Wilujeng Sumping. Terima kasih sudah mampir ke Blog ini. Blog ini hanya untuk belajar menulis. Silahkan berikan komentar jika senang dengan isi Blog ini !

Post Page Advertisement [Top]



#Baduy 3

Dari kiri: Aly Sa'id, Syarif, Gue, Jack Alawi. Lagi naik kreta


Suara rel besi beradu dengan roda kereta menjadi melodi yang mengiringi perjalan saya dari stasiun Serang ke stasiun Rangkasbitung. Gerbong kereta api jurusan Serang-Rangkasbitung bergerak perlahan meninggalkan Serang.

Ini adalah kali kedua saya menyambangi stasiun ini. Ketaika pertama kali usia saya masih tujuh tahun, bapak mengajak saya jalan-jalan naik kereta api dari Serang ke Merak sebagai hadiah sunatan saya.

Pukul  06.55 WIB. Saya naik kereta di gerbong lima. Penumpang kereta jurusan Serang-Rangkasbitung masih sepi hanya kami, peserta Wisata Budaya Baduy dan beberapa orang saja yang naik. bangku panjang berhadap-hadapan banyak yang kosong, tidak terisi.

Pukul 07.06 WIB. Kereta berhenti di stasun Walantaka. Tidak ada yang naik ke gerbong kami. Titik-titik air mulai berjatuhan dari langit. Pukul 07.20 WIB kereta kembali berhenti di stasiun Cikeusal sedikit-demi sedikit bangku kosong mulai terisi. Pukul 07.29 WIB kereta berhenti di stasiun Catang. Hawa dingin mulai menyelimuti tubuh ini. Cuaca yang dingin karena hujan ditambah dua AC dalam gerbong membuat tubuh ini sedikit menggigil.

 Pukul 07.41 WIB kereta kembali berhenti, untuk mengangkut penumpang di stasiun Jambu Baru. Di sini gerbong yang kami tumpangi mulai ramai dengan para pedagang yang menjajakan dagangannya, suasana berubah menjadi sumpek dan semerawut. Aroma pasar mulai tercium, berbagai jenis makan yang di jajak pedagang mengeluarkan aroma yang bercampur menjadi satu mulai dari nasi uduk, tales rebus, ikan teri sampai pete dan ikan asin ada di gerbong ini.

Pukul 07.59 WIB kami sampai di stasiun Rangkas Bitung. Kami sempat menunggu rombongan lain yang belum datang disepanjang teras  stasiun, ditengah ramainya lalu lalang para pengguna kereta api. Terlihat juga beberapa orang yang sedang menunggu kereta api. Waktu luang ini saya gunakan untuk berjejaring sosial, sebagian peserta Wisata Budaya Baduy lainnya juga sibuk dengan gadgetnya, sebagian lain berpose mengabadikan moment di stasiun Rangkasbitung ini. Pada masa lampau, stasiun Rangkasbitung merupakan urat nadi perekonomian masyarakat Banten. Rangkasbitung yang ketika itu merupakan kota industri pertanian sangat bergantung pada kelancaran arus perputaran transportasi untuk membawa hasil perkebunan dan pertanian ke Batavia (Jakarta), dan itu bisa diatasi dengan keberadaan stasiun Rangkasbitung.

2 komentar:

Terima kasih untuk komentarnya

Bottom Ad [Post Page]