Terminal Ciboleger
#Baduy 5
Setelah
menempuh perjalanan menggunakan elf selama kurang lebih dua jam, akhirnya kami
sampai di terminal Ciboleger. Ciboleger merupakan Pintu masuk sekaligus desa
perbatasan dengan wilayah Baduy Luar dimana kendaraan yang kami tumpangi hanya
diperbolehkan sampai disini. Untuk selanjutnya diteruskan dengan berjalan kaki
menuju Baduy Dalam. Sebelum turun dari elf saya sempat berfoto dengan background patung orang Baduy yang
berada di tengah-tengah terminal. Saya tidak ingin memori perjalannya saya
hilang begitu saja.
Disini
ada banyak porter yang merupakan Suku
Baduy yang menawarkan jasa mengangkut barang sekaligus menjadi tour guide. Ciri khasnya memakai pakaian
serba putih atau hitam polos di sertai ikat kepala dan tidak memakai alas kaki.
Mereka bisanya menggunakan bahasa Sunda. Tapi, jangan khawatir bagi yang tidak
bisa berbahasa Sunda, mereka juga sudah terbisa dengan bahasa Indonesia. Jasa mereka
dipatok mulai dari harga dari Rp.25.000-Rp.30.000 per tas untuk sekali jalan.
Tak
tahan dengan mata yang gatal dan perih akibat debu yang masuk ke mata, saya
membeli obat tetes mata di sebuah mini market, di Ciboleger masih terdapat mini market. Ini adalah mini market satu-satunya yang ada di
daerah Baduy. Jadi, bagi anda yang tidak membawa bekal untuk di perjalanan
nanti, sebaiknya siapkan disini!
***
Di sekeliling terminal Ciboleger
terdapat banyak warung yang menjual pernak pernik kerajinan tangan khas Baduy
seperti syal, batik, gelang, gantungan kunci dan tas. Ada juga warung nasi dan mini market. Cuaca saat itu lumayan
panas.
Di sebuah warung nasi sederhana kami
sudah ditunggu Yayat (18 th) dan Idong (19 th). Mereka adalah warga kampung
Baduy Dalam yang akan memandu kami menuju kampung Cibeo, Baduy Dalam.
Di warung nasi sederhana kami kami
mengisi perut kami yang mulai keroncongan. Dengan makanan yang sudah disiapkan.
Menunya
dengan tempe, telut rebus, plus tahu dan
ditambah sedikit sambal cukup untuk mengisi perut yang sudah keroncongan.
![]() |
| Berpose di warung nasi sebelum makan |
Perut
sudah terisi penuh, saya kemudian berbincang-bincang dengan teman seperjalanan
yang lain, yang belum sempat berkenalan.
“A,
tongkat, A, tongkatnya, A?” seorang anak perempuan tiba-tiba berteriak didepan
saya, menawarkan tongkatnya agar saya beli.
Anak
perempuan itu bernama Nia. Dia masih menggunakan kaos olahraga sekolahnya,
berwarna orange. Nia baru saja pulang
sekolah. Gadis cilik ini masih duduk di kelas empat SD. Setiap hari sehabis
pulang sekolah Nia selalu berjualan tongkat, dalam sehari dia bisa mendapatkan
uang 60-70 ribu. Katanya sih uangnya
untuk jajan. Saya kemudian membeli tongkatnya, harganya Rp.3000 per tongkat.
Diskon menjadi Rp.5000 jika membeli dua. Tongkat ini sepertinya akan sangat
berguna untuk saya di perjalanan nanti.
Sebelum
berangkat kami di bagi menjadi tiga kelompok. Saya berada di kelompok 1, berisikan
13 orang: Ardian Je, Syifa Shofia, Suheli, M.Syarifudin, Indra Kesuma, Feni Nur
Hidayati, Dea Khadiza, Eneng Rani, Dina Yuliana, Dian Andriani, Erma Rohmawati
dan Adawiyah. Nantinya setipa kelompok berjalan dengan jarak 30-50 meter dari
kelompok lain.
Perjalanan bertemu Suku Baduy dimulai! Dari sini, kami akan trekking menuju pemukiman Baduy Dalam. Siapkan stamina, karena jarak tempuhnya bisa mencapai liam jam lebih!
Perjalanan bertemu Suku Baduy dimulai! Dari sini, kami akan trekking menuju pemukiman Baduy Dalam. Siapkan stamina, karena jarak tempuhnya bisa mencapai liam jam lebih!
![]() |
| Kelompok 1 siap berangkat!!! |




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih untuk komentarnya