Beginilah jadinya jika menulis cerpen ditentukan temanya dan di kejar deadline!
Saya termasuk orang yang lambat dalam membuat satu cerpen (tulisan). Tapi tidak kali ini, cerpen yang akan kalian baca ini di ciptakan dalam waktu empat jam. Biasanya saya membuat cerpen dalam waktu 2 sampai 4 hari. Hal ini disebabkan karena cerpen ini diikut sertakan dalam sebuah perlombaan. Beri waktu 12 jam dengan tema yang ditentukan, harus Flash Fiction-lah, harus itulah! Ya, hasilnya seperti ini. Saya saja malas membacanya! Jadi mending Tidak Usah Dibaca!!!
Cinta Tanpa Syarat
Kita tersiksa bukan
karena cinta,
Tapi karena kesalahan kita memaknai cinta.
(Emile Zola)
Tapi karena kesalahan kita memaknai cinta.
(Emile Zola)
Saat itu aku menatap langit malam di teras
rumahku. Jutaan bintang bertaburan dalam bentangan langit luas. Meski sinarnya
tak sanggup menerangi bumi, tapi kerlipnya mampu memberikan keindahan di
kelamnya malam. Sambil mendengarkan lagu Sempurna milik Andra And The Backbone,
aku merenungkan kisah cinta yang mengampiri diriku. Memikirkan nasib cintaku kepada
dia, seorang gadis yang kutemui di perpustakaan kampus ketika mengantar sahabatku
meminjam sebuah buku. Dia yang terlihat manis ketika melepas senyum dari dua
belah bibirnya, ketika kuajak dia berkenalan. Malam itu aku belum sepenuhnya
yakin, masih bertanya-tanya apakah dia benar-benar mencintaiku, seperti aku yang
sangat mencintainya?
Keraguan itu muncul karena saat pertama kali aku
menyatakan cinta kepadanya, sejurus kemudian dia mengajukan banyak syarat. “Jangan
sentuh aku! Jangan perlakukan aku
seperti mantan-mantanmu! Jangan ini! Jangan itu! Tidak boleh ini! Tidak
boleh itu!” Pintanya.
Cinta memang serupa penyakit, membuat seseorang
lemah di hadapan orang yang dicintainya. Beigitu pun diriku, aku mengamini
semua permintaannya. Meski di hari-hari berikutnya aku mulai berpikir untuk
menolaknya. Kepalaku terasa penat dipenuhi sederet syarat yang ia ajukan dulu.
Aku mencoba menanyakan kepada diriku sendiri, “Jika dia mencintaiku mengapa
harus ada syarat? Cinta seharusnya tanpa syarat, kan?”
Ketika cinta seperti bertepuk sebelah tangan
atau memang begitu adanya, maka dalam waktu singkat kebencian akan segera
memenuhi ruang-ruang dalam pikiran seseorang. Itu sempat kurasakan. Sungguh,
batas antara cinta dan benci sangatlah tipis. Dan hal itu sungguh menyiksa
batinku. Seketika itu juga aku membenci syarat yang ia beri. Tapi di sisi lain,
dia sungguh wanita yang spesial. Berdeda dengan mantan-mantan pacarku.
Sebelumnya aku memang sudah perhan berpacara dua
kali, pertama semasa di SMA dan yang kedua setelah aku duduk di bangku
perkuliahan. Kedua mantanku kuperlakukan sama seperti sebagian orang lakukan
ketika menjalin hubungan. Berpegangan tangan, sesekali mencium, hal yang bagi
sebagian orang itu biasa. Tapi kali ini berbeda, jangankan berpegangan tangan,
bersentuhan ketika bersalaman saja tidak pernah! “Apa dia tidak mencintaiku?”
Keraguan menyerangku. Apakah aku harus bertahan demi cinta yang aku sendiri
meragukannya? Sempat terpikirkan olehku untuk menghianati
janjiku, menunggunya sampai lulus kuliah dan menikah. Namun hati kecilku
menonaknya itu sama saja aku berbuat curang.
Curang hanya sekelebat
ide yang terlintas dipikiran para pecundang, itu prinsipku. Maka, semenjak itu
aku
terus meyakinkan diriku, bahwa cinta yang hadir kali ini adalah cinta yang
sesungguhnya. Aku berusaha keras, bergulat dengan batinku sendiri, bertekad
untuk menepis semua keraguan yang datang.
Kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas orang
lain. tapi, kemenangan atas diri sendiri. Itu motoku untuk mempertahankan
cintaku. Sejak itu aku tidak pernah berhenti berusaha mengendalikan diriku. Aku
menemukan cara terbaik untuk mengalahkan keraguanku terhadap cintanya. Yaitu
dengan menghancurkan semua kebimbangan yang membelenggu hatiku selama ini tanpa
memikirkan syarat darinya. Mampukan aku bertahan dan terus berusaha mengalahkan
diriku sendiri untuk cinta?
Akhirnya keraguan yang mengelayuti kepalaku
dikalahkan oleh hatiku kecilku sendiri. Lambat laun hati juga lah yang menyadarkanku,
bahwa cinta tanpa syarat hanya milih Allah kepada umat manusia. Sedangkan aku
dan dirinya hanya manusia biasa. Jadi, jika ada cinta yang hadir di antara
kami, maka harus ada pengorbana juga perjuangan untuk mendapatkannya.
***
Hari ini aku membuka daun pintu rumahku.
Matahari baru saja lahir dari rahim sang malam, gelap yang baru saja lenyap
menyisakan embun pagi yang akan segera hilang tertelan hangatnya mentari.
Kicauan burung terdengar mengalun di ranting pohon pinus depan rumahku. Suasana
begitu damai kurasakan. Sekarang aku sangat bersyukur dengan keputusanku,
bertahan demi cinta. Karena Keputusanku untuk mempertahankan cintaku selama ini
membuahkan hasil. Wanita yang dulu kupertahankan cintanya sekarang menjadi
pendamping hidupku. Cinta yang dia hadirkan diantara kami juga semakin
mendekatkanku kepada Allah. Dari perjalanan kisah cintaku aku belajar satu hal. Cinta memang butuh pengorbanan dan
dipertahankan, tapi demi cinta kenapa harus keberatan untuk melakukan semua itu?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih untuk komentarnya