Wilujeng Sumping. Terima kasih sudah mampir ke Blog ini. Blog ini hanya untuk belajar menulis. Silahkan berikan komentar jika senang dengan isi Blog ini !

Post Page Advertisement [Top]



Jembatan Gajebo
#Baduy 7
Di atas jembatan Gajebo yang licin, hujan terus mengguyur
Kami melintasi sebuah jembatan di Desa Gajebo. Jembatan yang terbuat dari bambu ini hanya digantung dan diikat oleh tali yang terbuat dari ijuk. Tidak di paku. Tidak ada juga tiang penyangga. Hampir semua jembatan di baduy dibuat seperti ini. Namun jembatan ini terbukti kuat walau pun eman sampai tujuh orang dari kami melintasi jemabatan ini bersamaan. Tapi jembatan ini tidak roboh. Hanya goyangan yang dia tunjukan ketika kami melintasinya. Goyangan-goyangan kecil itu membuat saya bergidik, apalagi ketika melihat ke bawah, derasnya air sungai karena hujan membuat saya semakin takut, ditambah dengan gemuruh arusnya yang memekakan telinga. Untung lah ada pegangan bambu di samping kiri dan kannanya untuk berpegangan agar kami tidak terpeleset.
Gaya dulu ah, di atas bukit. pemandangan yang keren.
 

Setelah melewati jembatan ini kita akan melewati hutan rimba, melewati jalanan menanjak dan menurun. Hujan deras disertai angin kencang semakin membuat perjalanan melewati tanjakan bukit terasa semakin berat. Perjalanan sangat melelahkan. Tapi, hutan yang bebas sampah, udara yang dingin dan pemandangan perbukitan bak permadani hijau raksasa membuat kita tidak akan pernah bosan.

 
Berjalan di atas tanah merah yang becek
Sungguh… perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan, kini kami harus mendaki bukit yang terjal dan menuruni turunan yang curam. Dengan kemiringan medan yang bervariasi. Kami harus eksta hati-hati. Jalanan yang becek, kontur tanah yang lembek, batu-batu yang basah dan diselimuti lumut yang menjadi pijakan kaki kami akan sangat licin, dan itu akan ada disepanjang perjalanan. Kami harus melangkahkan kaki kami sangat pelan. Pintar melilah-milih pijakan yang kuat, agar kami tidak terpeleset dan terjatuh.
Langkah kaki Gue


Betapa indahnya perkampungan yang saya tinggalkan di kejauhan sana. Betapa indahnya perkampungan itu setelah perjalanan panjang, mulai dari mendaki bukit-bukit terjal, melewati anak sungai yang deras dan tetntunya rurunan yang curam serta jalan yang becak. Perjalanan panjang yang menguras tenaga dan juga melelahkan.
 Namun rasa lelah dan cape hilang ketika meihat hamparan permadani hijau dari atas gunung, melewati beberapa anak sungai yang jernih. Hanya syukur yang bisa kita ucapkan. “Ya Allah... sungguh betapa indahnya alam ciptaan-Mu.” Percaya! kita akan terkesima jika kita bisa melihat dan merasakan kekuasaan Allah SWT itu langsung. Sendiri.
Setelah melewati itu semua, kita bisa berjalan ke berbagai desa di Baduy Dalam seperti Cibeo, Cikitawarna dan Cikeusik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih untuk komentarnya

Bottom Ad [Post Page]