Wilujeng Sumping. Terima kasih sudah mampir ke Blog ini. Blog ini hanya untuk belajar menulis. Silahkan berikan komentar jika senang dengan isi Blog ini !

Post Page Advertisement [Top]



Pagi di Cibeo
# Baduy 9
 
Saya tergolek lemah di atas amben. Kepala saya terasa pusing, mungkin kurang tidur karena kedinginan. Uadara malam di Baduy seperti di Puncak, dingin menusuk tulang. Kaki saya masih lemas dan pegal. Saya mendekat ke tunggku perapian. Hangat mulai menyelimuti tubuh. Pijatan-pijatan kecil saya lancarkan di betis dan mata kaki. Agar pegal segera hilang, karena pagi ini saya harus pulang.
Tidak lebih dari sepuluh jam saya beristirahat di Baduy Dalam. Rasa lelah belum habis, pegal-pegal di kaki belum hilang. Namun pagi ini kami harus bergegas pulang.
Meski begitu, udara sejuk dan segar tanpa polusi di tanah Baduy sepertinya memiliki daya magis, dalam sekejap mampu membangkitkan gairah kembali. Sekali saja mengirup udara disini semangat saya sudah kembali lagi, walaupun saya belum yakin kekuatan dan tenaga ini mampu atau tidak untuk sampai kembali ke Ciboleger.
Dari atap rumah asap mengepul, aroma khas kayu bakar memenuhi hidung. Pergi ke Baduy sama saja seperti pergi ke masa lalu, dimana listrik belum ada, memasak masih menggunakan kayu bakar di tungku, mandi di sungai karena tidak ada toilet, tidak ada rumah berdinding tembok. Jauh dari kehidupan modern seperti sekarang ini.
Dari sana kita belajar tentang kesederhanaan dalam segala hal. Kehisupan sehari-hari, pakaian hingga bangunan merekan bangun sesederhana mungkin, Mereka bisa dikatakan mengisolasi diri dari kemodernan. Meski pun demikian, mereka tidak menutup ruang untuk dapat dikunjungi oleh masyarakat modern sehingga berkunjung ke komunitas suku Baduy Dalam dijadikan salah satu objek wisata budaya sekaligus penelitian sejarah di daerah Banten.



Catatan : di Baduy Dalam tidak diperbolehkan menggunakan alat elektronik, jadi tidak ada foto.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih untuk komentarnya

Bottom Ad [Post Page]