Wilujeng Sumping. Terima kasih sudah mampir ke Blog ini. Blog ini hanya untuk belajar menulis. Silahkan berikan komentar jika senang dengan isi Blog ini !

Post Page Advertisement [Top]



#Baduy 2


Sebelum bergabung dengan Rumah dunia dan membaca buku TE-WE (Travel Writer), (KPG, 2012). Saya hanya lah seorang lelaki berusia 24 tahun yang tak bisa jauh dari rumah. Masih berfikir untuk apa berpergian jauh sementara di rumah sendiri sangat nyaman. Namun itu semua berubah seketika ketika membaca kalimat. “Jika kamu ingin hebat, berpetulanglah! Karena dunia milik orang-orang pemberani” (pepatah lama) di buku TE-WE. Ketiak membaca kalimta itu saya merasa tertantang sekaligus merasa “terhina” sebagai seorang lelaki.

Di usia 24 tahun saya belum pernah bertualang sendiri. Secara tidak langsung pepatah di atas jelas menghina saya karena saya belum pernah berpetualang. Mungkinkah seorang yang belum pernah berpetualang adalah seorang pengecut? Perasaan itu langsung terbesit dalam hati ketika membaca pepatah tadi. Maka, kemudian saya mendaftarkan diri menjadi peserta Wisata Budya Baduy untuk membuktikan kepada pepatah tadi bahwa saya bukan seorang pengecut!

Berkumpul dengan orang yang senang melakukan perjalanan jauh dari rumah sendirian seperti Gol A Gong, Jack Alawi dan relawan Rumah Dunia “memaksa” saya untuk berjalan melihat dunia luar, meninggalkan kenyamanan rumah. Namun saya sadar betul waktu itu saya hanya lah anak rumahan, yang tidak  pernah meninggalkan kenyamanna rumah begitu saja. buta akan dunia luar. Maka saya tidak  berpetulang sendiri melainkan beramai-ramai, hitung-hitung latihan untuk suatu saat berpetualang seorang diri.

Ini adalah catatan perjalanan pertama saya. Pergi dari kenyamanan rumah untuk mekalukan perjalanan menikmati master piece ciptaan tuhan atau karya luar biasa mansia yang saya catat.

***

17 Mei 2014. Rasa kantuk masih bergelayut di mata saya Sabtu pagi itu. Saya berusaha bangkit dari kasur ketika jam alarm berbunyi pukul 04.45 WIB.

Pukul 05.15 WIB. saya sudah menunaikan sholat subuh dan packing. Menggendong ransel kecil berisi dua kaus, dua celana dalam, perlangkapan mandi, sarung dan sweater saya siap berangkat ke stasiun Serang.

“Gak kekecilan tuh, tasnya,” tanaya  ibu, sewaktu saya meminta izin pergi.

“Gak, cukup kok, lagian cuma semalam doang,” jawab backpaker amantiran ini dengan PeDe.

“Jangan lupa beliin oleh-oleh, gula kaung,” pinta ibu, setelah saya cium tangnnya.

“Iya, kalo uangnya ada.”

Dengan menggunakan motor Beat berwarna biru, saya berangkat menuju stasiun Serang untuk meeting point bersama sekumpulan orang-orang yang kerjaannya “keluyuran”. Kami berencana berwisata budaya,  mengunjungi perkampungan suku Baduy Dalam. Ini adalah perjalanan pertama saya ke Baduy.

Sampai di stasiun saya sudah di sambut awan gelap, hari itu Serang sedang mendung. Angin bertiup cukup kencang. “Semoga saja tidak turun hujan,” harap saya dalam hati. Stasiun masih sepi, hanya ada beberapa orang yang mengante di loket tiket, di luar pintu gerbang stasiun terlihat para pedagang sedang mempersiapkan dagangannya.

Tiket kreta Serang-Rangkas Bitung

Setelah agak lama menunggu, seorang pria dengan rambut bergelombang panjang sebahu muncul dari pagar teralis besi stasiun, menggunakan celana pendek dan kaos Mancheseter City ia tersenyum, itulah yang kami tunggu, tour leader kami, Jack Alawi.

Setelah meeting point dan do’a selesai. Ardian Je, relawan Rumah Dunia. Membagikan tiket kepada peserta Wisata Budaya Baduy. Selanjutnya kami bergegas menuju gerbong. Sebelumnya kami sempatkan untuk berpose bersama sebelum naik kereta.


Foto bersama peserta Wisata Budaya Baduy di Stasiun Serang

2 komentar:

  1. Potonya ngeblur kaka hoho. Semangat nulis kak Rudy, saya berguru pada mu! :D

    BalasHapus
  2. @ anis, saya yang berguru sama anis, saya kan baru belajar (KMRD 23)
    kalo anis kan udah lama, udah jago.

    BalasHapus

Terima kasih untuk komentarnya

Bottom Ad [Post Page]