Wilujeng Sumping. Terima kasih sudah mampir ke Blog ini. Blog ini hanya untuk belajar menulis. Silahkan berikan komentar jika senang dengan isi Blog ini !

Post Page Advertisement [Top]



Terinspirasi Aoyama Gosho
Oleh : Rudi Rustiadi
Ini foto gue pas lagi nyari inspirasi

“Kalau sudah besar mau jadi apa anak-anak?” Tanya guru SD saya waktu di kelas. Sebagian besar siswa-siswi menjawab mereka ingin menjadi seorang dokter, polisi atau pilot. Tidak pernah ada seorang anak yang bercita-cita menjadi seorang  penulis. Itu juga terjadi kepada saya, tak terpikirkan oleh saya untuk menjadi seorang penulis ketika masih duduk di sekolah dasar, namun hal itu berubah ketika saya mulai duduk madrasah tsanawiah, menjadi santri di pondok pesantren Daar El-Qolam. Menjadikan penulis sebagai profesi dulu dipandang sebelah mata, padahal profesi sebagai penulis juga sama dengan profesi-profesi lainnya, jika kita tekuni maka kita akan mendapatkan hasilnya, materi dan kebahagiaan jiwa.
Keinginan saya menjadi seorang penulis berawal ketika saya menjadi seorang santri di pondok pesantren moderen, Daar El-Qolam. Menjalani kehidupan sebagai seorang santri banyak dihabiskan untuk belajar dan mengaji. Kehidupan di pondok sangat terbatas, apalagi dari segi hiburan, tidak ada TV, tidak bisa menonton konser musik atau pergi ke bioskop, yang ada hanya radio yang di putar oleh ustadz. Acaranya pun terbatas hanya berita dan acara musik islami, kosidah atau marawis. Kegiatan yang monoton setip harinnya menjadikan saya mengalami kebosanan. Karena para santri dilarang untuk keluar dari komplek pondok pesantren. Untuk menghilangkan kebosanan tersebut bisanya disalurkan ke kegiatan olahraga, salah satunya dengan bermain bola. Saat bermain bola saya bisa menghilangkan kebosanan tersebut. Sampai akhirnya salah satu teman meminjami saya sebuah komik karangan Aoyama Gosho, Detective Conan. 
Pada saat sekolah dulu saya adalah orang yang sangat malas membaca. Namun perlahan semuanya berubah ketika saya pertama kali membaca komik Detective conan. Cerita yang menarik dan tidak mudah menebak jalan ceritanya menjadi pemicu adrenalin membaca saya terpacu. Komik Detective Conan ketika itu menjadi candu untuk saya. Ketika selesai membaca satu episode, timbul hasrat untuk segera melanjutkan membaca episode-episode selanjutnya. tokoh ciptaan Aoyama Gosho ini sukses membuat saya terbius dengan cerita, animasi, dan pastinya terpukau dengan ketegangan di setiap adegannya.
Namun untuk membaca sebuah komik atau buku fiksi lainnya di pondok pesantren tidak semudah membalik telapak tangan. Karena komik atau buku fiksi lainnya merupakan salh satu barang yang ‘diharamkan’. Alasannya dapat menggangu konsentrasi belajar santri sehingga dikhawatirkan santri tidak fokus dalam belajar. Tidak hanya itu tantangan lain yang juga menghadang dari proses mendapatkannya, untuk mendapatkanya bisa diibaratkan seperti pribahasa, mencari jarum di tumpukan jerami. Karena komik adalah barang ‘terlarang’ maka tidak semua santri memilikinya, hanya santri yang mempunyai keberanian lebih yang memilikinya, santri yang sering melangar peraturan atau bisa dibilang santri nakal. Namun untuk melampiaskan hasrat saya kepada komik. Maka terpaksa saya berteman dengan santri nakal tersebut untuk bertukar atau meminjam komik.
Kecanduan saya terhadap komik Detective Conan perlahan merambat kesegala jenis komik dan terus merambat hingga buku fiksi tidak bergambar, novel atau cerpen. Membaca novel ternyata lebih menarik saya harus berimajinasi menggambarkan adegan per adengan yang sedang saya baca. Dan itu menjadi kenikmatan tersendiri untuk saya, masuk dan menyelami karakter yang ada di sebuah novel yang sedang saya baca.
Kecanduan saya terhadap buku fiksi semakin akut. Hingga saya membacanya di kelas, ketika jam pelajaran sekolah. Di masjid, ketika membaca Al-Qur’an. Hingga sempat beberapa kali dihukum oleh ustadz, meminta tanda tangan seluruh ustadz, dijemur hingga dibotak. Namun semua itu tidak menyurutkan kegemaran saya membaca buku fiksi, hingga saat menjelang Ujian Akhir Nasional (UAN) dikarenakan harus fokus belajar, saya harus berhenti dari rutinitas saya membaca buku fiksi. Dalam masa rehat membaca itulah timbul keinginan untuk menjadi seorang penulis buku fiksi.      
Gendre yang paling saya gemari dalam membaca adalah gendre detektiv / misteri, seperti karya-karya Gosho Aoyama dan Sir Arthur Conan Doyle. Saya terpukau oleh kecerdasan seorang yang dapat  menciptakan cerita serumit dan mungkin bagi sebagian orang tidak mungkin terpikirkan. Dengan imajinasi ‘gila’ yang dia tumpahkan kedalam tulisan berhasil menginspirasi saya untuk mengikuti jejaknya menjadi seorang penulis fiksi. Karyanya bukan hanya menjadi bacaan dikala senggang namun telah menjadi legenda di Jepang.
Motivasi saya menjadi seorang penulis jugalah yang akhirnya menjadi alasan saya bergabung dengan Rumah Dunia dengan mengikuti Kelas Menulis Rumah Dunia pada angkatan ke-23. Berguru kepada seorang yang juga seorang penulis hebat, Gol A Gong. Entah berapa banyak novel, puisi dan buku yang telah ia ciptakan. Salah satu novel yang terkenal yang juga menjadi master piece, Balada si Roy, adalah salah satu novel yang pernah saya baca. Dengan inspirasi yang di tularkan Aoyama Gosho dan bimbingan dari Gol A Gong semakin memantapkan niat saya menjadi seorang penulis. Dengan pena setiap celotehan menjadi bermakna, Jika awalnya saya hanya berperan sebagai penikmat tulisan orang, maka sekarang saya ingin menjadi penghasil karya yang dinikmati banyak orang.
Gol A Gong memberikan banyak ilmu dan motivasi dalam menulis. Menjadi seorang penulis berarti belajar menjadi orang yang sabar. Tak jarang naskah yang kita ajukan ke sebuah penerbitan mendapatkan penolakan. Namun, penolakan itu ia jadikan pelajaran bahwa ia harus lebih bisa menghargai pilihan orang lain. Menurutnya, jika naskah kita ditolak, itu bukan semata karena tulisan kita jelek. Terkadang, bisa terjadi karena tidak sesuai dengan selera editornya. Namun penolakan bukan akhir dari segalanya. Sebaliknya, ia menganggap penolakan itu adalah cara Tuhan menguatkan mentalnya sebagai seorang penulis. Hal itu mengasah komitmennya dalam dirinya untuk menjadi seorang penulis. Jadi, penolakan jangan membuat mental kita down. Kita bisa mencari segera mencari penerbit lain yang kira-kira cocok dengan naskah yang sudah ditolak. Gol A Gong juga menyarankan agar calon penulis atau para penulis muda jangan ragu untuk mengirimkan karyanya kepada penerbit mayor. Dan, jangan merasa dihantui dengan status sebagai ‘penulis pemula’. Karena semua penulis terkenal di luar sana, suatu hari dulu pun pernah menjadi seorang pemula.
Yup, menjadi penulis itu memang bukan pekerjaan mudah. Setidaknya menurut seorang Gol A Gong. Butuh mental sekeras baja, semangat yang pantang menyerah, komitmen yang kuat, disiplin yang tinggi, dan kesabaran luar biasa. Itulah yang dia tekankan pada orang-orang yang ingin terjun ke dunia kepenulisan seperti dirinya.



Penulis, Rudi Rustiadi lahir di Serang 1989 pada bulan Juli (Cancer), merupakan alumni pondok pesantren  Daar El-Qolam angkatan 32 (Green Generation). Sekarang aktif mengikuti kelas menulis Rumah Dunia angkatan ke-23. Ingin lebih intim bisa berinteraksi di : 08777-10-7373-0 | rudirustiadi_mu@yahoo.com | @rudirustiadi (twitter) | Bukan Rudi Rustiadi (facebook).


2 komentar:

  1. ooo, yg ini Rudi teh... yg td sore main bola! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, iya, di follow donk blognya. salam kenal kalu belum kenal.

      Hapus

Terima kasih untuk komentarnya

Bottom Ad [Post Page]