Wilujeng Sumping. Terima kasih sudah mampir ke Blog ini. Blog ini hanya untuk belajar menulis. Silahkan berikan komentar jika senang dengan isi Blog ini !

Post Page Advertisement [Top]



Dari Penumpang Gelap Hingga Monas
“Tiketnya sudah habis, Mas,” ucap penjaga loket tiket kereta api Stasiun Serang. Sia-sia saja tadi Rudi berlari dari perempatan Pocis.
“Trus gimana donk?” tanya Rudi lemas.
“Silahkan naik kendaraan lain aja, mas!”
“Sudah, naik saja! nanti bayar di atas, mas!” ucap seorang ibu-ibu yang juga kehabisan tiket.
Menarik juga usulnya,” ucap Rudi dalam hati sembari melayangkan senyum manis dan sedikit anggukan kepala ke ibu-ibu tadi. Apa yang akan terjadi ketika petugas mendapati seseorang di kereta tampa tiket? Apa hukuman yang akan diberikan? Apakah akan di lempar dari gerbong ketika kereta sedang berjalan? Dipenjara? Atau??? Pertanyaan-pertanyaan itu terus melayang-layang di kepalanya. Yang pasti ini akan menjadi petualangan yang menarik!
“Penumpang gelap” status itu sekarang tersemat pada Rudi. Jantungnya selalu berdebar keras saat melihat security berlalu-lalang di gerbong. Perasaan waswas menghantuinya selama perjalanan. Kereta jurusan Serang-Angke hari itu sangat padat, semua penumpang yang naik dari stasiun Serang berdiri. Di stasiun Rangkasbitung sebenarnya banyak penumpang yang turun, di dekatnya berdiri ada kursi yang kosong. Namun hatinya menolak untuk duduk, ada perasaan tidak enak kepada mereka yang bayar ketika hendak duduk, lantaran stusnya sebagai penumpang gelap. Ia kemudian nongkrong di ruangan antar gerbong, tepat di samping pintu yang terbuka. Menikamti tiupan angin kencang dan suara rel bersama roda  kereta yang beradu.
Rembulan menemani langkah Rudi menyusuri stasiun Angke ke pasar Angke, tak ingin berlama-lama ia menerusan perjalanannya ke Pasar Senen, ada urusan yang harus ia selesaikan. Tiba di  Senen pukul 00.30 ia memutuskan untuk beristirahat di Masjid Fataa, di samping hotel Fraster Residen. Ternyata bukan hanya dirinya yang ikut beristirahat di Masjid Fataa, sudah ada beberapa musafir yang tergolek lemas, beristirahat. Sebelum beristirahat ia mengambil air wudhu dan menunaikan sholat Isya. Kini ia siap tidur, ditemani nyamuk-nyamuk masjid.
Adzan Subuh berkumandang, Rudi segera bangun dan berwudhu.
Iseng aja upload
Ditemani selembar roti sandwich dan sebotol air mineral, jemari Rudi sibuk menyentuh keyboard laptopnya. Pagi yang berbeda, sarapan di 7-Eleven bersama wi-fi gartis dan sepasang petani di Menteng, dengan latar matahari bulat bersar berwarna keemasan menjadikan sepasang petani itu menjadi siluet yang indah, air mancur otomatis yang menyiram taman di sekelilingnya menambah romansa semakin elok. Hiruk-pikuk lalu lintas, deru mesin mobil dan tiupan peluit polisi menjadi melodi Senin pagi Rudi di Ibu Kota.
***
Setelah urusannya selesai, Rudi memutuskan untu berkunjung ke Tugu Monumen Nasional (Monas). Tugu yang dibangun pada bulan Agustus tahun 1959 ini, keseluruhan bangunannya dirancang oleh para arsitek asal Indonesia yaitu Soedarsono, Frederich Silaban dan Ir. Rooseno. Kemudian diresmikan oleh Presiden pertma Indonesia, Soekarno, pada tanggal 17 Agustus 1961. Dan mulai dibuka untuk umum sejak tanggal 12 Juli 1975.
Dalam perjalanan menuju Monas
Dari gedung PPM Manajemen Rudi berjalan kaki, melewati MNC Tower, gedung-gedung perkantoran serta hotel. Jaraknya tidak begitu jahun kira-kira hanya 500 meter. Sebenrnya bisa saja dia naik busway dari Kwitang atau Senen, lalu turun di Gambir 1 atau Gambir 2. Namun, ia lebih suka berjalan kaki meski matahari siang itu sangat terik. Alhasil, keringat bercucuran di sekitar kening dan lehernya. Sesekali terlihat tangannya menyeka keringat di lehernya dengan slayer Baduy yang dia bawa.
Tiba di tanam Monas Rudi disambut pedagang yang manjajakan dagangnnya, kaos, gantungan kunci dan minuman ringan menjadi komoditi utama disini. Taman Monas atau wilayah taman hutan kota di sekitar Monas dahulu dikenal dengan nama Lapangan Gambir. Kemudian sempat berubah nama beberapa kali menjadi Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas dan kemudian menjadi Taman Monas. Suara lagu kemerdekaan samar-samar mulai terdengar. Ia mempercepat langkah kakinya setelah melihat jam di layar hand phonenya, jam 14.40. “wah gawat, 20 menit lagi tutup,” pikirnya. Jika ia tidak sampai ke loket tiket dalam 20 menit ia tidak akan diperbolehkan masuk.
Tiket masuk Monas
Di sepanjang perjalanan matanya tidak pernah lepas dari bangunan bertinggi 132 meter yang menjadi ikon Kota Jakarta ini. Sampai akhirnya Rudi sampai di pintu masuk di sekitar patung Pangeran Diponegoro kemudian turun ke loket tiket sebelum Monas ditutup. Tanganya merogoh uang Rp.5000 dari kantong celana jeans dan menukarkanya dengan tiket. Sekarang dia berjalan di lorong bawah tanah menuju tugu yang keseluruhannya di lapisi marmer itu.
Antrean panjang mengular di pintu lift Monas, hari ini banyk sekali pengunjg yang ingin ke puncak monas. Malas mengantre Akhirnya Rudi memutuskan untuk naik ke Cawan. Di atas Cawan angin bertiup dengan kencang. Suasana panas di Monas hari itu ... tidak ada banyak pemandangan indang yang bisa dinikmati, selain gedung-gedung beton pencakar langit. Hanya angin yang berhembus kencang menjadi pelipur sesal yang ia nikamti. “Hari ini Cuma di Cawan, lain hari aku harus ke puncak Monas,” harapnya dalam hati.
Di Cawan, dengan background Masjid Istiqlal
Sebelum turun, Rudi menyampatkan berfoto di atas Cawan dengan background Masjid Istiqlal. Ckrek..., ckrek.... Momen kunjungannya kali ini ke Monas sudah tersimpan dalam beberapa file berukuran mega pixel. Ia kemudian menuruni anak tangga yang melingkar. Antrean pengunjung yang ingin ke puncak monas masih saja mengular. Di luar Tugu Monas ia sudah ditunggu fotografer.
“Mas, foto, mas?” Kata sang fotografer  sambil menyodorkan sample foto yang sudah dicetak.
“Oke deh, di sana yah!” jawab Rudi sembari menunjuk seorang manusia batu.
Rudi kemudian berdiri di samping kanan manusia batu berwarna emas yang ia tunjuk. Setelah difoto dan hasilnya dicetak. Ia  merogoh koceknya, mengluarkan dompet dan mengambil uang Rp.15.000 untuk diberikan kepada juru foto yang tadi memotretnya.


Jakarta, 02 Juni 2014

Foto dengan manusia batu / emas di depan Monas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih untuk komentarnya

Bottom Ad [Post Page]