Wilujeng Sumping. Terima kasih sudah mampir ke Blog ini. Blog ini hanya untuk belajar menulis. Silahkan berikan komentar jika senang dengan isi Blog ini !

Post Page Advertisement [Top]

Ini adalah cerpen sarat mengikuti Kelas Menulis Rumah Dunia. Lucu juga kalo dibaca lagi, suka ketwa-ketiwi sendiri bacanya. Masih awam banget sama dunia tulis menulis.



Tanah Para Jawara

Pagi itu Bagus masih tidur lelap. Jendela kamar yang hanya ditutupi kain bekas dibiarkan tertutup rapat. Cahaya mentari masuk menyelinap di antara lubang-lubang kecil dari bilik bambu rumahnya, sebagian tertahan diluar. Hanya rasa hangat yang dapat Bagus rasakan. Kokok ayam jantan terdengar bersautan.
“Bangun! Gus, sudah siang. Nanti kamu terlambat sekolah,” Bu Aminah membangunkan anaknya dengan lembut. Sembari membuka kain penutup jendela agar sinar matahari bisa masuk.
Bagus terbangun dan duduk. Sementara matanya masih terpejam berusa untuk mengumpulkan kembali energinya setelah terlelap tadi malam. Sebelum mandi ia menatap kalender berwarna kuning di  kamarnya. Bergambar sesosok perempuan cantik sedang tersenyum. Kalender ini ia dapat ketika kampanye pemilihan Gubernur. Ia bercita-cita jika besar nanti ia ingin menggantikan perempuan dalam kalender itu.
Bagus sudah mandi dan rapih. Bersiap berangkat skolah ditemani kedua orangtuanya, yang juga akan berangkat bekerja. Tangan Bu Aminah terlihat lembut menggenggam jemari kecil Bagus, genggaman penuh harapan agar kelak Bagus tidak seperti kedua orang tuanya hidup dalam himpitan ekonomi dan serba keterbatasan. Sementara Bapak Bagus, Pak Husen, menenteng serokan dan gulungan karung beras.
Bagus tinggal di perkampungan di pesisir Pantai Selatan. Sepanjang jalan menuju sekolahnya, Bagus melihat perahu-perahu tertambat di bibir pantai Kapuk Pasauran. Ini menjadi bukti bahwa laut merupakan sandaran serta harapan kehidupan sebagian masyarakatnya. Namun tidak semua warga beruntung memiliki perahu untuk melaut. Seperti halnya kedua orang tua Bagus, Bu aminah dan Pak Husen harus memutar otak mencari peruntungan lain agar tetap bertahan hidup di tegah himpitan ekonomi yang mereka alami. potret kemiskinan begitu kental terasa di kawasan yang dikepung sumberdaya alam potensial ini.
Di tengah perjalanan menuju sekolahanya di depan sebuah jembatan, Bagus harus berpisah dengan kedua orang tuanya yang harus bekerja. Sementara Bagus harus melanjutkan perjalanannya  beberapa ratus meter lagi. Tak lupa Bagus mencium tangan Bu aminah dan Pak Husen bergantian. Memohon ridho dan do’a dari keduanya.
“Belajar yang benar Gus! Supaya pintar!” ucap Bu Aminah ketika Bagus mencium tangannya.
“Iya bu” jawab Bagus polos.
“Jangan nakal! Perhatikan gurumu, supaya cita-citamu nanti kalau sudah besar bisa tercapai.” Pak Husen pun tak lupa memberikan nasihat.
Bu Aminah merapihkan kerah baju Bagus yang sedikit terlipat. Seraya merogoh kantong dasternya dan mengambil uang seribu rupiah lalu memasukannya kedalam saku dada Bagus. Seribu rupiah bekal untuk Bagus membeli es, untuk mengusir haus di waktu istirahat setelah belajar nanti.
Bu Aminah dan Pak Husen langsung menuju pantai dan berendam di dalamnya. Mereka harus berbagi lahan dengan sejumlah penambang lain yang juga mengais rupiah di tempat ini, sebagai penambang pasir laut. Di sini puluhan penambang pasir laut merajut asa dengan pikulan karung beras berisi pasir laut.
Walau harus basah kuyup menahan dinginnya air asin yang merendam tubuh mereka, Bu Aminah dan Pak Husen terus mereka lakoninya. Bahkan tak jarang demi mendapatkan pasir yang bagus Pak Husen menyelam ke laut yang lebih dalam, menahan nafas sambil mengeruk pasir. Kerukan demi kerukan menjadi harapan agar Bagus bisa tetap sekolah. Tak tersa air asin bercampur pasir terminum di tengan usahanya mencari sedikit rupiah. Apa mau dikata, hanya inilah pekerjaan yang dapat mereka lakukan untuk menyambung hidup.
“Marni, itu anak siapa? Sepertianya aku baru lihat.” Bu Aminah bertanya kepada Marni, teman seprofesinya. Sembari menunjuk anak perempuan berumur sekitar 13 tahun.
“Itu anakku, namanya Ratu.” Aku Marni sambil mengeruk pasir dan memasukannya kedalam karung beras.
“Kok ada di sini, tidak sekolah?”
“Kemarin-kemarin masih sekolah, tapi sekarang sudah tidak. Bapaknya sudah tak mampu membiayai.” jawab Bu Marni, raut mukanya penuh sesal. Kedunya kembali mengeruk pasir, kedua perempuan paruh baya ini dan yang lainnya memang tak bisa berpangku tangan di rumah melihat perjuangan suami mereka. Tak ada kata menyerah atau menyesal di tengah kesulitan yang dialami.
***
Sepulang sekolah Bagus kembali berjalan kaki melewati jembatan. Dari atas jembatan ini lah Bagus menyaksikan perjuangan sejumlah warga Pasauran termasuk orang tuanya yang melakoni aktifitas berbahaya sebagai penambang pasir laut setiap hari. Ingin rasanya Bagus membantu orangtunya, namun hal itu dilarang kedua orangtuanya. Baju putih dan celana merah pendeknya kini mulai lusuh bercampur keringat dan debu jalanan.
Cuaca sangat  terik  matahari berada tepat di atas kepala para penambang pasir. Namun perjuangan belum berakhir, mereka mesti memanggul karung pasir diiringi hantaman gelombang besar laut Jawa. Perasan keringat yang mengalir terkadang tak sebanding dengan nominal yang terkumpul. Demi rupiah kesulitan dan keletihan hanya angin lalu bagi mereka, karung yang terisi penuh pasir adalah buruan paling berharaga.
“Bapak! Emak!” Bagus berteriak dari atas jembatan. Pekik itu adalah tanda mereka  untuk pulang beristirahat sejenak, menunaikan kewajiban mereka dan kembali lagi mengeruk pasir sampai sore.
***
Karung-karung yang terisi pasir kini mulai dipindahkan. Langkah kaki Pak Husen tertatih dengan puluhan kilogram beban di pundak serta hantaman ombak yang menerjang kakikakinya yang sudah renta. Hal itu seakan sudah akrab dengan kehidupannya. Tumpukan pasir yang berada tak jauh dari bibir pantai sudah meninggi. Sudah hampir lima bulan jerih payah Bu Aminah dan Pak Husen belum dilirik pembeli. Untung memang tak selalu dapat diraih, jerih payah kadang harus di barengi dengan kesabran menungu pembeli yang tak tentu waktu kapan akan datang.  
***
                                                                                                         
Senja pun tiba. Sang surya mengendap-endap kembali ke peraduan. Lautan kini mulai keemasan. Riak-riak gelombang dan hembusan angin laut terus mencumbui pasir pantai menjadi melodi ketika keheningan malam datang.
Sodakohullah Huladzim.” Suara mungil Bagus terdengar menutup rutinitasnya membaca Al-Qur’an. Bagus melipat sajadah yang tadi menjadi alasnya duduk dan mencium tangan Bu Aminah. Kemudian berganti baju. Kopiah yang menempel di kepalnya sudah ia lepas.
“Gus tadi kamu belajar apa?” tanya Bu Aminah. Di atas meja makan sudah tersaji nasi, ikan asin plus sambal. Mereka sangat lahap menikmati sajian di atas meja.
“IPS, Mak, Tentang daerah dan orang-orang yang memimpinnya” jawab Bagus, ia kembali menyuapkan nasi kedalam mulutnya. “Mak, kalau nanti Bagus mau mimpin provinsi kita  gimana caranya?”
“Yang mimpin itu namanya Gubernur, sama seperti perempuan yang ada di kalender kamarmu. Yang kamu lihat setiap kamu mau berangkat sekolah. Kalau kamu mau jadi seorang Gubernur sama seperti jadi pemimpin, harus jujur! Amanah! Harus pintar, makanya kamu harus belajar yang rajin.”
“Yang penting lagi, Gus, kamu harus mementingkan kepentingan orang banyak dari pada kepentingan kamu sendiri” Kata Pak Husen. 
Di tengah percakapan terdengar suara dari speaker masjid “Inna lilahi wa inna ilaihi rojiun.
***
Pagi ini Bagus dan keluarganya bermaksud bertakziah kerumah orang tua Bu Marni, di Desa Pasir Umur atau Dusun Bedeng. Akses jalan untuk mencapai dusun butuh perjuangan eksata keras jangan harap ada angkutan umum. Jalannya sepier kubangan lupur. Apalagi di musim hujan seperti saat ini. Membuat kontur tanh lembek dan menjadikan putaran roda terjebak tak bisa berputar. Motor yang Pak Husen pinjam dari tetangganya tak dapat melaju dengan mulus dan sulit dikendalikan. Ini sangat berbahaya Bagus dan Bu Aminah berinisiatif untuk berjalan kaki demi keselatannya. Buruknya akses jalan dan terlantaranya seumlah infrastruktur dikawasan potensial ini tidak sebanding dengan kekayaan alam yang dimiliki Dusun Bedeng yang hanya berjarak dua kilometer dari pusat objek wisata Anyer.
Kenapa ini bisa terjadi? Pertanyaan ini mulai merasuki pikiran Bagus, padahal sepengetahuannya dari pelajaran IPS yang di terangkan gurunya, pendapatan daerahnya cukup besar dan termasuk kedalam 10 besar APBD terbesar di Indonesia. Namun berdasarkan data ini tanah kelahirannya justru menjadi juru kunci hasil pemekaran tergagal setelah Papua Barat. Triliunan rupiah dianggarkan untuk kebutuhan APBD setiap tahunnya. Dan triliunann rupiah juga merupakan sumber pendapatan asli daerah ini namun etalse kemiskinan menjadi potret terdepan di tanah kelahiran tercintanya.
Sesamapinya di rumah Bu Marni, Bu Aminah dan Pak Husen langsung mengucapkan bela sungkawa, berduka cita terhadap musibah yang dialamai keluarga Bu marni. Tanpa ditanya Bu Marni langsung bercerita kronologi kejadian meninggalnya Ratu. Ia harus meregang nyawa digulung ombak, ketika membantu orang tuanya mengeruk pasir di pantai. Inilah alasan kenapa Bu Aminah dan Pak husen melarang Bagus untuk ikut membantu mereka di pantai.
Di perjalanan pulang Bagus tak sengaja mendapati lembaran koran yang berserakan di jalan. Terlihat foto seorang perempuan yang sepertinya ia kenal, namun kali dengan wajah  sembab, ia bergegas mengambilnya, namun belum sempat ia memastikan foto perempuan di koran tersebut, suara Bu Aminah mengagetkannya.
“Bagus, ayo pulang!” Bagus buru-uru melipatnya dan memasukan kedalam bajunya.
***
Setelah melakukan rutinitasnnya di malam hari Bagus ingat koran yang ia temukan katika perjalanan pulang dari rumah Ratu. Ia membuka laci lemarinya, membuaka lipatan koran, Bagus sedikit memicingkan matanya, dugaanya benar foto perempuan di koran itu sama dengan foto di kalender kamarnya. Tapi wajahnya dalam koran terlihat sembab. Pucat, seperti orang sudah menangis.
Bagus semakin terkejut ketika membacanya, ternyata sang Gubernur telibat kasus korupsi. Bayangan seorang pemimpin yang jujur, amanah dan pintar bertolak beakang dengan apa yang di beritakan di koran. Dagu Bagus bergetar menahan kesal dan kecewa, air sebesar biji kacang menitik di sudut matanya. Hatinya begitu terpukul.
Bapaknya pernah bercerita bahwa orang yang melakukan korupsi sama dengan mencuri uang rakyatnya, memiskinkan daerahnya. Sekarang  Bagus menemukan jawabannya kenap jalan menuju rumah Ratu rusak parah dan tidak pernah di perbaiki. Ternyata uangnya di curi oleh pemimpinnya sendiri. Janji manis memakmurkan dan mensejahterakan masyarakat yang di gadang-gadangkan sang Gubernur dulu hanyalah bualan dan omong kosong belaka. Sekarang  jangankan untuk merealisasikan janjinya, untuk menolong dirinya dari jeratan hukum pun dirasa sulit, bahkan ratusan pendekar yang mengawalnya di KPK pun tak sanggup menolongnya, sang Gubernur tetap di jebloskan ke Pondok Bambu, Jum’at keramat baginya benar-benarnyata.
Kini Bagus semakin paham kenapa tanah kelahiranya yang kaya akan sumber alam, namun rakyatnyta tetap miskin. Tak perlu jauh-jauh masuk ke pelosok kampung untuk melihat kemiskinan di tanah kelahiran Bagus di sepanjang mata memandang deretan gubuk reot menghiasi jalanan, sebaliknya tak sulit juga meliaht perumahan, gedung bertingat dan mobil mobil mewah dijalanan kota. Di kawasan yang berada dekat dengan pusat perekonomian pun kemiskinan jelas terpampang. Kisah hidup Bagus dan Ratu adalah segelintir kisah suram anak-anak korban kerakusan seorang penguasa, peminpin yang memiskinkan tanah kelahirannya. Tanah para Jawara.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih untuk komentarnya

Bottom Ad [Post Page]