engah. Ia berlari secepat yang ia
bisa, menuju tempat aman untuk bersembunyi. Gangga melihat sebuah rumah tua
yang tidak berpenghuni. Gangga masuk ke dalam rumah itu dan bersembunyi di
sebuah ruangan. Dari balik jendela ia mengintip orang-orang yang kebingungan
mencari dirinya.
“Dasar
pencopet kecil! Masih kecil sudah mencopet, bagaimana nanti kalau sudah besar?
Mau jadi apa dia nanti?” seorang pria memaki-maki anak perempuan itu sambil
membawa sebilah bambu.
“Awas
saja kalau ketemu! Akan ku potong tangannya biar dia kapok, kecil-kecil sudah
belajar jadi pencopet,” ancam seorang lain dengan geram. Karena kehilangan
jejak, gerombolan itu pun membubarkan diri.
Denyut
jantung Gangga kembali stabil setelah adrenalinnya terpacu. Kemudian ia merogoh
sesuatu dari kantongnya, sebuah dompet bermotif bunga-bunga. Milik seorang wanita
yang sedang berbelanja sayuran di pasar.
“Maafkan
aku, aku terpaksa melakukannya.” Air matanya terus mengalir.
Dompetnya
tebal. Perlahan Gangga membuka dompetnya. Gangga tersenyum kecut dan membuang
dompet tersebut, ia merasa lelah, sia-sia ia tadi berlari menghindari
orang-orang yang ingin menangkapnya, ketika melihat isi dompet itu hanya
kumpulan bon dan struk yang membuat isinya terlihat tebal. Gangga memejamkan
matanya air matanya mengalir deras. Ia menangis sesegukan tanpa suara. Ingin
sekali dia berteriak. Tapi tidak bisa. Hatinya sangat sesak, beban hidupnya
sungguh berat.
Kehidupan
memang sungguh misteri. Banyak kejadian tak terduga yang terkadang menimpa
kita. Itu lah yang Gangga rasakan. Kejadian demi kejadian yang datang membawa
kesedihan dalam hidupnya adalah misteri.
Gangga
menyenderkan kepala ke dinding, menoleh ke kanan. Air matanya menetes ke lantai
yang berdebu. Jemari kecilnya mencakar lantai dan perlahan mengepalkanya sekuat
tenaga. Ia melihat lembaran koran dan membaca judulnya “Rumah Sakit Buang
Pasien Miskin di Pinggir Jalan”
Gangga
teringat ibunya. Hatinya sesak ingin sekali berteriak dan menjerit. Dimana rasa
belaskasih manusia? Haruskah orang miskin diusir atau dibuang dari rumah sakit
karena tidak bisa membayar biaya pengobatan? Gangga tak sanggup lagi menahan
beban hidupnya dan berteriak!
***
“Ibuuu....” Gangga
berteriak. Nafasnya tersengal-sengal, keringat
bercucuran di wajahnya. Ia segera melempar koran yang menyelimuti
tubuuhnya.
Gelap.
Rupanya ia tertidur. Ia berharap kejadian tadi hanyalah mimpi dan berandai,
ibunya duduk manis di ruang tamu menunggunya pulang sekolah. Tapi sayang, Tuhan
tidak mengizinkan. Ada sesak saat tersadarkan, ibunya benar-benar terbaring di
rumah sakit.
Sepasang
bola mata gadis itu menatap kosong. Jalana sepi. Gelap menyelimuti rumah tua
yang ia diami. Gadis itu tertunduk, memejamkan mata. Ada yang penting yang
untuk ia pikirkan. Perutnya meronta sejak tadi. (*)
Radar Banten, 25 Mei 2014
Rudi Rustiadi,
anggota kelas menulis
Rumah Dunia angkatan ke-23
Rumah Dunia angkatan ke-23
![]() |
| Ini cerpennya. |



Abang kereenn Ihhh
BalasHapus@Anis makasih, Blog Anis juga keren,
BalasHapusgak usah pake Abang, kita seumuran kok.