Dari
Penumpang Gelap Hingga Monas
“Tiketnya sudah habis,
Mas,” ucap penjaga loket tiket kereta api Stasiun Serang. Sia-sia saja tadi Rudi
berlari dari perempatan Pocis.
“Trus gimana donk?”
tanya Rudi lemas.
“Silahkan naik
kendaraan lain aja, mas!”
“Sudah, naik saja! nanti
bayar di atas, mas!” ucap seorang ibu-ibu yang juga kehabisan tiket.
“Menarik juga usulnya,” ucap Rudi dalam hati sembari melayangkan
senyum manis dan sedikit anggukan kepala ke ibu-ibu tadi. Apa yang akan terjadi
ketika petugas mendapati seseorang di kereta tampa tiket? Apa hukuman yang akan
diberikan? Apakah akan di lempar dari gerbong ketika kereta sedang berjalan?
Dipenjara? Atau??? Pertanyaan-pertanyaan itu terus melayang-layang di
kepalanya. Yang pasti ini akan menjadi petualangan yang menarik!
“Penumpang gelap”
status itu sekarang tersemat pada Rudi. Jantungnya selalu berdebar keras saat
melihat security berlalu-lalang di
gerbong. Perasaan waswas menghantuinya selama perjalanan. Kereta jurusan
Serang-Angke hari itu sangat padat, semua penumpang yang naik dari stasiun
Serang berdiri. Di stasiun Rangkasbitung sebenarnya banyak penumpang yang
turun, di dekatnya berdiri ada kursi yang kosong. Namun hatinya menolak untuk
duduk, ada perasaan tidak enak kepada mereka yang bayar ketika hendak duduk,
lantaran stusnya sebagai penumpang gelap. Ia kemudian nongkrong di ruangan
antar gerbong, tepat di samping pintu yang terbuka. Menikamti tiupan angin
kencang dan suara rel bersama roda
kereta yang beradu.
Rembulan menemani
langkah Rudi menyusuri stasiun Angke ke pasar Angke, tak ingin berlama-lama ia
menerusan perjalanannya ke Pasar Senen, ada urusan yang harus ia selesaikan.
Tiba di Senen pukul 00.30 ia memutuskan
untuk beristirahat di Masjid Fataa, di samping hotel Fraster Residen. Ternyata
bukan hanya dirinya yang ikut beristirahat di Masjid Fataa, sudah ada beberapa
musafir yang tergolek lemas, beristirahat. Sebelum beristirahat ia mengambil
air wudhu dan menunaikan sholat Isya. Kini ia siap tidur, ditemani
nyamuk-nyamuk masjid.
Adzan Subuh
berkumandang, Rudi segera bangun dan berwudhu.
![]() |
| Iseng aja upload |
Ditemani selembar roti
sandwich dan sebotol air mineral, jemari Rudi sibuk menyentuh keyboard
laptopnya. Pagi yang berbeda, sarapan di 7-Eleven bersama wi-fi gartis dan
sepasang petani di Menteng, dengan latar matahari bulat bersar berwarna
keemasan menjadikan sepasang petani itu menjadi siluet yang indah, air mancur
otomatis yang menyiram taman di sekelilingnya menambah romansa semakin elok.
Hiruk-pikuk lalu lintas, deru mesin mobil dan tiupan peluit polisi menjadi
melodi Senin pagi Rudi di Ibu Kota.
***
Setelah urusannya selesai, Rudi memutuskan untu berkunjung ke
Tugu Monumen Nasional (Monas). Tugu yang dibangun pada bulan Agustus tahun 1959
ini, keseluruhan bangunannya dirancang oleh para arsitek asal Indonesia yaitu
Soedarsono, Frederich Silaban dan Ir. Rooseno. Kemudian diresmikan oleh
Presiden pertma Indonesia, Soekarno, pada tanggal 17 Agustus 1961. Dan mulai
dibuka untuk umum sejak tanggal 12 Juli 1975.
![]() |
| Dalam perjalanan menuju Monas |
Dari gedung PPM
Manajemen Rudi berjalan kaki, melewati MNC Tower, gedung-gedung perkantoran
serta hotel. Jaraknya tidak begitu jahun kira-kira hanya 500 meter. Sebenrnya
bisa saja dia naik busway dari Kwitang atau Senen, lalu turun di Gambir 1 atau
Gambir 2. Namun, ia lebih suka berjalan kaki meski matahari siang itu sangat
terik. Alhasil, keringat bercucuran di sekitar kening dan lehernya. Sesekali
terlihat tangannya menyeka keringat di lehernya dengan slayer Baduy yang dia
bawa.
Tiba di tanam Monas Rudi
disambut pedagang yang manjajakan dagangnnya, kaos, gantungan kunci dan minuman
ringan menjadi komoditi utama disini. Taman Monas atau wilayah taman hutan kota
di sekitar Monas dahulu dikenal dengan nama Lapangan Gambir. Kemudian sempat
berubah nama beberapa kali menjadi Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan
Monas dan kemudian menjadi Taman Monas. Suara
lagu kemerdekaan samar-samar mulai terdengar. Ia mempercepat langkah kakinya
setelah melihat jam di layar hand phonenya, jam 14.40. “wah gawat, 20 menit lagi tutup,” pikirnya. Jika ia tidak sampai ke
loket tiket dalam 20 menit ia tidak akan diperbolehkan masuk.
![]() |
| Tiket masuk Monas |
Di sepanjang perjalanan
matanya tidak pernah lepas dari bangunan bertinggi 132 meter yang menjadi ikon
Kota Jakarta ini. Sampai akhirnya Rudi sampai di pintu masuk di sekitar patung
Pangeran Diponegoro kemudian turun ke loket tiket sebelum Monas ditutup. Tanganya
merogoh uang Rp.5000 dari kantong celana jeans dan menukarkanya dengan tiket. Sekarang
dia berjalan di lorong bawah tanah menuju tugu yang keseluruhannya di lapisi
marmer itu.
Antrean panjang
mengular di pintu lift Monas, hari ini banyk sekali pengunjg yang ingin ke
puncak monas. Malas mengantre Akhirnya Rudi memutuskan untuk naik ke Cawan. Di
atas Cawan angin bertiup dengan kencang. Suasana panas di Monas hari itu ...
tidak ada banyak pemandangan indang yang bisa dinikmati, selain gedung-gedung
beton pencakar langit. Hanya angin yang berhembus kencang menjadi pelipur sesal
yang ia nikamti. “Hari ini Cuma di Cawan,
lain hari aku harus ke puncak Monas,” harapnya dalam hati.
![]() |
| Di Cawan, dengan background Masjid Istiqlal |
Sebelum turun, Rudi
menyampatkan berfoto di atas Cawan dengan background
Masjid Istiqlal. Ckrek..., ckrek.... Momen kunjungannya kali ini ke Monas sudah
tersimpan dalam beberapa file berukuran mega
pixel. Ia kemudian menuruni anak tangga yang melingkar. Antrean pengunjung
yang ingin ke puncak monas masih saja mengular. Di luar Tugu Monas ia sudah
ditunggu fotografer.
“Mas, foto, mas?” Kata
sang fotografer sambil menyodorkan
sample foto yang sudah dicetak.
“Oke deh, di sana yah!”
jawab Rudi sembari menunjuk seorang manusia batu.
Rudi kemudian berdiri
di samping kanan manusia batu berwarna emas yang ia tunjuk. Setelah difoto dan
hasilnya dicetak. Ia merogoh koceknya,
mengluarkan dompet dan mengambil uang Rp.15.000 untuk diberikan kepada juru
foto yang tadi memotretnya.
Jakarta, 02 Juni
2014
![]() |
| Foto dengan manusia batu / emas di depan Monas |







Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih untuk komentarnya