Kampung Cibeo
#Baduy 8
“Lojor
teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung, kurang teu meunang
ditambah, lewih teu meunang dikurang”
-Pepatah
Baduy-
Lupakan ponsel, gadget dan barang elektronik lainnya. Hiruplah udara segar
sambil bermain air di sungai yang jernih dan airnya yang dingin!
Tiba
di kampung Cibeo Saya dan Arif langsung menceburkan diri ke sungai. Airnya
dingin dan sangat segar. Sungai ini tidak dalam tetapi arusnya
sangat kencang. Kami membersihkan
badan, setelah melakuna perjalanan selama lima jam lebih melewati jalan yang
becek, sepatu, celana bahakan baju kami kotor. Jangan harap akan ada kamar
mandi pribadi ataupun toilet di Baduy! Semua aktivitas
yang berhubungan dengan air akan dilakukan disungai. Sungai ini yang menjadi
penghidupan bagi masyarakat baduy.
Betapa
damainya hati ini ketika melihat air mengalir. Mungkin, karena di sanalah kita
mendapatkan energi baru, semangat baru. Air
memberikan secercah jalan kehidupan. Suku Baduy sangat menghormati alam. Mereka
berpendapat, jika mereka baik dengan alam maka alam akan lebih baik kepada
mereka.
Setelah
membersihkan badan, saya menuju rumah Yayat. Rumah yang akan menjadi penginapan
saya untuk semalam ini. Rumah-rumah suku baduy terbuat dari bambu dan kayu tanpa dipaku. Lantainya terbuat dari
banbu yang dipecah-pecah atau biasa disebut amben. Pada umumnya lelaki dari
suku Baduy bermatapencaharian sebagai petani, sedangkan perempuannya bekerja
sebagai pengrajin kain tenun di rumah mereka masing-masing.
Di
rumah Yayat, ransel saya buka. Saya terkejut ketika melihat isi dalam ransel.
Semua bekal yang saya bawa semuanya basah. Baju, pakaian dalam, anduk dan
sweater tidak bisa saya pakai. Hanya sarung yang tidak basah. Akhirnya saya
mengganti celana dengan sarung, dan membiarkan baju yang basah tetap menempel
di badan saya.
Rembulan
kini menampakan wajahnya, bintang-bintang bertengger dalam bentangan awan
hitam. Suasana sangat hening. Gelap. Hanya nyala api kecil dari damar yang
menjadi penerang kami di malam ini. Bagi anda yang belum pernah kesini, Jangan
berfikir akan ada lampu neon yang akan menerangi malam anda!
Yayat
kemudian menyalakan tungku, apinya yang besar memberikan terang ke sudut-sudut
ruangan. Hanat kini mulai mengusir dingin.
“Kaos
Baduy! Kaos Baduy!” Lelaki tua dengan gembolan besar di pundaknya menawarkan
kaos. Kebetulan sekali, bekal baju dari rumah yang saya bawa basah semua.
“Sabaraha mang?” Saya bertanya dengan
bahasa Sunda.
“Tilu puluh lima rebu,” jawabnya.
![]() |
| Ini baju yang gue beli di Baduy |
Akhirnya saya membeli
satu kaos berwarna hitam, bertuliskan “Leuit Baduy” di depannya, dan peta
menuju Baduy Dalam di belakangnya. Dengan harga tiga puluh ribu. “Alhamdulillah... nggak jadi tidur pake
baju basah.”



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih untuk komentarnya