Bahaya
lazimnya merupakan sesuatu yang harus hindari.
Namun tidak
untuk pemuda ini.
Bahaya justru
menjadi jalan yang dia pilih untuk berthan hidup.
Seorang pemuda sedang
bercermin merapihkan pakaiannya, pakaian serba hijau army dengan lengan panjang nampak pas membungkus tubuhnya, celana
berkantong besar di samping lutut menutupi kakinya yang tidak jenjang, sebuah boot setinggi lutut melengkapi
penampilannya hari itu, tidak ketinggalan sebuah topi menutupi kepalanya yang
ditumbuhi rambut gondrongnya. Sebuah tongkat sudah dia siapkan. Itu akan menjadi
senjatanya untuk menaklukan bahaya yang akan dia hadapi. Hari ini dia telah
siap untuk pergi ke hutan, mencari dan membawa pulang sesuatu yang bagi
sebagian orang dapat membahayakan dirinya.
Hutan
yang lebat dan tidak banyak terjamah oleh manusia merupakan sumber mata
pencahariannya, karena disanalah dia bisa menenukan bahaya yang akan menjadi
penopang hidupnya. Matanya harus jeli melihat pergerakan sekecil apapun, karena
mungkin itulah yang dicarinya. Jika dia tak melihatnya, maka dia akan mencarinya
ke rimbunya semak-semak di tengah hutan, bahkan tak jarang tangannya yang kurus
harus mengali tanah untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
Jika
dia telah menemukan apa yang dia cari, maka perlahan dia akan mengendap-endap
agar kehadirannya tidak di ketahui dan memudahkannya menangkap bahayanya. Namun
jika kehadirannya di ketahui maka dia harus lebih waspada. Sebuah tongkat
bercagak yang telah dia siapkan akan menjadi senjata.
Setelah
mendapatkan bahaya itu dia akan membawanya pulang. Kemudian bahaya itu dia
latih untuk menjadi sahabatnya, menemaninya beratraksi, ditonton oleh orang
yang kemudian akan memberikan uang saweran dari hiburan yang dia suguhkan. Dari
saweran itulah dia mendapatakan rupiah
untuk mengisi perutnya dan memenuhi kebutuhan lainnya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih untuk komentarnya